Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 55. Pulang Dari Luar Kota


__ADS_3

Reyhan turun dan berusaha mencari Rendy. Jika terdapat api yang menghalangi jalannya, Reyhan bergerak cepat memadamkan api. Dia semakin cemas ketika tidak menemukan Rendy di mana-mana. "Gawat jika Rendy sampai tidak ketemu, aku bukan hanya di marahi satu atau dua orang, tetapi empat orang sekaligus. Gilang pasti yang akan marah lebih besar padaku." ucap Reyhan berpikir sejenak.


Reyhan tetap fokus mencari Rendy, kali ini wajahnya semakin serius berbeda dengan tadi. Ketika Reyhan mencoba menelusuri tangga, dia berhasil menemukan Rendy yang terbaring di dekat pintu seorang diri. Reyhan pun berlari menghampirinya dan membawa Rendy keluar dengan cepat. Pakaian Rendy mulai berubah warna karena sempat terkena api ketika jatuh.


"Tolong bantu aku!" teriak Reyhan yang naik ke tangga mencari pertolongan. Dirinya tidak bisa membawa alat pemadam api karena dia harus membawa tubuh Rendy. Beruntung ketika Reyhan berteriak, terdapat dua orang petugas damkar yang sedang memadamkan api. Mereka lalu turun mencari keberadaan Reyhan.


"Di sini, pak. Tolong aku dan keponakanku." ujar Reyhan sambil melambaikan tangan.


Dua orang itu lalu membawa Reyhan dan Rendy keluar dari kobaran api. Kanaya yang menunggu dari luar, langsung bangkit ketika melihat tubuh anaknya di bawa oleh petugas damkar.


"Cepat masukkan ke ambulance, keponakanku harus di bawa ke rumah sakit!" perintah Reyhan memberi arah jalan kepada petugas damkar yang membawa tubuh Rendy.


"Rendy, kau masih hidupkan? Jangan tinggalkan mama, Rendy. Buka matamu!" ucap Kanaya sambil menepuk tubuh Rendy ingin melihat anaknya sadar. Tetapi Rendy masih nyaman menutup matanya dan tidak beegerak sama sekali membuat Kanaya semakin panik dan cemas.


"Terima kasih, pak. Nanti aku naikkan gaji kalian dua kali lipat karena sudah membantuku." ucap Reyhan sebelum naik ke dalam mobil ambulance. Dua orang petugas damkar hanya tersenyum mendengar ucapan Reyhan.


Sesampai di rumah sakit, ponsel Reyhan berdering. Terpaksa Reyhan mengangkatnya karena itu dari Gilang. "Kanaya, kau jangan berisik. Pokoknya, jangan sampai Gilang tahu apa yang terjadi dengan Rendy." ucap Reyhan sambil mengingatkan Kanaya.


"Kenapa?" tanya Kanaya dengan wajah sedihnya.


"Gilang sedang berada di luar kota, dia tidak akan tahu masalah ini. Jadi jika dia sampai tahu, semuanya bakal heboh. Aku dapat hadiah bukan uang dan kamu bakal di cap sebagai ibu yang tidak berguna. Jadi lebih baik jika Gilang tidak tahu." ucap Reyhan memberi penjelasan. Kanaya hanya mengangguk, dirinya malas berdebat dan bertanya lebih dalam lagi kepada Reyhan.


"Ya, Lan? Ada apa, tumben menelpon lagi. Padahal baru tadi kita selesai bicara." ucap Reyhan basa-basi.


"Kau dimana sekarang? Kenapa lama sekali mengangkat teleponku!" ucap Gilang yang kesal dari seberang telepon.


"Oh, aku ada di rumah. Dimana lagi?" jawab Reyhan yang berusaha santai agar dia tidak ketahuan oleh Gilang.

__ADS_1


"Jangan bercanda. Aku lihat jika kafe Wins terbakar, benarkan?" tanya Gilang membuat Reyhan menjadi gugup. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Iya, lalu?"


"Lalu apa? Hei, Rey. Aku melihat jika Rendy berada di sana. Kau juga yang memberitahuku jika Rendy sedang pergi ke kafe Wins. Sekarang kafe itu terbakar dan kau malah ayik berada di rumah. Sudah bosan hidup!" teriak Gilang dengan suara keras membuat Reyhan menjauhkan sedikit ponselnya.


"Aku tahu kok." jawab Reyhan.


"Lalu? Bagaimana keadaan Rendy? Dia baik-baik saja kan? Awas jika anakku sampai terluka, kau benar-benar akan mendapat hadiah yang tidak akan pernah kau lupakan." ujar Gilang dengan suara tegas membuat Reyhan merinding mendengarnya.


"Rendy baik-baik saja, percaya padaku." ucap Reyhan sambil menutup sambungan teleponya dengan terburu-buru. Wajah Reyhan mendadak pucak, dia lalu duduk di dekat Kanaya dengan kaki bergetar.


