
"Hei, Kanaya. Ayo kita pulang sekarang, ibumu sedang bermasalah di kampung." teriak Ramadhan sambil berlari menghampiri Kanaya dan Rendy. Padahal, tinggal beberapa langkah lagi, Kanaya dan Rendy bisa menemui Gilang.
"Benarkah? Ibumu punya masalah apa?" tanya Kanaya yang panik. Rendy pun mengeritkan kedua alisnya, tidak tahu juga.
"Aku tidak tahu, tetapi temanku dari kampung membicarakannya. Kita sebaiknya berangkat sekarang, aku merasa khawatir dengan keadaan ibumu." ucap Ramadhan berusaha membujuk dua orang ini agar rencananya berjalan lancar.
"Ayo, Rendy. Kita langsung pulang." titah Kanaya sambil menarik tangan Rendy.
"Tunggu, Ma. Kita telepon nenek dan pastikan apa paman ini tidak berbohong. Biasanya jika nenek ada masalah, pasti selalu menghubungi kita." usul Rendy yang membuat Ramadhan kaget.
"Rendy, senior itu orangnya baik. Tidak mungkin berbohong kepada kita sampai membuat kita khawatir. Jangan asal menuduh kamu!" kata Kanaya kesal.
"Bisa saja bukan." ucap Rendy tidak mau mengalah.
'Anak ini cukup pintar juga, pantas bisa menemukan papa-nya sendiri.' guman Ramadhan menatap Rendy dengan tidak suka.
"Baiklah, aku hubungi nenek biar kamu tenang." kata Kanaya sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dia lalu meletakkan ponselnya di dekat telinga dan mendengar teleponnya berdering.
Tutt... Tut... Tut....
Kanaya menatap Rendy sambil menggeleng kepalanya. "Nenek tidak mengangkatnya, pasti terjadi sesuatu. Kita harus segera pulang." ucap Kanaya yang menarik Rendy sebelum mendengar jawaban dari anaknya.
Ramadhan tersenyum sinis, dirinya hampir saja ketahuan. Beruntung ponsel ibu Kanaya tidak diangkat. "Aku tinggal mencari alasan ketika sampai." ucap Ramadhan yang berjalan menyusul Kanaya dan Rendy.
Sementara itu, di dalam gedung terjadi perdebatan antara keluarga Friska dan keluarga Gilang. "Enak saja kalian mempermainkan putriku seperti ini. Apa salah putriku sampai kalian memperlakukannya seperti binatang, apa kalian pikir dia tidak punya perasaan?" teriak mama Friska, Adela.
"Apa tante tidak punya telinga? Jelas sekali Gilang memberitahu tante jika Friska telah menghianati dirinya dan malah mengandung anak dari pak Azal." jelas Mizuki sambil menunjuk-nunjuk.
__ADS_1
"Apa kalian punya bukti jika anak yang di kandung Friska adalah anakku? Jangan asal menuduh, aku bisa laporkan kalian semua ke polisi!" teriak Azal menggertak. Tetapi itu malah membuat Gilang tertawa lebar.
"Apa yang ada di pikiranmu? Mengira jika aku tidak punya bukti? Kau salah jika beranggapa seperti itu." ucap Gilang dengan tersenyum sinis seolah memberi isyarat kepada Azal.
"Reyhan, nyalakan." perintah Gilang. Saat itu juga Reyhan berjalan ke atas panggung, mengambil mic lalu memutar audio dengan ponselnya. Terdengar jelas suara Friska dan Azal yang sedang berbicara. Mereka berdua hanya bisa membulatkan mata, terkejut dengan rekaman dirinya sendiri.
"I.. Itu, tidak mungkin." kata Friska yang tidak kuat berdiri lagi. Dia sampai duduk di lantai sambil menangis histeris.
Semua tamu undangan saling berbisik, mereka tidak menyangka salah satu pemimpin di sebuah perusahaan ternama malah melakukan hal keji. "Pak Azal, kau rupanya bukan orang baik. Aku pasti besok kerja sama antara perusahaan kita batal." ucap salah satu klien kerja Azal.
"Aku juga pak Azal ingin membatalkan kontrak kerja sama kita."
