Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 44. Terbongkar


__ADS_3

Di kediaman Azal, tampak Alex yang duduk bermain seorang diri. Alex langsung bangkit ketika melihat papanya pulang. "Papa! Ayo kita main!" ajak Alex yang berlari menghampiri Azal.


"Apa kau tidak lihat, aku baru saja pulang. Butuh istirahat, bukan malah di ajak bermain. Kau tidak tahu diri sekali." jawab Azal yang kesal. Alex hanya bisa menundukkan dirinya. Bibi Unni datang menenangkan Alex.


"Apa tuan Alex baik-baik saja?" tanya Bibi Unni sambil mengelus punggung Alex yang ingin menangis.


"Aku mau main dengan papa, tetapi kok papa malah marah. Apa aku benar-benar anak yang tidak di anggap?" tanya Alex yang mulai meneteskan air mata. Bibi Unni merasa kasihan melihatnya. Hatinya ikut perih melihat Alex menangis. Bibi Unni juga tidak kuat bekerja di rumah Azal, tetapi demi Alex dia tetap bertahan.


"Non Alex tidak boleh berpikir bergitu. Mungkin tuan Azal lagi capek dan butuh istirahat. Sebaiknya non Alex buatkan teh atau kopi hangat agar tuan Azal bisa berpikir jernih kembali." usul Bibi Unni.


"Baik, Bi. Terima kasih banyak untuk sarannya." ucap Alex yang berlari ke dapur membuatkan Azal kopi hangat.


Ketika Alex ingin memberikan papanya kopi hangat, dia mendengar suara ribut dari kamar kerja Azal. Alex segera ke sana dan melihatnya.


"Semuanya sial! Tidak ada satu pun rencanaku yang berjalan lancar. Bagaimana bisa menculik anak kecil harus butuh beribu-ribu orang? Dia hanya anak kecil!" ucap Azal dengan marah sambil melempar barang yang dia temui.


Prak.. Prak.. Prak...


Beberapa alat di buang dan berserakan di lantai. Azal terlihat menyeramkan di mata Alex. Alex pun berlari dari sana, tidak mau melihat papanya marah-marah yang hanya akan membuatnya takut.


Dreet.. Dreet.. Dreet...


Ponsel Azal bergetar, Azal menghela nafas berkali-kali membuang rasa kesal dan marahnya sebelum mengangkat panggilan teleponnya. "Iya, ada apa?" tanya Alex sambil duduk di kursi kerjanya.


"Apa maksud ada apa? Apa kau tidak bisa di ajak kerja sama lagi? Bagaimana bisa kau berniat mencelakai Gilang sampai membawa alat peledak di depan apartemennya, ha?" teriak Friska dari seberang telepon.

__ADS_1


"Apa Gilang yang memberitahumu? Apa dia berhasil membuka mulut orang yang berada di penjara itu?" tanya Azal balik.


"Tidak, Gilang berusaha menyelidiki kasus ini. Aku tahu dari orang yang meletakkan alat peledak itu. Dia bilang kau yang menyuruhnya. Berani sekali kau ingin membuat Gilangku celaka? sudah bosan hidup?" ucap Friska yang menekan perkataannya.


"Friska? Jujur aku butuh perusahaan Gilang secepatnya. Perusahaanku sudah bangkrut saat ini, kalau aku menunggumu membuat rencana, itu terlalu lama. Lihat dirimu, belum bergerak sampai sekarang. Apa kau sudah putus asa?" ujar Azal yang malah menyalahkan Friska.


"Aku sedang berusaha," bela Friska.


"Aku tidak bisa menunggu lama, cepat ambil Gilang dan serahkan aset perusahaannya padaku." kata Azal yang mengakhiri panggilan teleponnya. Azal lalu memejamkan mata, berusaha melepas pikirannya yang selalu ingin membuatnya marah.


Sementara itu, Rendy terus menusuri jalan di gedung apartemen itu. Dia menuruni tangga dan naik lift ketika berada di lantai dua sama seperti pelakunya. "Pasti ada sesuatu di sini, kenapa pelakunya terlihat masuk ke lift padahal tinggal beberapa anak tangga lagi dia sudah berada di lantai dasar." ucap Rendy yang terus berpikir.


