Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 18. Pencarian Friska


__ADS_3

Kanaya mulai membuka bisnis barunya, dia pun di bantu oleh Riani. Karena masih kafe baru, belum ada yang tahu. Akhirnya, Kanaya memutuskan mempromosikannya di pinggir jalan raya.


"Mari mampir ke kafe Kanaya, baru buka masih hangat. Yok, mulai pagi ini dengan makanan enak di kafe Kanaya, dijamin ketagihan!" teriak Kanaya berulang kali sambil memperlihatkan spanduk yang dia buat dengan Riani.


Tiba-tiba, berhenti sebuah mobil tepat di hadapan Kanaya. Kanaya pun tersenyum puas tetapi ketika melihat siapa orang yang duduk di kursi penumpang, wajah Kanaya berubah menjadi datar.


"Akhirnya kita ketemu di sini, banyak yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Friska sambil menurunkan kaca matanya yang di pakai.


"Aku tidak ada urusan denganmu." jawab Kanaya dengan tegas. Dia tahu siapa orang itu, tuangan sang presdir sombong yang menghinanya di kafe, mengira jika Kanaya membuntuti mereka.


"Aku lihat, sepertinya kau butuh pelanggan. Aku mau mampir di kafemu, kita bicara di sana." perintah Friska terkesan memaksa.


"Aku tidak butuh pelanggan sombong sepertimu." tolak Kanaya.


"Oh, sayang sekali. Padahal, aku mau mempromosikan kafe mu itu ke teman-temanku yang kaya raya. Mungkin dengan begitu, kafe barumu lebih banyak pelanggan lagi dan tidak cepat bangkrut." jelas Friska dengan nada angkuhnya.


"Benarkah?" Kanaya tergiur juga dengan tawaran Friska. Siapa yang tidak mau di bantu secara percuma. Zaman sekarang, meminta seseorang mempromosikannya juga butuh uang. Akhirnya Kanaya mengajak Friska ke tempat kafenya.


"Jadi, kau mau pesan apa? Disini ada banyak makanan baru. Sate, steak, bakso, cumi bakar, ayam goreng,..."


"Stop. Aku tidak mau makan makanan murahan seperti itu. Tidak perlu." kata Friska menolak dengan keras.


"Lalu, kenapa kau datang jika tidak ingin makan di kafe kami?" tanya Riani yang ikut bingung.


"Aku ada urusan dengan Kanaya." jawab Friska dengan santai.

__ADS_1


"Baiklah, katakan saja apa maumu. Yang jelas, jika sudah selesai jangan lupa promosikan kafe ini dengan teman-temanmu." perintah Kanaya yang tidak keberatan selama mendapat keuntungan tersendiri.


"Duduklah dulu, aku mau bicara serius. Dan untuk temanmu, tolong buatkan aku jus alpukat saja." ucap Friska menunjuk Riani.


"Katanya tidak mau apapun karena murahan." ejek Riani sambil berjalan masuk ke dapur menuruti perkataan Friska.


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan denganku?" tanya Kanaya.


"Kau dan Gilang punya hubungan apa?"


"Apalagi kalau bukan musuh buyutan. Dia itu presdir sombong nan pelit, masa memanggilku janda aneh. Lihat saja nanti, aku bungkam mulut kotornya itu." kata Kanaya dengan kesal.


"Bukan ingin membahas hal yang tidak penting ini, maksudku kau dan Gilang pernah bertemu sebelumnya dan apa hubunganmu sebelumnya itu?" tanya Friska mengintrogasi. Friska sangat penasaran, karena Gilang terlihat khawatir sekali dengan keadaan Rendy sewaktu di culik. Bahkan rapat yang begitu penting bagi perusahaannya dia batalkan sepihak.


"Tunggu sebentar, kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku dan presdir sombong itu tidak pernah ketemu. Pertama kali sewaktu di pusat perbelanjaan ketika kita juga bertemu. Dan mengenai Rendy, dia memang anak kandungku. Soal ayahnya, kami tidak bisa memberitahumu." jelas Kanaya.


