
Pagi sekali, Rendy di ajak Kanaya menjemput seseorang di bandara. Rendy sampai harus bolos sekolah demi menemani mamanya datang ke bandara.
"Ma, apa kita punya keluarga yang tinggal di luar negeri? Kenapa kita harus berada di bandara?" tanya Rendy berjalan di belakang Kanaya berusaha mengikuti langkah kaki mamanya.
"Kau pasti tidak tahu, mama punya teman yang spesial dan hari ini dia mengabari jika dirinya sudah berada di bandara." ujar Kanaya dengan wajah senang dan riang.
"Mama dan dia tidak pacaran kan?"
"Mama harap bisa seperti itu." jawab Kanaya yang masih fokus mencari keberadaan orang yang dia anggap temannya.
"Gawat kalau begitu, papa sudah punya tunangan dan mama sekarang ingin punya pacar juga. Aduh, kepalaku seperti mau pecah." ucap Rendy dengan suara perlahan sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba, Kanaya melambaikan tangan dengan seseorang laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya sambil memegang kopernya. Dengan cepat Rendy melihat seperti apa orang yang ingin dijadikan mamanya pacar.
"Mama tidak salah pilih?" tanya Rendy membulatkan kedua matanya. Jelas sekali, Gilang jauh lebih baik dari pilihan mama-nya.
"Senior! Akhirnya, kau kembali." teriak Kanaya berlari menghampiri dengan senyum bahagia. Laki-laki itu pun berlari menghampiri Kanaya sambil membuka kedua tangannya seperti ingin memeluknya.
"Tidak boleh!" teriak Rendy menghentikan Kanaya dan orang asing itu berpelukan.
"Kau kenapa, Rendy?" tanya Kanaya menoleh ke arah anaknya dengan terheran-heran. Tidak biasanya Rendy berteriak dengan keras di depan umum.
Rendy melangkah, menjauhkan Kanaya dari seorang laki-laki di depannya sambil menatap tajam teman mama-nya itu.
"Maaf, paman. Anda tidak boleh menyentuh mamaku sampai memeluknya, aku sebagai anaknya sangat keberatan." ucap Rendy melarang sambil memberi tanda silang pada kedua tangannya.
"Oh, jadi ini Rendy yang sering kau cerita. Sudah sangat besar, Kanaya. Kalau begitu, kenalkan aku, Rendy. Aku senior Kanaya, namaku Reno." Ujar Reno sambil mengulurkan salah satu tangannya.
Rendy tidak menanggapi dan malah menatap Reno semakin tajam lagi dengan wajah cemberutnya lalu melipat kedua tangannya seolah memberi penolakan pada Reno. Reno jadi malu dan serba salah, begitu pun dengan Kanaya.
"Rendy!" panggil Kanaya mencoba menegur anaknya.
"Ha ha ha, kita belum pernah bertemu jadi belum akrab. Kau dan Kanaya persis seperti adik kakak saja." ucap Reno mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Bukan, dia mama-ku. Kau harus tahu itu." bantah Rendy sambil menunjuk Kanaya.
"Senior, sebaiknya kita langsung pergi saja. Aku rasa, suasana di sini terasa berbeda." kata Kanaya memberi kode kepada Reno.
"Baiklah." jawab Rendy tersenyum manis walau Rendy hanya membalas dengan mulut manyungnya.
Sepulang bertemu Reno, Rendy duduk di depan laptopnya sambil meregakan kedua tangannya bersiap mengetik. Tetapi, Kanaya datang dengan wajah memerah.
"Hei, Rendy! Apa maksudmu tadi, kenapa kau bersikap seperti itu pada senior mama?" teriak Kanaya dengan sapu di sebelah tangannya.
"Rendy tidak suka dia!" jawab Rendy dengan menggeleng kepalanya memberi tanda pada Kanaya.
"Kenapa tidak suka? Kau baru bertemu sudah bilang seperti itu. Kau tidak tahu seperti apa baiknya senior itu pada mama." balas Kanaya tidak mau kalah.
"Pokoknya Rendy tidak setuju jika mama sampai pacaran dengannya." balas Rendy tidak mau mengalah.
