Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 40. Keluarga


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok...


Pintu apartemen Gilang di ketuk dari luar membuat tiga orang yang asyik menikmati filmnya terganggu. Gilang dengan cepat berlari membuka pintu.


"Ne.. Nenek?" ucap Gilang terkejut melihat neneknyaa datang bersama Mizuki. Nenek Gilang hanya mengibas kipasnya dan berlalu masuk.


"Dia mau ikut, katanya ada sesuatu yang terjadi di sini." adu Mizuki.


"Aku ingin menikmati waktu bersama keluargaku, sekarang malah terganggu dengan kedatangan kalian." ucap Gilang dengan wajah lesu.


"Aku juga keluarga, kenapa kau merasa aku mengganggumu?" protes Mizuki.


"Bukan begitu, aku mencoba lebih akur dengan Kanaya dan Rendy. Kalian malah datang di waktu yang tidak tepat." jelas Gilang dengan kesal.


"Ha ha ha, yang sabar saja. Tetapi, Rendy baik-baik saja? Bukannya dia berlari membawa alat peledak tadi?" ucap Mizuki dengan wajah serius. Mizuki buru-buru masuk memastikannya sendiri daripada menunggu jawaban dari Gilang.


"Jadi anda Oma-ku?" tunjuk Rendy setelah di peluk oleh Nenek Rani.


"Kenapa bertanya?" ucap nenek Rani sambil tersenyum melihat wajah Rendy yang menggemaskan.


"Karena wajah Oma masih terlihat muda, seperti bukan Oma. Apa Oma tidak sering marah-marah sampai wajah Oma terus berkilau di mata Rendy?" sindir Rendy sambil melirik Kanaya sekilas.


'Anak itu sengaja menyindirku.' guman Kanaya yang tahu apa maksud perkataan anaknya.


"Kau luar biasa, cicit Oma memang anak luar biasa. Sekarang, cepat kemari biar Oma memeluk cicit oma sepuasnya." seru nenek Rani sambil membuka tangannya menyambut pelukan Rendy yang hangat.


"Nek, sudah selesai? Bukannya nenek di larang dokter untuk pergi-pergi sementara waktu?" tanya Gilang yang sengaja ingin membuat neneknya pulang. Dia masih ingin bersama Kanaya dan Rendy.


"Kau mengusir nenekmu, Lan?" ucap nenek Rani dengan menatap tajam ke arah Gilang.


"Bu.. Bukan begitu, aku hanya bertanya." jawab Gilang menggelak dengan cepat.

__ADS_1


"Nenek masih harus di sini menemani cicit nenek dan mengenal menantu nenek lebih dalam lagi. Bukan begitu anak cantik?" ucap nenek Rani sambil menoleh menatap Kanaya yang berdiri di sampingnya.


Kanaya pun yang mendapat pujian mendadak, terkejut. Dia hanya membelas dengan senyumannya.


"Kita ini keluarga jadi tidak perlu malu-malu. Ayo kita saling mengenal dengan baik, termasuk cicit Oma." ujar nenek Rani sambil mengelus kepala Rendy dengan wajah sendu. Dia tidak menyangka, umurnya yang sudah lansia akhirnya masih bisa melihat dan merasakan pelukan hangat dari cicitnya.


"Gilang, ada masalah!" teriak Reyhan yang menerobos masuk. Reyhan lalu terkejut ketika melihat semua orang berkumpul di apartemen Gilang.


"Kalian mengadakan acara, tetapi tidak memanggilku? Jahat sekali." ucap Reyhan yang berekspresi cemberut.


"Nah, itu namanya Reyhan. Dia itu cucu nenek juga sama dengan papa kamu. Jadi Rendy harus memanggilnya Uncle. Mengerti?" jelas nenek Rani sambil mengenalkan Rendy dengan Reyhan.


"Aku sudah kenal dengannya, Nek. Dia anak kecil yang genius itu kan?" sapa Reyhan sambil bertanya kepada Rendy.


"Lalu, yang itu namanya Mizuki. Dia juga cucu Oma?" tunjuk Rendy ke arah Mizuki yang bersandar di tembok.


"Bukan, aku anaknya." jawab Mizuki dengan singkat.


"Namaku, Kanaya, nek. Kadang ibuku memanggilku Naya atau Kanaya. Kalau Rendy memanggilku mama." ucap Kanaya memperkenalkan diri dengan malu-malu.


