Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 21. Pemilik Alat Pelacak


__ADS_3

Sepulang sekolah, Rendy langsung ke kafe Kanaya setelah melihat lokasi mamanya dari jam tangan Rendy. Rendy menaiki taksi seperti biasa.


Setiba di depan kafe, Rendy terkejut melihat mobil Gilang terparkir di sana. "Papa datang menemui mama?" tanya Rendy sambil berlari masuk. Dilihat Kanaya memohon-mohon didepan Gilang.


"Ayolah, beri aku kesempatan kali ini saja. Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Kanaya.


Gilang duduk dengan santai, tanpa mempedulikan permohonan Kanaya. Rendy pun berjalan menghampiri mamanya.


"Ma, aku sudah pulang." sahut Rendy.


"Iya ampun, Rendy. Mama lupa jemput kamu, maafkan yah!" sontak Kanaya kaget melihat kedatangan anaknya padahal dia janji akan menjemput Rendy sepulang sekolah.


"Iya, Ma." jawab Rendy singkat.


"Rendy, ayo kemari!" ajak Gilang. Rendy baru ingin melangkah, Kanaya langsung memegang tangan anaknya menghentikan langkahnya.


"Tidak boleh. Kau tidak boleh bermain dengan anakku sebelum menuruti keinginanku." jelas Kanaya.


"Keinginan apa, Ma?" tanya Rendy menoleh menatap mamanya.


"Ini urusan orang dewasa, kau tidak perlu ikut campur. Serahkan semuanya kepada mamamu yang hebat ini." kata Kanaya, lupa jika anaknya jauh lebih baik darinya.


"Baiklah, coba aku pikir-pikir apa bisa mempromosikan kafemu di perusahaanku?" ucap Gilang memainkan jari tangannya.


"Pasti bisa kan?" tanya Kanaya dengan mata berbinar-binar.


"Entahlah, aku sepertinya tidak tertarik." ucap Gilang yang bangkit dari tempat duduknya, lalu tersenyum dan berjalan keluar dari kafe. Sebelum pergi, Gilang melambaikan tangan ke arah Rendy.


"Heee, awas kau presdir sombong. Aku beri pelajaran nanti!" ucap Kanaya yang kesal dan berapi-api.


"Mama sih, kenapa harus minta dia. Aku juga bisa," kata Rendy seketika sambil duduk di kursi.


"Benarkah? kau tidak sedang bercanda?" ucap Kanaya sambil menatap tajam ke arah Rendy.


"Serius, Ma. Aku bisa promosikan di internet kafe mama ini. Caranya mudah, kenapa harus mengemis kepada orang lain?" kata Rendy sambil melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Itu karena mamamu bodoh, Rendy." sahut Riani.


"Ha ha ha," dua orang kompak tertawa, Riani dan Rendy. Mereka lupa jika Kanaya mudah sekali marah dan meluap-luapkan emosinya.


"Apa kau bilang!" teriak Kanaya sambil menarik kuping Rendy.


"Ampun, Ma, ampun. Bukan Rendy, tetapi tante Riani." ujar Rendy memohon.


"Sudah terlambat," kata Kanaya yang tersenyum miring melihat ekspresi wajah Rendy memohon-mohon padanya.


*******


Matahari sudah tergelam, perlahan bintang membuka jalan untuk bulan yang bersinar terang. Dua orang berjalan pulang sambil menikmati udara malam hari. Kanaya terlihat lelah, matanya saja beberapa kali terpejam.


"Ma, tadi temanku Alex tidak datang ke sekolah." kata Rendy memulai pembicaraan.


"Lalu?"


"Padahal aku ingin bertanya kepadanya. Apa dia melihat orang yang menyimpang alat pelacak di dalam tasku." lanjut Rendy.


"Tidak meledak. Alat pelacak bukan seperti bom. Bahkan hal semudah itu mama tidak tahu." ujar Rendy dengan mulut di manyungkan.


"Wajar, aku dulu sekolah hanya sampai tingkat SMA. Itu pun sekolah di desa." ucap Kanaya.


"Beda sekali dengan aku yang bersekolah di sekolah ternama sejagat raya. Apa aku ini bukan anak mama yah?" ucap Rendy memancing amarah Kanaya.


"Jangan banyak menghalu Rendy, aku bisa membuangmu di selokan nanti." ujar Kanaya memperingati.


"Ha ha, aku bercanda, Ma." jawab Rendy seketika.