Ketika pintu lift terbuka, Rendy keluar dan menatap setiap sudut di gedung apartemen. Dia lalu berjalan-jalan melihat sekeliling. "Dari sini pintu belakang berjarak 10 meter. Kalau menuju pintu depan, berjarak 15 meter. Itu berarti, pintu belakang lebih dekat. Jika aku menuju pintu belakang..." Kata Rendy sambil berjalan menuju pintu belakang.


"Pantas, dari cttv di luar tidak ada yang terlihat mencurigakan. Orang yang membawa alat peledak tidak bisa di temukan karena dia bersembunyi di lorong ini dan mengganti pakaiannya menjadi petugas kebersihan lalu keluar." ucap Rendy sambil tersenyum puas setelah menemukan pelaku yang sebenarnya.


"Lalu bagaimana dengan orang yang tertangkap itu? Apa dia juga tahu siapa pelaku yang sebenarnya?" tanya Rendy seketika.


Rendy tidak mau terlalu memikirkannya. Dia memilih memberitahu Gilang terlebih dulu dengan mengirim surel kepada Gilang.


"Selanjutnya, aku harus ke penjara memastikan keadaan orang yang di tangkap polisi itu." ucap Rendy yang bergegas pergi dari gedung apartemennya. Dia lalu menaiki taksi dan menuju kantor polisi.


"Apa yang membuatmu tidak mau membuka mulut di depan polisi jika bukan kau pelakunya?" tanya Rendy yang berhadapan langsung dengan orang yang dianggap sebagai tersangka.


"Anak kecil, jangan terlalu ikut campur. Sebaiknya kau pulang dan minta susu pada ibumu." jawab orang bertato itu sambil merendahkan Rendy.

__ADS_1


"Aku memang anak kecil sampai tidak di biarkan untuk menemuimu. Tetapi aku terus membujuk polisi dan akhirnya bisa duduk di depanmu. Sekarang, aku juga akan membujukmu agar kau mau bicara dan memberitahu semuanya padaku." jelas Rendy dengan sangat yakin. Pria bertato itu hanya tertegun mendengar penuturan Rendy.


...♡♡♡♡♡♡♡...


Gilang yang masih berada di perusahaannya, tiba-tiba membuka ponselnya yang berbunyi. Dia terkejut ketika melihat surel dari orang yang dia ajak untuk membantunya.


[Maaf, aku tidak bisa datang menemuimu untuk makan malam. Aku hanya mengirim data orang yang di duga adalah pelakunya. Silakan lihat lampiran yang aku kirim, maka kau akan tahu siapa dia sebenarnya.]


Gilang lalu memanggil Reyhan masuk ke ruangannya. "Reyhan, cepat datang ke sini. Bawa Mizuki juga, aku sudah dapat informasi pelaku alat peledak itu." ucap Gilang sambil meletakkan kembali teleponnya.


Tidak berselang lama, Mizuki dan Reyhan datang. Mereka lalu duduk di hadapan Gilang.


"Kita sudah temukan pelakunya, orang kita harus bergerak cepat menangkapnya dan membuka mulutnya. Setelah dia bicara, tahan dia agar kita bisa memasukkannya ke penjara bersama orang yang memberinya perintah." jelas Gilang.


"Dari mana kau dapatkan informasi ini?" tanya Reyhan dengan bingung.


"Orang yang pernah membobol perusahaanku, aku meminta bantuan padanya." jawab Gilang.


"Aku jadi penasaran, seperti apa orang itu sampai ingin membantu kita. Apa dia meminta bayaran?" sahut Mizuki.


"Untuk saat ini belum. Mungkin nanti kalau dia butuh uang, biasanya orang melakukannya tidak gratis." ucap Gilang kembali.


"Baiklah, aku akan menyuruh beberapa orang kita bergerak dan membentuk tim pengintai dan penyerang. Selebihnya akan di urus oleh Mizuki." ucap Reyhan yang setuju.


"Bagus." kata Gilang.

__ADS_1


__ADS_2