Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 35. Di kejar


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Kanaya dan Rendy bersiap kembali ke kota. Mereka sudah menaiki bus yang menjemputnya di depan rumah nenek Rendy. Rendy duduk sambil melambaikan tangan kepada neneknya sebelum bus melaju.


Di tengah perjalanan, saat bus berada di perbatasan kota, seseorang laki-laki menaiki bus itu dengan sengaja. Dia punya maksud tertentu. Orang tersebut lalu duduk tepat di belakang Rendy dan Kanaya.


"Ma, apa kita datang ke apartemen papa dulu?" tanya Rendy yang menoleh ke arah Kanaya.


"Untuk apa? Bukannya dia sudah menikah, nanti istrinya marah lagi. Merepotkan." jawab Kanaya yang terlihat cuek.


"Beri dia ucapan selamat atau semacamnya. Masa mama pelit sekali memberi ucapan pada orang yang sudah menikah?"


"Untuk apa juga aku melakukannya?" kata Kanaya yang terus saja menolak usulan Rendy.


"Supaya mama juga bisa menikah nanti, biar Rendy cepat punya adik dan ngak sendiri lagi bantuin mama." jelas Rendy yang seketika membuat Kanaya mengalihkan pandangan. Wajahnya sampai memerah merona, merasa malu tetapi pengen juga.


"Pak, turun di sini." ucap Rendy yang memberhentikan bus ketika kosan Kanaya sudah dekat.


"Ayo turun, biar aku yang bawa kopernya." perintah Kanaya yang mengambil barang bawaannya. Rendy pun turun dengan cepat setelah membayar kepada pak sopir bus.


Tidak berselang lama, orang yang mengikuti Kanaya pun ikut turun. Dia lalu membuka ponselnya dan memotret Kanaya bersama Rendy yang berjalan di hadapannya. Setelah itu, mengirim foto Kanaya dan Rendy kepada bosnya.


[Bagus, cepat culik mereka berdua dan singkirkan secepatnya.]


Setelah mendapat pesan dari bosnya, orang itu lalu memanggil kawanannya yang telah bersiap menunggu perintah. Kanaya dan Rendy terkejut melihat anak geng motor memutar-mutar mengelilingi mereka berdua.


"Rendy, apa lagi ini?" tanya Kanaya yang ketakutan. Kanaya malah bersembunyi di belakang Rendy padahal tubuhnya jauh lebih tinggi dari Rendy.


"Mereka semua pasti mau berniat jahat pada kita." kata Rendy yang memperhatikan tiap wajah orang yang mengelilinginya.


"Lalu, bagaimana? Cepat hubungi polisi!" pintah Kanaya.


"Jangan macam-macam, aku bisa membunuhmu di sini." ucap salah satu pemimpin mereka yang mengikuti Kanaya dan Rendy diam-diam.


"Oh, orang itu naik bus juga tadi." tunjuk Rendy yang tidak merasa takut sama sekali. Hanya tubuh Kanaya yang bergetar.


'Santai juga ini anak walau sudah di ancam ingin di bunuh.' guman pemimpin geng motor.

__ADS_1


"Kalian semua mau apa? Kami tidak bawa uang banyak." teriak Kanaya memberitahu.


"Ha ha ha, dia pikir kita butuh uang." ucap sakah satu anak geng motor itu.


"Kami tidak butuh uang, kami butuh nyawa kalian berdua."


"Iya, benar. Sekarang, teruslah berdoa karena kami akan menyingkirkan kalian berdua dari dunia ini."


"Santai, teman-teman. Kita punya banyak waktu untuk menyingkirkan mereka berdua. Kenapa kita tidak bermain dengan perempuan cantik itu dulu?" tanya pemimpin mereka membuat Rendy geram.


"Jangan pernah menyentuh mama ku atau tangan kalian semua akan aku patahkan!" teriak Rendy mengancam balik.


"Hei, anak kecil. Memang kau bisa melukai kami, ha? Jaga dirimu saja tidak bisa." ucap mereka menganggap rendah.


"Ma, mundur!" pintah Rendy dengan wajah serius.


"Apa? Kau yakin ingin melawannya?" ucap Kanaya yang terkejut. Begitupun dengan anak geng motor, alis mereka berkerut.


