Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 58. Tetap Bertahan


__ADS_3

"Jika anak pak Gilang tidak sadarkan selama satu minggu ini, kami harus mengambil tindakan melakukan operasi. Mungkin terjadi sesuatu dengan otaknya." jelas dokter sambil bicara dengan Gilang, sementara Kanaya dan Riani duduk melamun di kursi yang tidak jauh dari Gilang.


"Apa harus sejauh itu?" tanya Gilang ragu-ragu.


"Iya, pak Gilang. Melihat kondisi anak pak Gilang saat ini yang semakin lemah, aku sangat yakin jika dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Langkah yang kami lakukan adalah satu-satu harapan agar dia bisa kembali membuka matanya dan melihat pak Gilang sekeluarga." jelas sang dokter dengan wajah ramah dan sopan.


"Baiklah, nanti aku bicara dengan istriku dan membahas masalah ini. Terima kasih sebelumnya dokter." ucap Gilang sambil menganggukan kepalanya perlahan.


Sang dokter lalu pergi dari sana membuat Gilang bergeser ke tempat duduk yang ada di samping Kanaya. "Kata Dokter, kondisi Rendy semakin serius." ucap Gilang sambil menghela nafas kasar. Dia menjadi frustasi dan sedih, tidak tahu harus melakukan apa.


"Lalu bagaimana? Apa tidak ada yang bisa para dokter itu lakukan?" ucap Kanaya dengan wajah menunduk.


"Ada. Tetapi resikonya sangat besar, kemungkinan keberhasilnya sangat sedikit. Aku tidak yakin jika itu adalah jalan yang baik untuk Rendy." ucap Gilang sambil mengacak-acak rambutnya.


Tiba-tiba ponsel Riani berdering membuatnya segera pergi menjauh untuk mengangkat telepon. Gilang menoleh menatap Kanaya dengan lekat-lekat. "Apa kau yakin Rendy Ramadhan itu tidak melakukan apa-apa pada Rendy selain melompat ke kobaran api?" tanya Gilang yang merasa ada yang ganjal.


"Entahlah, saat aku datang hanya itu yang aku lihat." jawab Kanaya sambil menggeleng kepalanya.


"Seharusnya Rendy baik-baik saja jika hanya terbakar saja. Tetapi ini, kenapa otaknya di duga bermasalah?" tanya Gilang yang menjadi bingung.


Riani muncul dengan tergesah-gesah. "Kanaya, aku harus kembali ke kafe. Katanya, sedang ada masalah di sana. Kau tetap di sini dan temani Rendy saja, biar masalah ini aku yang mengurusnya." ucap Riani dengan wajah panik.


"Masalah apa?" tanya Kanaya yang sampai bangkit dari tempat duduknya.


"Aku tidak tahu, karyawan kita hanya menyuruhku untuk segera datang."


"Kalau begitu, kabari aku jika kau sudah sampai di kafe." ucap Kanaya seketika. Riani pun mengangguk lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah sakit. Kanaya dan Gilang hanya menatapnya dari tempat duduk mereka.

__ADS_1


"Aku harus pergi juga, aku ingin mencari tahu soal kebakaran ini. Nanti aku kirim Mizuki dan Nenek Rani untuk datang menemanimu." ucap Gilang yang bangkit.


"Tidak apa, aku bisa sendiri menjaga Rendy. Aku tidak mau membuat orang lain repot." jawab Kanaya yang ikut bangkit sambil berjalan masuk ke dalam kamar rawat Rendy.


"Rendy juga anakku, itu berarti keluargaku juga. Tetapi kenapa kau selalu mengatakan jika Rendy hanya milikmu saja?" ucap Gilang dengan ekspresi kecewa. Kesedihan yang di alami Kanaya seolah tidak ingin di bagi dengannya, padahal Gilang juga berhak sedih dan menanggung beban ini karena Rendy adalah anaknya juga.


Ketika memasuki mobilnya, Gilang menghubungi Reyhan sambil memperhatikan sekeliling rumah sakit. Dia takut terdapat seseorang yang mencurigakan yang ingin kembali mencelakai keluarganya.


"Iya, Lan. Ada apa?" tanya Reyhan dari seberang telepon.


"Kau ada di mana sekarang?" ucap Gilang dengan mata memutar.


"Masih ada di perusahaan? Kenapa, kau butuh sesuatu?"


"Rey, aku ingin pergi ke kafe Wins. Aku harus mencari tahu kejadian kebakaran ini. Tetapi aku takut meninggalkan Kanaya sendirian di rumah sakit. Tolong kirim beberapa orang kita untuk menjaga dia dan mengawasinya dari kejauhan." ucap Gilang.