Dua orang, anak dan ibu saling berpandang dengan tajam lalu mengalihkan pandangannya seolah merajuk bersama-sama. Kanaya tidak mau bicara dengan Rendy karena kesal. Begitu pun dengan Rendy, dia sampai membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper kecil berwarna biru.
'Dia pikir bisa pergi dari sini? Ha, tidak mungkin. Rendy tidak tahu tempat lain selain di sini.' guman Kanaya sekilas memperhatikan apa yang dilakukan Rendy.
"Untuk apa? Kalau pergi silakan, kau pasti tidak berani." ucap Kanaya dengan wajah santai seolah menantang Rendy.
Rendy tidak punya pilihan selain bergerak maju, dia pun berjalan keluar dari kosannya dengan langkah kaki perlahan berniat mamanya memanggilnya kembali. Tetapi, Kanaya sama sekali tidak berteriak menahan dan malah membiarkan Rendy tetap berjalan sampai Rendy berada di luar kosan.
"Aku bertanya sekali lagi, apa mama tidak mau menahanku!" teriak Rendy terkesan memaksa.
"Tidak akan, pergi saja kalau berani!" teriak balik Kanaya.
Rendy lalu pergi, berjalan menuruni tangga dan menghentikan taksi. "Baiklah, aku ke rumah papa saja. Nanti juga mama bakal sadar kalau aku membawa semua uangku." ucap Rendy tersenyum penuh jahil.
*******
Gilang baru selesai rapat, dia pun kembali ke ruangannya untuk istirahat. Tiba-tiba pihak apartemennya menelpon padanya. "Iya?" kata Gilang dengan wajah tampak lelah dan lesu.
__ADS_1
"Apa? Anak kecil mencari diriku? Dia bilang anakku?" tanya Gilang dengan wajah terkejut sampai hampir terjatuh dari kursi tempat duduknya.
"Baik-baik. Aku segera ke sana." ucap Gilang pergi dengan cepat. Reyhan dan Mizuki yang baru ingin masuk memberi Gilang hasil rapat tadi, malah tertabrak dengan Gilang yang berlari keluar dari ruangannya.
"Lan, kau mau ke mana?" teriak Reyhan menoleh ke belakang.
"Dia seperti terburu-buru sekali. Apa sesuatu terjadi pada nenek?" tanya Mizuki yang menjadi panik.
"Entahlah, coba hubungi nenek." perintah Reyhan.
Gilang lalu menuju tempar parkir dimana mobilnya berada di sana. Kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi sampai lampu merah pun dia terobos. Setelah sampai di apartemennya, terlihat seorang anak sedang duduk sambil menudukkan kepalanya dan memegang lututnya. Gilang dengan cepat memeluk anak itu sebelum melihat wajahnya.
"Benar kau anakku?" bisik Gilang.
"Paman, bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu." ucap Rendy bersuara manis sekali menyambut Gilang. Gilang yang mendengar suara tidak asing, lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Rendy.
"Rendy!" ucap Gilang terkejut sampai dirinya membeku di tempatnya.
"Paman, boleh aku masuk ke dalam. Aku sudah lama menunggu, kakiku sudah tidak kuat berdiri lagi." kata Rendy meminta.
"Iya, tetapi kau harus..." kata Gilang terhenti karena Rendy memotong pembicaraannya dengan cepat.
"Aku akan menjelaskan kenapa diriku mengaku sebagai anak paman. Tetapi, boleh kita masuk sekarang, aku sudah capek berada di sini." ucap Rendy sambil menarik kopernya.
"Kau di usir Kanaya?" tanya Gilang yang baru melihat koper Rendy.
"Tidak seperti itu ceritanya, aku berniat kabur dari rumah dan mamaku tidak menahan diriku. Jadi aku terpaksa pergi." jelas Rendy dengan wajah imut dan polosnya.
"Benar-benar aneh, sebaiknya kita masuk ke dalam dan cerita lebih banyak lagi." kata Gilang yang merasa terhibur dengan kedatangan Rendy.
Setelah berada di dalam apartemen Gilang, Rendy mengeluarkan laptopnya dan mengirim email kepada Kanaya.
Mama jangan mencariku, aku sudah di culik papa.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan itu, Rendy menutup laptopnya dan bersiap memberitahu Gilang siapa dirinya sebenarnya.