Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 50. Clady Group


__ADS_3

Malam datang menampakkan jati dirinya. Bintang mulai berlomba bersinar walau kalah dari sinar rembulan yang jauh lebih terang. Di pinggir jalan, berdiri seseorang anak kecil yang menunggu Mamanya.


"Ayo kita pergi ke taman bermain!" teriak Kanaya yang baru keluar dari gedung apartemen.


Anak kecil itu pun melompat-lompat tandanya senang sekali. Dia tersenyum lebar sambil menggandeng tangan kiri Kanaya.


"Tunggu dulu, Rendy. Apa ada orang yang datang ke taman bermain malam-malam seperti ini? Biasanya kan semua orang datang ke sana di pagi hari?" tanya Kanaya yang berhenti melangkah, menoleh ke arah anaknya.


"Banyak kok, Ma. Bahkan lebih banyak anak-anak yang datang ke sana karena pemandangannya lebih indah di malam hari." ucap Rendy meyakinkan Kanaya.


"Oh, aku baru tahu. Kalau begitu, kita ke sana sekarang." ucap Kanaya dengan semangat berapi-api.


Sesampai di sana, Kanaya dan Rendy hanya bisa berdiri dan terdiam. Tidak ada satu pun orang yang berada di sana kecuali Rendy dan Kanaya. "Katanya banyak orang, dimana semua orang itu?" ucap Kanaya dengan melirik Rendy yang ikut bingung.


"Entahlah, mungkin sudah di makan hantu." jawab Rendy asal.


"Rendy, kau berbohong?" ucap Kanaya yang menghadap sempurna ke arah Rendy sambil melipat kedua tangannya meminta penjelasan.


"Tidak, aku tidak bohong." ucap Rendy yang malah meniru gaya Kanaya.


"Baiklah, terserah kau saja. Sekarang bermainlah seorang diri di taman ini dan aku akan duduk di kursi." kata Kanaya yang lagi malas berdebat dengan anaknya. Dia pun memilih tidak memperpanjang masalahnya dengan Rendy.


"Terima kasih, Ma." ucap Rendy yang berlari menaiki ayunan lalu naik seluncur yang ada di taman bermain itu. Rendy mencoba satu per satu dengan wajah senang. Kanaya memotret tingkah Rendy, mengirim foto Rendy ke statusnya.


"Ibu pasti senang melihat cucunya bisa bertingkah anak kecil juga. Aku akan buktikan jika diriku jauh lebih dewasa dari Rendy." kata Kanaya.


Saat asyik bermain, Rendy mendapat telepon dari Petugas polisi yang menangani kasus penculikan bersama nenek Rani. Dengan cepat Rendy mengangkat sambil berjalan menjauh dari Kanaya agar Kanaya tidak mendengarkan apa yang Rendy bicarakan.

__ADS_1


"Iya, pak? Apa ada masalah lagi?" tanya Rendy dengan suara perlahan.


"Oh, itu. Ada sedikit masalah." jawab petugas polisi yang terdengar ragu-ragu.


"Masalah apa? Tolong jelaskan, aku tidak punya waktu banyak." kata Rendy yang penasaran.


"Kami sudah menangkap kedua orang itu setelah mendapat bukti rekaman cctv dari toko terdekat di lokasi kejadian. Tetapi, kakak tersangka tiba-tiba datang dan meminta adiknya di bebaskan. Dia yang akan bertanggung jawab dengan masalah yang menimpah adiknya." jelas sang polisi membuat Rendy bingung.


"Siapa dia dan siapa adik yang bapak maksud?" tanya Rendy yang belum mengerti.


"Dia dari perusahaam Clady group dan adiknya bernama Friska. Dia datang menjemput adiknya di sini membuat kami tidak bisa melakukan apa-apa."


"Apa maksud bapak tidak bisa melakukan apa-apa? Bukannya dari bukti itu jelas sekali jika orang itu terlibat dalam kasus penculikan?" tanya Rendy yang merasa terheran-heran. Polisi dengan mudah menutup mulutnya untuk melawan padahal sudah mendapat bukti yang bisa membuat dirinya menangkap Friska.


"Kami tahu bukti itu, tetapi tersangka menolak semua tuduhan itu dan salah satunya mengatakan jika dialah pelaku dari semua penculikan itu. Jadi kami hanya bisa menahan satu orang saja."


"Baiklah, nanti besok aku ke sana dan bicara ulang dengan kalian." kata Rendy sambil mematikan sambungan teleponnya.


Sementara itu di tempat lain, Friska duduk berhadapan dengan sang kakak. Friska yang selalu berani bicara dengan mulut sombongnya, kini tidak berdaya ketika berhadapan langsung dengan sang kakak.


"Aku sudah bilang, kau seharusnya pulang ke rumah." ucap sang kakak dengan menaikkan kedua kakinya di atas meja.