"Mamaku itu paling hobi marah-marah, Nek. Dia juga selalu tidak mau mengalah walau dirinya sudah kalah berkali-kali. Terus, mama juga sering sekali memberi perintah dan tidak mau di bantah. Kata nenek, mama masih belum dewasa dan Rendy jauh lebih dewasa dari mama." sahut Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Nenek Rani tersenyum.


"Hei, Rendy. Jangan asal bicara." tegur Kanaya masih dengan suara lemah lembut.


"Walau mama sering seperti itu, dia paling orang yang aku sayangi di dunia ini. Lihat saja, mama baru berusia 24 tahun dan sudah membesarkan anak berumur enam tahun. Luar biasa kan, Oma?" tanya Rendy sambil memuji-muji Kanaya.


"Tentu saja, seorang ibu memang selalu luar biasa. Oma beruntung, Kanaya mengurusmu dengan baik." jawab nenek Rani terus tersenyum penuh kesenangan. Bertemu Rendy adalah kejutan terbesar dalam hidupnya.


"Baiklah, aku tidak bisa mendengarkan pembicaraan kalian lebih lama lagi. Nenek silakan mengenal cicit dan menantu terbaik nenek. Aku dan Gilang ada urusan, jadi kami harus pergi dulu." ucap Reyhan berpamitan sambil menarik Gilang keluar dari apartemennya.


"Kau ini apa-apaan? Aku masih mau di sana mendengar pembicaraan keluargaku." protes Gilang yang di tarik paksa oleh Reyhan keluar.

__ADS_1


"Masalah ini jauh lebih penting saat ini. Apa kau tahu ada orang yang mengincar nyawamu?" tanya Reyhan berusaha menyadarkan Gilang.


"Siapa? Berani sekali dia denganku?" ucap Gilang yang kembali ke wajahnya yang datar dan menyeramkan.


"Orang yang menyimpang alat peledak di depan apartemenmu, dia sudah tertangkap petugas keamanan. Dia rupanya berada di sekitar sini ingin memastikan tujuannya berhasil. Beruntung, petugas keamanan bergerak cepat dan mengamankannya setelah melihat cctv." jelas Reyhan.


"Lalu?"


"Apa maksudmu lalu? Kita harus cari tahu siapa orang yang menyuruhnya?" ujar Reyhan yang semakin serius.


"Baiklah, kita pergi ke tempatnya sekarang dan menanyainya langsung." ucap Gilang.


"Aku boleh ikut, Pa?" sahut Rendy yang diam-diam bersembunyi dari balik pintu mendengarkan semua pembicaraan Gilang dan Reyhan. Dia baru keluar setelah mendengar Gilang dan Reyhan akan menemui orang itu.


"Apa? Kau yakin?" ucap Gilang menatap Rendy dengan tajam.


"Tentu saja, aku ingin memberinya juga pelajaran." jelas Rendy sambil berjalan lebih dulu. Reyhan dan Gilang saling berpandang, bingung melihat tingkah Rendy yang seperti orang dewasa.


Mobil Gilang melaju ke kantor polisi. Setelah beberapa menit, mereka bertiga sampai. Gilang, Reyhan, dan Rendy lalu turun dan menuju tempat sel dimana orang yang membawa alat peledak di depan apartemen Gilang berada.


"Jadi dia orangnya?" tanya Gilang memperhatikan laki-laki bertato yang duduk bersandar di dekat tembok. Mungkin sedang merenungi nasib malangnya.


"Iya, pak." ucap salah seorang petugas polisi yang membawa Gilang menemui tersangka.


"Apa paman sangat yakin?" tanya Rendy. Dia merasa ada yang aneh, sejenak postur tubuh orang di sel itu berbeda dengan apa yang dia lihat ketika mengintip melihat pelakunya meletakkan alat peledaknya.


"Tubuh orang itu tidak terlalu besar, kira-kira berat badannya hanya sekitar 40 kg sampai 50 kg. Tingginnya mencapai 180 cm. Kalau paman yang duduk itu, melihat tubuhnya yang agak gemuk bisa di simpulkan dia mempunyai berat badan di atas 60 kg." jelas Rendy dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tapi, memang dia pelakunya. Dia tertangkap basah berada di sekitar tempat kejadian." ucap pak polisi ngotot.


'Aneh, pelaku punya banyak waktu untuk kabur dari sana daripada memilih tinggal dan mengamati keadaan di sekitar. Walau orang itu terlihat mirip dari belakang, tetapi postur tubuhnya tidak mungkin sama. Orang yang menggunakan jaket hitam sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku membuat postur tubuhnya sekilas terlihat. Apa polisi salah menangkap pelaku yang sebenarnya?' guman Rendy yang terus berpikir dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2