"Apa kau hamil di luar nikah lalu tidak tahu siapa ayah Rendy?" bisik Friska. Jika dugaan Friska benar, dia harus melenyapkan Kanaya dan Rendy secepat mungkin sebelum Gilang mengetahui kebenarannya.


'Apa aku beritahu saja, dia juga tidak mungkin ikut campur lagi dengan keluargaku.' guman Kanaya.


"Sejujurnya, aku memang hamil di luar nikah. Tetapi soal ayah Rendy..." Kanaya berhenti bicara seolah memperhatikan respon Friska yang tidak sabar menunggu kelanjutan ceritanya.


"Apa? lanjutkan!" perintah Friska.

__ADS_1


"Ayah Rendy masih hidup dan dia sedang pergi bekerja di luar kota. Aku tidak mau memberitahu Rendy karena ayahnya sudah tidak mengingingkannya lagi dan kini sudah menikah di sana." jelas Kanaya yang berakting sedih.


'Gengsi juga kalau aku mengaku tidak tahu siapa ayahnya. Masa sih, aku harus bilang seperti itu. Memangnya aku tidur berapa banyak laki-laki sampai tidak tahu ayah dari Rendy? tunangan presdir sombong ini bisa saja menertawakan diriku.' guman Kanaya di dalam hati.


Friska memijat pelipisnya, dia lalu menghela nafas berkali-kali. "Jadi aku salah orang. Tidak mungkin Gilang ayah Rendy kalau Rendy sendiri punya ayah di luar kota. Baiklah, aku harus selediki masalah ini sampai tuntas." kata Friska dengan suara perlahan. Dia langsung bangkit tanpa pamit dengan Kanaya.


"Hei, tentang promosinya bagaimana?" teriak Kanaya.


Friska tetap melangkah keluar dan tidak menoleh ke belakang sama sekali. Kanaya menjadi kesal. "Untung aku tidak bicara kejadian yang sebenarnya. Dia malah mengingkari janjinya. Wajar sih, dia kan tunangannya presdir sombong nan pelit itu." ucap Kanaya marah-marah.


"Loh, dimana orang yang pesan jus alpukat?" tanya Riani yang baru datang sambil membawa sebuah jus di tangannya.


"Sudah di culik, jusnya untukku saja." jawab Kanaya yang langsung menarik jus alpukat dari tangan Riani.


Di sekolah, Rendy melihat-lihat buku di perpustakaan. Karena sekolah ini begitu besar dan mewah, banyak buku tersusun rapi dan lengkap. Apa saja buku yang di cari, pasti ada di sini. Rendy tertarik membaca sebuah buku tentang teknologi. Dan di akhir buku itu, terdapat sebuah situs yang belum pernah Rendy lihat sebelumnya.


"Situs apa ini? Aku harus mengingatnya agar bisa menggunakannya ketika sampai di rumah." ucap Rendy yang mengamati situs tersebut dan mencatatnya di otaknya.


Setelah itu, Rendy pun kembali ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Ketika menarik tasnya, tas Alex yang berada di dekat kursinya terjatuh. Rendy pun memungutnya dengan cepat dan terdapat sepotong koran tertuliskan Alex anak tak di anggap. Tersimpan juga foto anak kecil yang imut di samping koran itu. "Apa ini foto, Alex?" tanya Rendy sambil membaca sekilas berita itu.


Rendy menjadi tahu masalah keluarga Alex. Dan berita dari koran ini di terbitkan oleh Bintang Group, perusahaan Gilang. Mungkin karena itu, Alex terlihat tidak suka melihat Gilang ketika berbicara di depannya beberapa hari yang lalu.


"Nanti aku cari tahu lebih lanjut." ucap Rendy meletakkan kembali sepotong koran itu ke tempatnya semula.


Tidak berselang lama, Alex datang dengan membawa beberapa cemilan di kedua tangannya. "Rendy, ini untukmu dan ini untukku. Mari kita makan." ajak Alex dengan senyum ceria.

__ADS_1


"Mari makan." Rendy pun berkata sambil tersenyum. Tanpa sepengetahuan Rendy, diam-diam Alex menempelkan alat pelacak di tas Rendy. Alex pun merasa lega telah menyelesaikan tugasnya.


__ADS_2