
Gilang barusaja mendapat telepon jika senior yang di maksud Kanaya adalah presdir dari Clady Group. Gilang berlari masuk ke dalam perusahaannya untuk memastikan kabar itu.
"Itu benar, pak Gilang. Kami sudah menyelidiki sejauh mungkin siapa orang ini." ucap karyawan Gilang.
"Apa kau tahu kelemahan dia?" tanya Gilang sambil menatap karyawannya dengan serius.
"Masih belum, pak Gilang. Hanya adik dari presdir Clady Group ini yang berhasil kami kuak." ucap Karyawan itu sambil menyodorkan selembar foto dimana salah seorang yang berada di foto itu adalah orang yang Gilang kenal, Friska.
"Jadi ini adalah kakak Friska?" tanya Gilang sambil menunjuk laki-laki yang berdiri di samping Friska.
"Iya, benar, pak Gilang. Kami sudah memastikan jika informasi ini real dan benar."
"Baik, tetap cari informasi yang lain mengenai perusahaan Clady Group. Jika ada informasi terbaru, segera hubungi aku." ucap Gilang yang bergegas keluar menuju ruangannya sendiri.
Di depan pintu, sudah ada Reyhan yang menunggu bersama Mizuki. "Gilang, polisi kita sudah bergerak mencari keberadaan Orang itu." ucap Reyhan memberi laporan.
"Bagaimana dengan Friska?" tanya Gilang seketika sambil memperlihatkan foto Friska dengan seorang laki-laki.
"Dia siapa?" tanya Mizuki yang penasaran.
"Dia adalah Friska dan kakaknya yang merupakan presdir Clady Group. Aku ingin fokus membasmi mereka berdua. Rey, cari cara agar kita bisa masuk ke dalam perusahaannya dan membuat hancur perusahaan itu." ucap Gilang dengan wajah memerah. Gilang sampai menaru benci pada Friska yang sudah mempermainkan dirinya selama ini.
"Baiklah, aku segera bergerak." ucap Reyhan yang kembali ke ruangannya sambil berjalan dengan cepat.
"Mizuki, buat kerja sama dengan Clady Group. Kita harus memancingnya untuk keluar dari tempat persembunyiannya." ucap Gilang memberitahu Mizuki.
"Baik, Kak." ucap Mizuki yang melangkah pergi dengan terburu-buru.
Dua jam kemudian, Mizuki sudah membuat janji dengan Clady Group di perusahaan mereka. Gilang yang mendengarnya merasa senang dan langsung bersiap. "Jangan sampai lepaskan mereka, apapun yang mereka tawarkan pada kita, kita harus menerimanya bagaimana pun caranya. Kau mengerti kan?" tanya Gilang yang duduk berdampingan dengan Mizuki.
"Tetapi, kak. Bagaimana jika dia meminta saham perusahaan kita yang jauh lebih tinggi? Mereka bisa merebutnya nanti." ucap Mizuki yang khawatir.
"Tujuan kita bukan untuk bekerja sama dengannya, hanya memancingnya saja. Mereka tidak akan bisa mengambil alih perusahaanku semudah itu." jelas Gilang dengan tatapan dan pikiran yang sulit di mengerti. Mizuki pun terdiam karena dirinya tahu apa yang dilakukan Gilang sudah di pikirkan dengan matang.
__ADS_1
Gilang dan Mizuki masuk ke dalam perusahaan Clady Group dengan wajah dan ekspresi seperti seorang raja dan ratu. Mereka berdua terlihat serius sampai tidak luput di perhatikan banyak orang yang bekerja di sana.
"Selamat siang, pak Gilang. Senang bertemu dengan anda." ucap Presdir Clady group yang menyambut kedatangan Gilang sambil bangkit dari tempat duduknya. Asisten Presdir Clady Group pun melakukan hal yang sama kepada Gilang.
"Siang juga. Maaf terlambat datang, kami terkendala di jalan ketika menuju ke sini." ucap Gilang dengan tersenyum ramah walau dirinya selalu waspada dengan pria di depannya.
"Pak Rama, ini pak Gilang dari perusahaan Bintang Group. Kami yang mengirim kerja sama dengan perusahaan bapak." jelas Mizuki.
"Wah, aku sempat kaget ketika mendengar pemberitahuan ini jika Bintang Group ingin bekerja sama dengan perusahaan kami. Sungguh suatu kehormatan bagi kami, benar begitu, Roy?" lirik Rama kepada asistennya yang terdiam di sampingnya.
"Iya, Pak." jawab Roy membenarkan.
"Jadi, bagaimana tanggapan anda pak Rama?" tanya Gilang yang tidak sabar menunggu respon dari Rama. Dia ingin tahu apa yang ingin manfaatkan Rama darinya.
"Tentu saja, kami sangat senang dan akan menerima kerja sama dengan perusahaan Bintang Group. Hanya saja, ada banyak yang harus di ubah di surat kontrak itu. Pembagian saham, penentuan perusahan yang harus memimpin, semua itu harus di perjelas. Aku rasa perusahaanku pantas mendapat saham yang lebih besar dan perusahaanku juga bisa menjadi pemimpin." ucap Rama yang memberi penawaran kepada Gilang.