"Pak Azal, maafkan aku. Aku tidak bisa melanjutkannya lagi."
Azal bagai di sambar petir siang bolong. Dia tidak menyangka dirinya akan berakhir seperti ini. Gilang memang sengaja mengundang kolagen kerja samanya dan Azal group agar semua orang tahu seperti Azal yang sebenarnya.
"Maaf, bu Adela. Aku tidak bermaksud jahat terhadap keluargamu. Kita sudah menjalin tali persaudaraan sangat lama, tetapi apa yang dilakukan anakmu sudah di luar batas. Aku sendiri tidak bisa menoleransinya." ucap Nenek Rani sambil berjalan keluar dari gedung.
"Mak lampir, jangan terlalu banyak menangis. Nanti air matamu hilang dan malah mutiara yang muncul." tepuk Mizuki sebelum berjalan menyusul ibunya.
Begitu pun dengan Gilang, Reyhan, Alvin dan keluarganya, mereka langsung pergi tanpa merasa kasihan sama sekali dengan Friska yang terus menangis histeris.
Setelah semua orang meninggalkan Friska dan kini hanya tersisa dirinya, Azal dan ibunya, Friska pun langsung bangkit sambil mengepal kedua tangannya penuh amarah.
"Mereka pantas mendapat balasannya. Lihat saja Gilang, kau tidak akan bersama perempuan itu karena aku akan menghilangkannya dari dunia ini." ancam Friska dengan tatapan penuh dendam.
"Sia-sia kau melakukannya, Gilang tidak akan kembali padamu." sahut Azal.
__ADS_1
"Benar, Nak. Setidaknya buat rencana lagi agar Gilang mau menerima kamu lagi. Kita tidak dapat uang banyak tiap bulan jika seperti ini terus." keluh mama Friska.
"Aku tahu, Ma. Saat ini aku juga pusing memikirkannya." kata Friska sambil mengacak-acak rambutnya merasa frustasi.
*******
Di tengah perjalanan pulang, Rendy terus menoleh ke arah jendela dimana melihat pemandangan indah. Matahari pun tergelam semakin menampakkan keindahan alam yang banyak di lewatkan orang-orang.
"Paman, kenapa kau mengemudi pelan sekali. Katanya nenekku sedang ada masalah, sebaiknya kau mempercepat laju mobilmu ini." protes Rendy.
"Iya, maaf." jawab Ramadhan sambil melirik Rendy dari kaca depan.
'Anak ini cukup pintar, dia akan semakin menyusahkan jika terus bersama Kanaya. Aku harus cari kesempatan agar bisa menyingkirkannya dari hidup Kanaya. Aku akan aman.' umpat Ramadhan.
"Rendy, kau tadi memberi pelayan selembar kertas. Untuk apa itu?" sahut Kanaya sambil menoleh menatap wajah anaknya yang imut dan menggemaskan.
"Surat perpisahan untuk papa. Aku yakin dia pasti mencari kita karena pergi tanpa pamit." jelas Rendy yang membuat Ramadhan terkejut. Ramadhan sampai merem dadakan mobilnya.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Ramadhan sedikit menaikkan intonasi suaranya karena kesal.
"Nah, sikap asli paman terlihat." tunjuk Rendy menyadarinya.
"Bukan maksudku marah, tetapi aku hanya ingin agar kau menghargai perasaan istri baru papa-mu. Itu saja." ucap Ramadhan memberi penjelasan.
"Benar, Rendy. Kau harus mengerti situasinya saat ini. Jangan sampai hanya masalah suratmu, istri presdir sombing itu sampai marah hingga mereka bercerai." jelas Kanaya ikut-ikutan.
"Terserah mama saja." jawab Rendy sambil melipat kedua tangannya dan fokus melihat ke arah luar jendela. Kanaya hanya bisa menghelas nafas melihat tingkah Rendy.
__ADS_1
'Anak ini benar-benar menyusahkan. Benar-benar mirip Gilang. Aku tidak boleh berlama-lama memberi dia kebebasan karena dirinya pasti akan menghancurkan semua rencanaku dari awal.' guman Ramadhan yang ikut kesal.