"Apa kata Gilang? Apa ada masalah?" tanya Kanaya yang melihat perubahan wajah Reyhan.


"Ini masalah besar, kalau sampai Rendy kenapa-napa aku tidak akan di biarkan hidup lagi." ucap Reyhan dengan wajah sedih.


"Lalu, dimana orang itu? dia harus di beri pelajaran karena berani membuat Rendy terluka." titah Reyhan yang tidak terima. Dia menatap Kanaya dengan serius.


"Seharusnya dia masih ada di dalam kafe Wins. Dia kan melompat dengan Rendy dan kau hanya membawa Rendy keluar dari sana?" jawab Kanaya yang hanya menebak.


"Tetapi, aku tidak melihat satu orang pun di sana. Hanya Rendy yang terbaring seorang diri." pintah Reyhan.


"Jadi maksudmu, Senior berhasil selamat dan kabur dari sana? Tidak akan aku biarkan, aku harus lapor polisi agar dia bisa menangkapnya." ucap Kanaya sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Hei, kau sebaiknya fokus menjaga Rendy saja. Kalau untuk balas dendam, serahkan semuanya padaku dan Gilang. Pelakunya tidak akan bisa lolos dari kami." kata Reyhan yang menenangkan Kanaya.


"Hufft, aku benar-benar menyesal kenal dengan senior." ucap Kanaya sambil menghembus nafas berkali-kali, menyesal dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Malam hari pun berganti menjadi pagi dan bintang di ganti oleh matahari. Sinar matahari mulai menusuk masuk ke sela kamar seorang pasien yang berada di sebuah rumah sakit. Ketika pintu terbuka, berjalan dua orang pria menemui pasien itu. "Anda baik-baik saja, pak?" tanya salah satu di antara dua orang itu.


"Baik, bagaimana keadaan anak itu? Apa dia sudah mati? Mayat sudah di makamkan?" tanya Ramadhan sambil menatap wajah pengawalnya.


"Maaf, pak. Kami sudah berusaha menghalangi orang-orang untuk masuk ke tempat dimana anak itu berada, tetapi salah seorang laki-laki berhasil menerobos masuk dengan membawa salah satu petugas damkar. Dia sepertinya orang yang berpengaruh sehingga petugas damkar pun terlihat menurut." jelasnya.


"Kalian bekerja tidak baik sekali. Aku sampai hampir mati jika tidak ada yang menyelamatkan diriku terlebih dulu. Dasar bodoh. Kita tidak akan punya kesempatan kedua untuk membunuh anak itu lagi." ucap Ramadhan yang marah sampai melempar barang-barang yang ada di dekatnya.


"Maaf, pak. Kami pikir tidak ada orang yang berani masuk ke dalam sana mencari anak itu." bela salah satunya.


"Apa? Jadi kalian berpikir seperti itu? Lain kali, gunakan otakmu ketika berpikir, jangan hanya ototmu saja. Keluarga Gilang atau Kanaya pasti berusaha menerobos masuk untuk menyelamatkan Rendy. Jadi, kalian seharusnya berpikir seperti itu dan cari cara untuk menghalangi mereka masuk!" ucap Ramadhan yang semakin marah.


"Iya, pak, maaf. Kami tidak tahu." ucap dua orang pengawal sambil menunduk, merasa bersalah.


"Kalau tidak ada tahu, pakai tempe. Cepat keluar sebelum aku bertambah stres." perintah Ramadhan sambil mengalihkan padangannya ke luar jendela.


Dua orang itu pun berlomba berlari keluar sebelum Ramadha berubah pikiran. "Aku yakin sekali, Rendy pasti belum sadarkan saat ini. Gilang akan semakin marah dan mencari tahu siapa orang yang membuat anaknya seperti itu. Aku tinggal menunggu di tempatku sampai Gilang masuk ke dalam jebakanku. Dan untuk Kanaya, aku bisa mengurusnya paling akhir. Dia sangat mudah di tipu mentah-mentah." jelas Ramadhan yang tersenyum senang. Ekspresi wajahnya pun tidak menyeramkan lagi.


*******


Di bandara, Mizuki dan Gilang berjalan dengan terburu-buru. Mereka langsung pulang dari luar kota setelah mendengar keadaan Rendy dari orang suruhannya. "Berani sekali Reyhan berbohong padaku." umpat Gilang yang memasang wajah menyeramkannya.


"Lan, kita langsung ke rumah sakit tempat Rendy di rawat atau singgah di apartemenmu dulu menyimpang barang-barangmu?" tanya Mizuki.


"Langsung ke rumah sakit dan kau singgah ke apartemenku menyimpang barang-barangku." perinrah Gilang yang berjalan lebih cepat dari Mizuki.


"Baiklah, aku tidak akan protes karena moodmu sedang tidak baik." ucap Mizuki yang berjalan cepat berusaha menyusul Gilang.

__ADS_1


__ADS_2