"Tidak ada pilihan lain." ucap Rendy yang mengambil ancang-ancang.


"Mama hitung sampai tiga, aku lumpuhkan mereka semua!" ucap Rendy memberi kode kepada Kanaya.


"Baiklah." ucap Kanaya yang mengatur nafas sambil memegang keras koper miliknya.


"Satu... Dua..."


Semua anak geng motor saling menatap dengan wajah bingung. Sebagian merasa takut, bisa saja di serang Rendy hingga di patahkan tangannya terlebih melihat Rendy yang serius sekali mengambil ancang-ancang.


"Bro, aku rasa dia serius kali ini." tepuk anak geng motor kepada pemimpinnya.


"Masa sih anak kecil bisa melawan?" ucap pemimpin yang tidak percaya.


"Apa kita sebaiknya kabur saja, bro. Daripada tangan kita beneran di patahkan?"


"Jangan takut, paling dia hanya mengancam." pintah pemimpin mereka yang mulai getar juga.


"Ti.." Kanaya melanjutkan hitungannya. Tiba-tiba, Rendy mengaung dengan keras membuat anak geng motor bertambah panik sambil berteriak.

__ADS_1


"Ahhh..."


"Kabur, Ma!" ucap Rendy yang berbalik dan berlari membuat Kanaya dengan cepat ikut berlari menyusul anaknya.


"Sudah aku duga, yang kau tahu hanya kabur saja." protes Kanaya.


"Mama pikir aku bisa mengalahkan mereka? Tidak mungkin, otot mereka jauh lebih kuat dariku." jelas Rendy yang berlari secepat mungkin.


Anak geng motor termenung beberapa saat sampai dia menyadari Rendy hanya mengancam saja. "Hei, apa yang kalian lihat? Cepat kejar anak itu, jangan sampai mereka lolos!" teriak pemimpin anak geng motor yang memberi arahan kepada anak buahnya.


"Ah, jantungku hampir copot mengira jika anak itu benar-benar ingin menyeram." ucap pemimpin geng motor sambil mengelus dadanya, bernafas lega.


Rendy dan Kanaya berbelok menyusuri lorong sambil mencari pertolongan. Mereka lalu keluar menuju jalan raya dan terdapat polisi yang menikmati makan di sebuah warung pinggir jalan. "Ma, ada polisi. Kita ke sana saja!" teriak Rendy sambil menarik tangan Kanaya lebih cepat berlari lagi.


Setelah mereka sampai, Kanaya langsung duduk dengan nafas tidak beraturan. "Kenapa hidupku jadi kejar-kejaran seperti ini. Setauku dulu tidak pernah seperti ini." keluh Kanaya.


"Ma, kita tidak bisa pulang kembali ke kosan. Aku yakin mereka pasti menunggu di sana." ucap Rendy sambil berpikir.


"Kau pikirkan saja bagaimana cara kita bertahan selanjutnya? Aku sudah lelah berlari saat ini." ucap Kanaya yang tidak mau peduli lagi.


"Aku tahu!" kata Rendy yang bangkit dari tempat duduknya.


"Apa? Kau mau menyongok orang tadi agar tidak menyerang kita lagi?" ucap Kanaya dengan wajah penasaran.


"Bukan itu. Ada tempat yang tidak bisa mereka datangi. Sebaiknya kita segera ke sana." pintah Rendy.


"Baiklah, awas kalau kau berbohong kali ini dan orang-orang itu benar ada di sana." ucap Kanaya dengan suara lemah. Dia tidak biasa berlari secepat itu kalau bukan di kejar anak geng motor sampai membuat kaki panjangnya kelelahan.


Sementara itu, anak geng motor itu sampai di jalan raya. Mereka terlihat bingung mencari Kanaya dan Rendy karena ramainya orang.


"Mereka ke mana, Bro?"


"Kau bertanya-tanya? Aku juga tidak tahu." ucap pemimpin mereka.


"Lalu, bagaimana dengan bos kita? Apa yang harus kita katakan padanya?"


"Entahlah. Yang pasti, dia tidak boleh tahu kalau kita gagal. Bisa-bisa gaji kita tidak turun." ucap pemimpin mereka sambil duduk di pinggir jalan merenung nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2