"Bagaimana dengan urusanmu di perusahaan? Jangan bilang jika kau mau mengambil cuti?" tanya Gilang.


"Hei, aku kan ingin menjaga calon istrimu. Apa salahnya jika mengambil cuti sehari saja? Aku juga butuh ketenangan dari berkas-berkas yang menumpuk di atas mejaku." ucap Reyhan berterus terang.


"Jangan bilang jika aku harus membuat gajimu ikut tenang bulan ini?" ancam Gilang dengan alis mengerit.


"Baik, aku kirim lima orang ke rumah sakit sekarang." kata Reyhan sambil menutup panggilan teleponnya sepihak. Gilang hanya bisa geleng kepala melihat tingkah sepupunya itu.


Mobil Gilang melaju ke kafe Wins dimana masih terdapat garis kuning di sana. Polisi juga masih terlihat memeriksa tempat yang sudah terbakar ini. Gilang laku turun dari mobil dan berjalan mendekati polisi yang berjaga. "Apa sudah ada laporan mengenai kebakaran ini?" tanya Gilang to the point.


"Iya, pak Gilang. Untuk saat ini, kami menduga jika kebakaran ini terjadi karena di sengaja. Awalnya api berasal dari dapur yang sampai menjalar ke mana-mana. Karena di dapur terdapat banyak sekali bahan yang mudah terbakar, untuk itu apinya langsung membesar."

__ADS_1


"Lalu? Apa kau sudah bisa menemukan siapa pelakunya?" tanya Gilang dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Masih belum, pak Gilang."


"Cttv? Kenapa tidak melihat di cttv?" tanya Gilang seolah mengintrogasi polisi.


"Tidak ada cctv yang berfungsi. Setelah petugas damkar memadamkan apinya, kami bergegas mencari informasi lewat cctv kafe ini, tetapi sama sekali kosong. Tidak ada Cctv yang berfungsi sehingga sulit mengetahui pelakunya." ucap polisi dengan wajah ketakutan. Dia yakin sekali Gilang tidak akan suka dengan laporannya.


"Apa cttvnya mati saat kejadian bersamaan? Itu tidak mungkin, terus mencari. Kalian tidak akan bisa bersitirahat jika masalah kasus ini belum selesai. Ingat itu!" tunjuk Gilang sebelum pergi.


Gilang kembali berpikir di dalam mobilnya. Dia merasa banyak keanehan di sini. 'Setauku, keamanan kafe Wins begitu ketak. Lokasi dapur juga sangat jauh dari tempat pelayanan. Lalu, bagaimana bisa ada orang masuk ke sana dan membuat kebakaran? Itu mustahil. Pasti pelayan akan menghalanginya.' guman Gilang.


'Yang tidak aku mengerti, banyak cttv berada di kafe Wins ini. Bagaimana bisa satu pun cttv tidak aktif pada saat kebakaran ini terjadi? Apa ada orang yang menghapusnya sebelum polisi datang?' ucap Gilang yang semakin bingung.


"Hanya ada satu orang yang tahu masalah ini. Apa ini rencananya atau bukan, yang jelas dia pasti terlibat." ucap Gilang yang menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan cepat.


Gilang tiba-tiba merem mendadak ketika sampai di sebuah rumah dengan cat berwarna kuning. Gilang dengan cepat memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah itu membuat pemilik rumah terkejut.


"Apa kabar, pak Bait?" sapa Gilang dari dalam mobil yang menurunkan kaca jendela mobipnya agar pak Bait bisa melihatnya.


"Pa.. Pa.. Pak.. Gilang?" ucap Pak Bait yang terkejut setengah mati. Dia yang sedang bermain dengan anak-anaknya, seketika menjadi takut. Dia langsung memberi kode kepada kedua anaknya untuk segera masuk.


"Wah, pak Bait begitu ayah yang baik untuk kedua anak bapak sampai meluangkan waktu menemani mereka bermain. Maaf jika aku datang mendadak tanpa memberi kabar terlebih dulu." ucap Gilang sambil turun dari mobilnya.


"Tidak apa, pak Gilang. Aku senang pak Gilang datang berkunjung ke rumah." ucap Pak Bait yang berusaha menyembunyikan wajah gugupnya.


Pak Bait adalah pemilik sekaligus pengelola kafe Wins. Gilang yang sering menjadikan kafe Wins sebagai tempat pertemuan ketika menjalin kerja sama dengan perusahaan lain membuat Gilang kenal dengan pak Bait. Pak Bait selalu datang setiap hari ke kafenya untuk memastikan tidak ada masalah di kafenya itu.

__ADS_1


__ADS_2