"Maaf, kak. Aku ingin membuktikan jika diriku cukup berguna." jawab Friska dengan mata sendu.


"Cukup berguna untuk apa?"


"Aku juga bisa menguasai Gilang sampai membalaskan dendam keluarga kita kepadanya. Kakak bisa mengandalkan aku." teriak Friska sambil meneteskan air mata. Menatap wajah kakaknya membuat Friska tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh.

__ADS_1


"Kau terlalu lemah, pikiranmu sangat kecil. Kalau kau cukup berguna, tidak mungkin membiarkan dirimu di bawa ke kantor polisi dengan cara rendahan seperti tadi. Nama Clady group bisa tercemar begitu saja. Itulah alasannya kenapa kedua orang tua kita lebih memilih menyerahkan saham perusahaan kepadaku tanpa harus di bagi denganmu." jelas kakak Friska dengan suara di tekan dam tegas.


Friska mengepal kedua tangannya, dia sudah berusaha sampai sejauh ini hanya ingin membuat sang kakak bangga dengannya, tetapi malah memperburuk keadaan.


"Sekarang, bantu aku memikirkan cara agar teman tak bergunamu itu bisa bebas dari penjara dan tidak merusak nama perusahaan kita. Mengerti?"


"Iya, kak." ucap Kanaya dengan suara perlahan.


"Bagus, kau boleh kembali ke kamarmu." perintah sang kakak membuat Friska bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menaiki tangga.


"Repot juga mengurus anak itu, sampai kapan dia berhenti membuat masalah? Menambah pekerjaanku saja." ucapnya sambil memijat pelipisnya. Kakak Friska begitu takut jika masalah ini sampai bocor ke media, dia yang selama ini selalu bersikap baik di depan media akan sia-sia jika media sampai tahu adiknya hampir masuk penjara. Rencananya yang berjalan mulus bakal kacau mendadak. Media tidak akan berhenti mencari tahu latar belakang keluarganya yang akan semakin menyudutkannya dan membuat Bintang group bisa menyainginya.


Di dalam kamar, Friska melempar semua peralatannya. Semua alat berserakan di lantai, bahkan foto keluarganya pun dia lempar begitu saja. "Aku selalu di pandang sebagai anak rendahan, mereka tidak tahu saja apa yang sudah aku lakukan akhir ini. Aku selalu berusaha membuat rencana untuk menjatuhkan keluarga Gilang, tetapi kakak bahkan tidak memberi pujian padaku sama sekali. Jika dia membantuku untuk menguasai Gilang, masalahnya bakal hilang." ucap Friska yang kesal dan melampiaskan kemarahannya di dalam kamarnya.


Brak.. Brak.. Brak..


Cermin, jendela kaca, alat merias, semuanya di pecahkan Friska. Friska tidak bisa menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia pun bisa tenang ketika semua peralatan di kamarnya pecah.


"Anak kecil itu bakal aku bunuh terlebih dulu. Setelah itu Kanaya, orang yang sudah membohongiku. Dia berkata jika ayah anaknya bekerja di luar kota hanya untuk mengelabui diriku. Dan bodohnya aku malah percaya padanya. Kanaya itu hanya orang biasa, aku jauh lebih pintar darinya." ucap Friska sambil menatap tajam ke arah luar jendela.


Hari semakin malam, Kanaya dan Rendy sudah tertidur lelap di atas tempat tidur. Tiba-tiba Rendy membuka mata karena teringat akan sesuatu. Rendy pun bangun dan membuka laptopnya.


"Siapa pemimpin Clady group? Kenapa nama perusahan itu merasa tidak asing bagiku?" ucap Rendy yang bertanya-tanya. Rendy pun berniat mencari jawabannya di internet.


"Nama Presdirnya di rahasiakan dan hanya orang tertentu saja yang mengetahuinya? Lalu, apa hubungan orang itu dengan mak lampir? Kenapa dia ikut campur?" ucap Rendy yang semakin penasaran.


Rendy terus mengetik mencoba menelusuri Clady group dan hanya menemukan presdir lama perusahaan itu yang meninggal karena kecelakaan. Bukan hanya itu, Rendy juga menemukan informasi jika presdir lama itu punya dua orang anak yang di rahasiakan identitasnya.

__ADS_1


"Misteri sekali Perusahan Clady group ini. Aku akan mencari tahu setelah mengurus Azal terlebih dulu. Maaf, Lex. Aku tidak akan biarkan papa-mu bebas dari penjara. Bagaimana pun caranya, dia harus tetap berada di dalam penjara agar tidak bisa mengganggu keluargaku lagi." ucap Rendy dengan jelas.


Rendy lalu menatap wajah Kanaya yang sedang tertidur lelap. "Mama sudah menjagaku sewaktu kecil, sekarang giliranku menjaga mama agar bisa tetap aman di sini." Ucap Rendy dengan tersenyum manis.


__ADS_2