Perjalanan mereka berakhir begitu cepat, Kanaya langsung membuka pintu dan berbaring ketika sampai. Sementara Rendy, duduk sambil bermain dengan laptopnya.


"Rendy, mama tidur duluan. Badanku terasa capek semua." ucap Kanaya sambil memejamkan mata.


"Iya, Ma." sahut Rendy menoleh kemudian kembali fokus dengan laptopnya.

__ADS_1


Malam ini, Rendy kembali berpetualang di dalam dunia buatannya. Rendy mulai mencari alat pelacak yang sengaja dia tempelkan pada mobil taksi yang mengantarnya tadi pagi.


"Loh, kok lokasinya berada di sebuah rumah? Apa ini rumah sopir taksi itu?" ucap Rendy kebingungan.


"Atau jangan-jangan, ini rumah orang yang memberiku alat pelacak. Tidak mungkin jika sopir taksi itu tinggal di komplek yang khusus untuk orang kaya. Sama sekali tidak masuk akal." jelas Rendy.


"Baiklah, besok aku periksa. Kebetulan besok hari libur." ucap Rendy menutup laptopnya. Dia lalu menghampiri Kanaya yang sudah tertidur.


Rendy mengambil selimut lalu membalutkannya di tubuh Kanaya. Tatapan Rendy menjadi sendu melihat wajah Kanaya yang ketiduran.


"Mama bekerja keras karena aku. Dari lahir, aku selalu merepotkan mama. Apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menebus kebahagian mama yang tertinggal?" ucap Rendy sambil meneteskan air mata.


Beberapa bulan lalu, Kanaya pernah di ajak reuni oleh teman-teman SMA lewat grup whatsaap. Tetapi, banyak temannya jelas-jelas mengatakan jika Kanaya tidak pantas diajak. Hamil di luar nikah, tidak tahu ayah dari anak yang di kandungnya, membuat aib keluarganya bahkan tempat sekolahnya dulu, sampai ada teman-temannya yang menganggap Kanaya merusak harga diri mereka. Rendy yang sempat memegang ponsel mamanya dan membaca semua pesan itu, begitu marah. Dia langsung memghapus grup teman Kanaya dan memblokir satu per satu nomor teman mamanya.


"Maafkan, Rendy, Ma." air mata Rendy mengalir deras sampai mengenai wajah Kanaya.


"Hujan! Hujan! Bocor!" teriak Kanaya yang terbangun dengan wajah kaget.


"Apa tadi?" tanya Kanaya bingung. Tidak ada apapun yang basah dan Rendy juga sudah berbaring di dekatnya pura-pura tidur. Kanaya pun kembali membaringkan dirinya dan mengira itu hanya mimpi.


Keesokan Harinya...


Kanaya sengaja tidak membangunkan Rendy karena hari ini hari libur. Tetapi, sudah lama Kanaya memasak dan Rendy belum juga kunjung bangun. Akhirnya, Kanaya memeriksa tempat tidur Rendy dan terkejut melihat Rendy sudah tidak ada dan hanya sebuah guling yang di tutup selimut berhasil mengelabui Kanaya.


"Anak itu pergi ke mana lagi!" teriak Kanaya yang marah-marah.


Terdapat sebuah surat yang di tinggalkan Rendy di dekat tempat tidur. Kanaya pun bergegas membukanya.


"Mama tersayang, jangan kaget jika anakmu tiba-tiba menghilang. Tenang saja, dia baik-baik saja dan hanya keluar jalan-jalan sebentar. Jika mengajak mama, terlalu rempong. Dan jangan lupa, jangan berteriak seperti kesetanan, aku akan pulang sebelum jam waktu makan siang. Lope you mama tersayang." kata Kanaya yang membaca surat cinta Rendy.


"Awas saja jika kau pulang nanti, aku pastikan kau tidak akan berani pergi tanpa pamit lagi." ucap Kanaya sambil mengepal surat yang dibuat Rendy.


Sementara itu, orang yang sedang di tunggu Kanaya terus berjalan memutari setiap komplek mencari taksi yang dia tumpangi waktu itu. Tetapi, tidak ada satu pun taksi yang terparkir di halaman rumah.


"Sudah aku duga, orang pemilik pelacak itu yang mengambil alatnya. Kalau begitu, dia cukup gesit dan bergerak cepat. Aku sampai kalah selangkah darinya." ujar Rendy dengan wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2