Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 32. Melacak Lokasi


__ADS_3

Gilang datang ke sekolah Rendy, mencari Rendy karena ingin memberitahu kabar penting pada anaknya. Tetapi ketika berada di dalam kelas, Rendy tidak ada di tempat duduknya.


"Permisi, apa Rendy tidak datang ke sekolah hari ini?" tanya Gilang kepada guru yang sedang mengajar di sana.


"Maaf, pak Gilang. Rendy sudah tiga hari tidak masuk sekolah."


"Apa? Tiga hari? Kenapa, dia sakit?" tanya Gilang terkejut mendengar pengakuan sang guru.


'Ya ampun, kenapa lagi si presdir ini datang ke sekolah mencari Rendy. Apa dia ada urusan dengan Rendy? Aku harus beritahu papa, semoga saja beritaku ini bisa membantu papa.' guman Alex yang mendengar ucapan Gilang dan guru.


Gilang lalu kembali ke mobilnya, melaju dengan kecepatan tinggi mencari Rendy di kafe Kanaya. Dia yakin sekali, Rendy dan Kanaya berada di sana.


"Awas jika Kanaya membawa pergi anakku, aku tidak akan memaafkannya." ucap Gilang yang menjadi kesal.


Sesampai Gilang di kafe Kanaya, hanya Riani yang berada di sana. Gilang pun menghampiri Riani dan menanyakan keberadaan Kanaya. "Kau tahu dimana Kanaya? Kenapa Kanaya dan Rendy tidak terlihat di sini?" tanya Gilang dengan menatap wajah Riani dengan serius.


"Kanaya dan Rendy balik kampung. Itu yang aku tahu." jawab Riani dengan cepat.


"Apa? Balik kampung? Dimana alamat kampungnya itu?" tanya Gilang yang terkejut mendengar penjelasan Riani.


"Aku tidak tahu, Kanaya tidak pernah memberitahuku alamatnya. Aku juga tidak mau memikirkannya." jawab Riani yang membuat Gilang semakin kesal. Gilang sampai menendang kursi di dekatnya.


"Kau sudah gila, yah? Kau seharusnya bertanya dimana tempat Kanaya dan Rendy sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, mereka berdua dalam bahaya saat ini." teriak Gilang menggema di dalam kafe.


"Apa? Kanaya dan Rendy dalam bahaya? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Hubungi Kanaya dan beritahukan padaku dimana lokasinya. Aku harus segera menemukannya." perintah Gilang. Dengan cepat Riani mengambil ponselnya lalu menghubungi Kanaya.

__ADS_1


"Nomornya anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Segera hubungi..."


"Tidak aktif," ucap Riani dengan panik.


"Ah, aku terpaksa harus membawa masalah ini masuk di perusahaanku. Aku tidak mau Rendy dan Kanaya dalam bahaya karena diriku. Lagian, Kanaya juga membawa Rendy tidak memberitahuku dulu." kata Gilang yang emosinya bercampur. Marah, panik, kesal, dan khawatir semuanya tercampur rata


Gilang kembali ke perusahaannya dimana dia mengadakan rapat darurat. Semua peninggi sudah menunggunya di ruang rapat. Ketika mereka melihat kedatangan Gilang dan Reyhan, mereka bangkit memberi hormat lalu duduk kembali.


"Aku ada tugas penting untuk kalian semua. Temukan Calon istri dan anakku segera mungkin. Foto dirinya sudah aku kirim di grup." kata Gilang dengan suara tegas sekaligus memberi penekanan agar anak buahnya tahu ini keadaan yang mendesak dan penting bagi Gilang.


"Untuk lokasinya, bagaimana pak Gilang?"


"Kami baru mencarinya. Nomor ponsel Kanaya dan Rendy berusaha kami lacak dan itu mudah. Tolong beri kami waktu agar bisa memastikan tempatnya dengan benar." ucap Reyhan.


"Baik, pak. Setelah kami mendapat alamatnya, orang-orangku akan segera bergerak memastikan."


"Sudahlah, kau tidak perlu menyesal. Sebentar lagi, Rendy dan Kanaya bakal kita temukan. Perusahaan ini lebih ahli melacak keberadaan orang hilang sekalipun." jelas Reyhan menenangkan Gilang.