"Sudah aku duga, dia pasti meminta saham yang lebih besar. Bagaimana ini? Apa aku harus mundur?" guman Mizuki di dalam hati.
"Kau sudah gila, Lan?" tanya Mizuki yang tidak yakin mempercayai Rama ini.
"Aku sangat yakin anda tidak akan membuat diriku kecewa. Melihat nama anda adalah Rama, nama itu begitu mulia dan punya arti." jelas Gilang yang menambahkan pujian kepada Rama.
"Aku jamin kau tidak akan kecewa." ucap Rama yang tersenyum.
Kerja sama mereka berdua di sahkan saat itu juga dengan perjanjian yang dibuat pihak Clady Group. Rama sangat puas, dia berpikir Gilang sudah hilang akal karena membiarkan dirinya mendapat keuntungan lebih besar dari pada Gilang.
"Dia tidak sepintar yang aku kira. Gilang yang selalu berpikir sebelum bertindak, kini bisa aku kalahkan dengan mudah." ucap Rama yang sangat senang.
Friska tiba-tiba datang dan masuk ke ruangan sang kakak. "Kakak mengajak Gilang kerja sama?" tanya Friska yang duduk di hadapan Rama.
"Kenapa dan dari mana kau tahu?" tanya Rama yang terkejut karena sang adik lebih dulu mengetahuinya.
"Dari berita di tivi, semuanya sedang membahas kakak. Coba lihat!" perintah Friska yang memperlihatkan sebuah video kepada Rama.
__ADS_1
Mata Rama membulat, dia baru saja keluar dari ruang rapat dimana kerja sama dengan Gilang terjalin. Tetapi media langsung mengetahuinya bahkan sampai mempunyai rekaman percakapannya bersama Gilang.
"Sial, Gilang membuat rencananya berjalan lancar. Seharusnya aku geledah tubuhnya tadi!" ucap Rama yang marah.
"Lihat apa yang kakak lakukan. Karena kecerobohan kakak, semua media menjadi tahu siapa presdir di Clady Group. Meski mereka tidak melihat wajah kakak, tetapi nama dan suara kakak sudah mereka ketahui." ucap Friska yang ikut kesal.
"Friska, sebaiknya kau keluar dan tidak menambah kepalaku bertambah pusing. Aku kau berpikir dengan jernih saat ini." ucap Rama sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku pikir diriku jauh lebih bodoh darimu, tetapi kakak jauh lebih bodoh lagi." ucap Friska sebelum pergi.
Sementara itu di sebuah rumah sakit, Kanaya menyalakan tivi karena bosan terus berada di dalam kamar. Dia lalu melihat siara dimana Bintang Group bekerja sama dengan Clady group.
"Clady Group? Aku sepertinya pernah mendengar nama ini." ucap Kanaya sambil berpikir-pikir.
"Sudahlah, masalahku saja belum selesai kenapa harus membahas hal tidak penting ini. Sebaiknya aku fokus menjaga Rendy saat ini." ucap Kanaya sambil duduk di dekat Rendy dan mematikan tivi.
Tidak berselang lama, Riani datang berkunjung sambil membawa buah-buahan. "Maaf baru bisa datang mengunjungi Rendy. Di kafe lagi banyak pelanggan dan aku yang harus melayani mereka semua seorang diri." ucap Riani sambil menghela nafas.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu." ucap Kanaya dengan suara perlahan, merasa tidak enak hati dengan sahabatnya.
"Tidak apa-apa, Naya. Aku mengerti dengan keadaanmu saat ini. Lebih baik kau beristirahat dan biar aku yang menjaga Rendy. Ini juga ada buah untukmu karena Rendy belum sadarkan diri." ucap Riani dengan tersenyum ramah sambil menyodorkan keranjang yang berisi buah.
"Terima kasih banyak." jawab Kanaya dengan wajah lesu. Terlihat jelas di mata sang sahabat. Riani pun duduk di dekat Kanaya, memperhatikan wajah cantik Kanaya yang sudah menghilang.
"Tersenyumlah maka cantikmu tidak menghilang. Kalau kau terus memasang wajah seperti ini, bisa-bisa kau akan menjanda seumur hidup." bujuk Riani sambil menarik sudut bibi Kanaya.
"Aku juga mau seperti itu, tetapi bagaimana? Melihat Rendy tidak berbicara walau berada di depanku, membuat hatiku sangat sakit. Kau tidak akan bisa merasakannya karena kau tidak punya anak." ucap Kanaya.
"Kau benar, pasti sangat sulit bagimu. Tersenyum saja tidak bisa terlebih kalau makan. Kau tidak akan punya tenang untuk mengunyah." ucap Riani membenarkan sambil mengangguk.
Tiba-tiba sensor yang mendeteksi detak jantung Rendy berbunyi membuat dua orang yang duduk terkejut. Mereka lalu keluar bersamaan mencari bantuan.
Tut.. Tut... Tuuuuuuuuuuuutttttt....
__ADS_1