Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 36. Kabar Buruk


__ADS_3

Gilang benar-benar kesal, dia tidak menyangka anak buahnya bisa pulang menghadap dirinya dengan tangan kosong. "Apa kau sudah gila? Apa belum pernah melihat diriku yang marah?" teriak Gilang menggama di dalam ruangan yang membuat Reyhan sedikit menjauh.


"Maaf, pak Gilang. Anda sendiri yang menyuruh kami untuk pulang." bela mereka.


"Aku menyuruhmu pulang membawa anakku dan calon istriku. Bukan pulang sekedar membawa diri kalian sendiri. Itu saja kau tidak mengerti." bentak Gilang.


"Tetapi, kami belum menemukan istri dan anak pak Gilang. Lalu, pak Gilang menelpon dan menyuruh kami untuk pulang."


"Lalu, foto siapa yang di kirim temanmu ini? Ini foto anakku, Rendy. Kau sudah bertemu dengannya kan?" ucap Gilang memperlihatkan sebuah foto Rendy bersama salah satu anak buah.


"Iya, itu memang benar Rendy. Aku sempat memotret dirinya sebelum dia kabur." ucapnya mengakui kesalahannya.


"Sudah, kalian kembali lagi ke desa dan cari calon istriku berserta Rendy. Kalau tidak ketemu, jangan pernah tampakkan muka kalian di hadapanku karena aku bisa saja menghilangkan kepala kalian. Mengerti?" tanya Gilang sambil menatap tajam satu per satu anak buahnya.


"Iya, Pak." jawab mereka kompak dengan tubuh bergetar. Gilang terbilang selalu menuruti perkataannya. Karena itu, tidak ada satu pun orang yang berani bermain dengan Gilang jika sudah mendapat ancaman.


"Rey, apa ada kabar tentang Dirgantara. Aku dengar, empat anak buahnya yang sempat menculik Rendy terkurung di penjara. Apa itu benar?" tanya Gilang memastikan.


"Iya, aku sudah mengeceknya dan semua itu benar." jawab Reyhan dengan cepat sambil berjalan mengikuti Gilang.


"Siapa yang memasukkannya ke dalam penjara?" ucap Gilang yang penasaran.


"Kata mereka, anak kecil yang mereka sempat culik di mol. Aku tebak jika itu Rendy." jelas Reyhan.


"Bagaimana bisa Rendy melakukannya? Dia masih anak-anak dan seharusnya lebih banyak bermain dengan teman-teman seusianya, ini malah lebih sering bermain dengan para penculik." ucap Gilang yang tersenyum-senyum sendiri mengingat wajah Rendy yang menggemaskan.


"Lan, ada juga yang menggangguku. Mizuki menemukan sebuah flashdisk yang isinya data-data Kanaya dan Rendy. Flashdisk itu, Mizuki temukan di dalam apartemenmu." ucap Reyhan yang membuat langkah Gilang terhenti.

__ADS_1


"Siapa yang berani masuk ke dalam apartemenku tanpa aku ketahui? Itu mustahil, harus ada sidik jariku baru dia bisa masuk." ucap Gilang dengan alis bertaut.


"Jujur, Lan. Aku rasa Rendy itu bukan anak kecil seperti apa umumnya. Dia punya tingkat IQ yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Apa dia juga yang meretas sistem Bintang group?" ucap Reyhan yang di penuhi kebingungan.


"Aku juga penasaran siapa orang itu. Dia bahkan tidak menggunakan data yang dia ambil dan malah mengembalikannya. Selama ini, keamanan perusahaan ini terjaga dengan baik. Bagaimana mungkin dia bisa meretasnya tanpa kita ketahui identitasnya?" tanya Gilang yang ikut menjadi bingung.


Gilang tiba-tiba berbalik menghadap Reyhan sambil menepuk pundak Reyhan. "Rey, terus lakukan pencarian. Aku ingin menemukan orang itu secepatnya. Aku harap bisa bekerja sama dengannya dan untuk masalah Dirgantara, aku yang akan menanganinya mulai saat ini." pintah Gilang sambil tersenyum manis kepada Reyhan.


"Baiklah, aku serahkan semuanya padamu." ucap Reyhan yang setuju sambil mengangguk perlahan.


Mereka berdua lalu berpisah, masing-masing menuju ruangannya. Gilang tiba-tiba mendapat telepon dari Friska.