Benar saja, tidak butuh waktu lama, nomor ponsel Kanaya berhasil di lacak. Orang-orang Gilang bergerak dengan cepat. Sementara di sebuah rumah, Ramadhan menaikkan kakinya di atas meja sambil berbicara dengan seseorang di dalam telepon.


"Benarkah? Kau pikir dia bisa masuk di kampung ini?" ucap Ramadhan memandang enteng orang suruhan Gilang.


"Bisa saja, bos. Orang Gilang itu banyak dan cukup cerdik. Kita tidak bisa menghalanginya jika orang kita juga tidak cukup banyak."


"Baiklah, minta pada atasan untuk menambah anak buah kita. Dengan begitu, kalian bisa menghalangi orang-orang Gilang. Pastikan agar Kanaya dan anaknya yang pintar itu tidak tahu hal ini. Semuanya bisa kacau jika Rendy tahu. Dia selalu membela Gilang." jelas Ramadhan mengingatkan.


"Iya, bos." ucapnya sambil mematikan sambungan teleponnya. Ramadhan tersenyum miring, tidak sabar melihat kegagalan Gilang.

__ADS_1


"Aku menang selangkah darimu, Lan. Sebentara lagi kau akan tahu rasa sakit di hatiku masih membekas dan akan pindah ke hatimu." kata Ramadhan tersenyum bahagia memikirkannya.


Ketika malam tiba, Rendy membuka laptopnya dan terkejut ketika melihat banyak laporan di laptopnya. Beberapa pesan juga muncul dimana menanyakan alamat Rendy.


Rendy memandang dengan wajah bingung. Dia tidak kenal kontak semua orang itu. "Ini cukup aneh? Kenapa banyak sekali orang yang tidak aku kenal menanyakan alamat? Memangnya dia siapa?" tanya Rendy berpikir sendiri.


Tidak berselang lama, Kanaya berteriak memanggil Rendy sambil berjalan menghampirinya.


"Rendy! Rendy!" teriak Kanaya.


"Rendy, ponsel mama cukup aneh. Ada orang yang mengirim pesan lalu terdapat sebuah lokasi. Aku tidak mengerti." ucap Kanaya sambil menyodorkan ponsel miliknya.


"Benarkah? Biarku aku periksa dulu." ucap Rendy sambil mengambil ponsel Kanaya. Mata Rendy membulat ketika melihatnya.


"Apa mama membuka chat ini?" tanya Rendy sambil menatap wajah Kanaya dengan serius.


"Tentu saja, aku hanya membacanya. Dia kan mengirim pesan, apa masalahnya?" tanya Kanaya bingung sendiri.


"Seseorang berusaha melacak lokasi kita dengan mengirim pesan acak seperti ini. Jika kita membukanya terlebih membalas pesannya, otomati lokasi kita berhasil dia ketahui. Coba periksa, apa lokasi mama di ponsel aktif?" tanya Rendy membuat Kanaya menatap layar ponselnya.


"Benar aktif. Lalu, apa yang harus kita lakukan?" ucap Kanaya yang menjadi panik. Dia pernah menonton film, lokasinya di lacak karena ingin di bunuh.


"Rendy, apa mama bakal di bunuh? Bagaimana denganmu, kau juga bakal di bunuh?" tanya Kanaya yang membuat Rendy tertawa.


"Mama konyol. Tidak ada yang bisa menyentuh mama selama Rendy ada di sini. Sebaiknya mama tidur biar cepat bangun pagi. Nenek pasti marah kalau mama terlambat bangun." ujar Rendy mengalihkan pembicaraan.


"Iya, aku memang harus cepat tidur dan tidak memikirkannya. Kau jika sudah selesai urusanmu dengan laptopmu, cepat tidur juga." perintah Kanaya yang berbaring di dekat Rendy.

__ADS_1


Rendy hanya mengangguk lalu fokus dengan layar ponselnya. 'Ada yang tidak beres.' kata Rendy dengan wajah serius. Rendy lalu mengetik dengan cepat sampai membuat keyboard-nya terus berbunyi karena di tekan.


__ADS_2