
"Kau habis darimana anak nakal?" ucap seseorang dengan suara yang tidak asing bagi Rendy. Rendy pun menoleh dan terkejut melihat Friska yang tepat berada di belakangnya sambil tersenyum-senyum melihat mangsanya.
"Oh, itu kau yah mak lampir." jawab Rendy dengan santai, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Masih bisa tenang melihatku anak kecil? Kau pikir bisa membuat diriku masuk penjara begitu saja, ha? Aku benar-benar sangat marah kali ini dan tidak akan mengampunimu lagi!" tunjuk Friska dengan tatapan membara ke arah Rendy.
"Mak lampir, kau seharusnya senang karena masih bisa lolos dariku kali ini. Tetapi ingat, hanya kali ini saja karena lain kali tidak akan aku biarkan. Dan terima kasih banyak untuk kakakmu yang sudah mengajak diriku bekerja sama." ucap Rendy mencari alasan membuat Friska mengeritkan alisnya.
"Kerja sama? Kakakku mengajakmu kerja sama apa?" tanya Friska yang terkejut.
"Mak lampir tidak boleh tahu dariku, harus tanya kakak mak lampir sendiri. Aku pergi dulu mak lampir, diriku banyak urusan yang sedang menunggu. Jangan lupa hubungi kakakmu jika kau ingin tahu." pintah Rendy yang berjalan keluar dari Clady Group. Friska yang percaya dengan omongan Rendy pun, membiarkan anak kecil itu pergi begitu saja.
"Ha ha ha, dasar bodoh. Bagaimana bisa dia membuat dirinya bisa di bodohi? Aku kan jadi bisa keluar dengan aman." umpat Rendy setelah masuk ke dalam mobil taksi. Sementara Friska, berlari menuju ruangan kakaknya.
"Apa kakak mengajak anak nakal itu bekerja sama?" teriak Friska yang memasang wajah kesal.
Kakak Friska yang sedang duduk di kursinya sambil memeriksa laporan, seketika mendongak menatap wajah sang adiknya yang berapi-api. Kedua alisnya pun mengerit.
"Apa maksudmu?"
"Kakak yang harus menjelaskan, apa maksud kakak mengajak anak Gilang bekerja sama. Untuk apa, kak?" ucap Friska dengan wajah memerah.
Senyum kakak Friska pun terpancar. Dia lalu berkata, "Kau benar-benar bodoh. Aku menyuruhmu datang ke sini untuk mengurus anak itu. Tetapi lihat, kau sepertinya di tipu mentah-mentah olehnya. Apa anak itu sekarang sudah berhasil keluar?" jelas kakak Friska membuat Friska tercengan. Friska pun berlari menuruni tangga, mencari keberadaan Rendy.
"Sial, kenapa anak Gilang begitu pintar. Bagaimana diriku dengan mudah mempercayainya?" ucap Friska yang heran dengan dirinya sendiri.
Sementara di tempat lain, Gilang duduk di sebuah kafe bersama Mizuki. Dirinya terus saja gelisah sampai belum ada sesuap pun makanan masuk ke dalam perutnya. Gilang terus kepikiran dengan Rendy dan Kanaya.
"Bagaimana kabar Rendy dan Kanaya? Kenapa mereka tidak satu pun menghubungiku?" ucap Gilang sambil melirik ponselnya yang berada di atas meja.
"Mungkiqn lagi sibuk atau lupa denganmu." jawab Mizuki yang mendengarkan perkataan Gilang.
"Mana mungkin mereka lupa, aku ini kan papa Rendy." bantah Gilang yang tidak percaya. Mizuki pun hanya menaikkan kedua bahunya, tidak mengerti.
Tiba-tiba ponsel Gilang berdering, Gilang yang sedang menunggu telepon pun bergegas mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang menghubungi dirinya.
__ADS_1
"Halo?" ucap Gilang dengan mata berbinar-binar seolah dirinya mendapat energi dadakan.
"Iya, pak Gilang. Ini aku, Reno. Aku ingin memberi laporan kepada Pak Gilang jika anak kecil pak Gilang barusaja keluar dari perusahaan Clady Group." jelas Reno dari seberang telepon.
"Apa? Rendy habis dari sana? Untuk apa?" tanya Gilang yang tercengang.
"Aku masih belum tahu, pak. Karena aku tidak bisa mengikutinya sampai ke dalam." jelas orang suruhan Gilang.
"Lalu, dimana Rendy saat ini?" tanya Gilang.
"Rendy sepertinya akan pulang, pak. Aku masih mengikutinya dari belakang."
"Baiklah, kerja bagus Reno. Terus pantau keluargaku selama aku tidak ada. Jangan lupa, tempatkan beberapa orang untuk menjaga Kanaya di kafenya, aku takut Azal bakal datang dan menyerang mereka." Perintah Gilang.
"Maaf, pak. Pak Azal saat ini berada di dalam penjara. Apa pak Gilang tidak tahu?"