"Gilang, apa kau tidak tahu jika Rendy adalah anakmu yang selama ini kau cari?" tanya Friska dari seberang telepon.


"Aku sudah tahu." ucap Gilang singkat.


"Bagus, kalau kau sudah tahu. Aku hanya ingin memberitahumu, dia dan ibunya sudah lenyap dari dunia ini." jelas Friska yang membuat Gilang terkejut. Gilang langsung bangkit dari tempat duduknya sambil membisu.


"Jangan bercanda, Friska. Aku benar-benar marah jika kau menyentuh keluargaku. Aku juga bisa membunuhmu saat ini." ucap Gilang dengan suara tegas. Gilang menutup sambungan teleponnya dengan cepat sambil berusaha mengatus nafasnya yang masih memburu ketika mendengar Kanaya dan Rendy sudah tidak ada.


"Ini pasti akal-akalan Friska saja. Aku tidak boleh tertipu, Rendy dan Kanaya tidak mudah di singkirkan begitu saja. Aku percaya itu." kata Gilang yang sudah berkeringat dingin. Dia tidak akan membayangkan Kanaya dan Rendy akan menghilang dalam hidupnya padahal dia masih perlu banyak waktu untuk menemani Rendy dan Kanaya bersama-sama.


"Hufft, aku tidak mau percaya dengan omongan Friska." lanjut Gilang sambil duduk kembali di kursinya.


Reyhan datang dengan terbru-buru sambil membawa beberapa lembar kertas. "Lan, terdapat dua mayat, satu anak dan seorang ibu di temukan di kosan Kanaya. Aku khawatir jika itu benar-benar mereka." lapor Reyhan dengan wajah panik.


"Apa? Dua mayat?"

__ADS_1


"Iya, Lan. Kemungkinan itu mayat Rendy dan Kanaya." jelas Reyhan kembali.


"Tidak mungkin, kau harus memastikannya dulu sebelumemberitahu diriku." kata Gilang sambil memukul meja di depannya.


"Maaf, Lan." tunduk Reyhan.


"Apa sudah ada penyelidik yang bergerak ke sana?"


"Iya. Aku sudah hubungi penyelidik kita untuk datang. Dia pasti sudah sampai saat ini di tempat kejadian." ucap Reyhan.


"Ayo kita ke kosan Kanaya dan lihat siapa orang itu sebenarnya. Aku tidak yakin jika itu benar Kanaya dan Rendy." perintah Gilang yang di sambut anggukan oleh Reyhan.


"Oke, aku akan menyiapkan mobil." ucap Reyhan yang berlari keluar, bergegas menjalankan perintah Gilang.


Gilang pun ikut berjalan keluar, memgikuti Reyhan. Pikirannya sedang kacau saat ini. 'Friska paati berbohong. Aku harus memastikannya.' guman Gilang yang terus kepikiran.


Gilang lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobil dengan kelajuan cepat. Dia pergi ke kosan Kanaya seorang diri, dia bahkan lupa jika Reyhan ingin ikut. Dengan wajah cemas, Gilang terus mengendarai mobilnya agar segera sampai di depan kosan Kanaya.


Setiba di sana, Gilang di sambut banyak orang yang sudah berkerumunan. Beberapa polisi terpaksa turun tangan mengatur mobil yang terkena macet. Gilang menerobos dan langsung melihat mayat yang sudah di bungkus rapi.


"Pak, apa benar ini Kanaya dan Rendy?" tanya Gilang menanyai polisi yang tidak jauh darinya.


"Dari hasil penyelidikan, tim belum bisa menyimpulkan apapun. Mayatnya sulit sekali di verifikasi seperti mendapat kecelakaan." jelas pak polisi.


"Lalu, jika itu korban kecelakaan, kenapa bisa berada di kosan ini?" tanya Gilang dengan wajah bingung.


"Itu yang membuat tim kami heran, mungkin ada orang yang sengaja memindahkannya dengan maksud tertentu."

__ADS_1


"Sudah aku duga jika itu bukan Kanaya dan Rendy. Semoga mereka baik-baik saja." kata Gilang yang berusaha meyakinkan hatinya.


"Jantungku hampir jatuh ke lantai. Ini semua salah Friska yang memberi ancaman padaku. Baiklah, aku tunjukkan padanya bagaimana caraku membalasnya." ujar Gilang yang menjadi kesal.


__ADS_2