"Apa?" Gilang kembali terkejut membuat Mizuki yang sedang makan di dekatnya pun terganggu.
"Bukannya pak Gilang yang memenjarakannya? Aku juga baru tahu pagi ini, pak." ucap Reno dengan jelas.
"Ini akan kerjaannya apa sih? Kenapa tidak memberitahuku jika Azal masuk penjara?" ucap Gilang yang diliputi rasa penasaran.
Gilang pun memilih mengirim pesan kepada Reyhan. [Hubungi aku jika kau sudah membaca pesan ini.]
*********
Rendy kembali pulang ke apartemen Gilang, dimana Kanaya sudah mondar mandir menunggu Rendy. Dia sampai cemas, takut jika Rendy kenapa-kenapa. "Sudah jam dua, Rendy belum pulang juga. Apa dia singgah di rumah temannya bermain?" tanya Kanaya pada dirinya sendiri.
Ceklek..
Pintu langsung terbuka membuat Kanaya menoleh ke arah pintu. Kanaya pun terkejut melihat Rendy yang datang dengan basah kuyup. Spontan mata Kanaya membulat dan mulutnya tidak bisa berkata-kata.
"Maaf, Ma. Aku terlambat pulang, diriku habis jatuh." ucap Rendy yang berbohong. Rendy tahu jika Kanaya sudah menunggunya di rumah dan pasti akan marah padanya karena terlambat pulang. Rendy pun singgah ke wc umum di seberang jalan dan menyiram dirinya dengan air lalu pulang dengan basah kuyup.
"Kau habis jatuh darimana?" tanya Kanaya dengan mulut terbuka, dia termengangan melihat pakaian Rendy benar-benar basah.
__ADS_1
"Maaf, Ma." ucap Rendy sambil menunduk dan dengan wajah polosnya. Kanaya pun tidak punya pilihan selain membiarkan Rendy membersihkan dirinya terlebih dulu.
"Cepat bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu. Nanti kau bisa demam kalau basah seperti ini terus." Perintah Kanaya.
Senyum Rendy pun terpancar, ini yang dia mau. Rendy punya banyak pikiran dengan kasus yang dia hadapi saat ini, dirinya butuh ketenangan untuk berpikir jernih. Bukan mendapat amukan dari Kanaya.
Setelah berganti pakaian, Rendy duduk di sofa sambil menarik laptopnya dan melihat-lihat berita. Tetapi, tiba-tiba pintu rumah di ketuk membuat Rendy bangkit membuka pintu. Rendy terkejut melihat teman Kanaya datang berkunjung.
"Paman, sedang apa di sini?" tanya Rendy dengan tatapan tajam. Bukannya mempersilakan masuk, Rendy malah menyerang kata-kata.
"Kanaya ada?" tanya Ramadhan berusaha terlihat baik di depan Rendy.
"Untuk apa paman mencari mama-ku? Apa ada urusan yang terlalu penting atau mendadak?" tanya Rendy kembali yang membuat Ramadhan sedikit kesal.
"Apa kita tidak bisa bicara di dalam saja? Aku rasa lebih baik bicara di dalam daripada di sini." ucap Ramadhan sambil menatap wajah Rendy berharap anak kecil itu bisa mengerti.
Rendy menyilangkan kedua tangannya dan mulai tersenyum. Tetapi, kakinya bergerak menutup pintu membuat Ramadhan menahan pintunya dengan cepat. "Opss, aku lupa. Ada orang yang ingin bertamu, tetapi bagaimana yah? Aku tidak menerima tamu saat ini." ucao Rendy dengan suara di tekan.
"Siapa yang datang?" teriak Kanaya yang keluar dari kamar karena habis berganti pakaian.
Ramadhan pun merasa senang, Kanaya akhirnya keluar membuat dirinya tidak perlu repot membuat Rendy mengerti. Karena anak itu walau mengerti pasti tetap tidak akan membiarkannya masuk begitu saja.
"Hai, Kanaya. Sudah lama kita tidak bertemu." sapa Ramadhan dengan suara lemah lembut, beda sekali ketika menyapa Rendy tadi.
"Senior, kau datang? Silakan masuk." ucap Kanaya dengan ramah.
Baru satu langkah Ramadhan, Rendy berteriak menghentikannya. "Tunggu sebentar, Ma. Ini bukan rumah kita jadi tidak seharusnya kita menerima tamu tak di undang. Nanti papa bisa marah." ucap Rendy berterus terang.
"Apa?" Kanaya begitu terkejut, dia pun merasa malu sambil tersenyum-senyum ke arah seniornya.
"Kau tidak seharusnya bicara seperti itu." bisik Kanaya kepada anaknya.
"Kenapa memangnya? Aku tidak salah kan, Ma?" ucap Rendy yang tidak mau mengalah. Rendy terus menatap Ramadhan sambil tersenyum mengejeknya.
'Hufft, anak kecil ini benar-benar kurang ajar. Aku benar-benar kehabisan kesabaran kalau begini terus.' guman Ramadhan di dalam hati.
__ADS_1