Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
S2:


__ADS_3

Di depan perusahaan Gilang, Gadis tengah duduk menunggu kedatangan seseorang. Saat melihat wajah Rendy, Gadis berlari ke arahnya memeriksa setiap sudut di tubuh Rendy.


"Kau tak apa? Tidak terluka?" tanya Gadis dengan panik. Rendy menggeleng kepalanya, dia sudah tahu maksud perkataan Gadis.


"Syukurlah, kau tidak berhasil ditangkap. Aku pikir, kakekku melukaimu. Aku sangat takut dan tidak bisa tidur tenang. Ingin menghubungimu, tidak bisa. Kau tidak memberikan aku nomor ponselmu." ujar Gadis yang kembali tenang.


"Kenapa kakekmu ingin menangkapku?" tanya Rendy berpura-pura.


"Dia curiga aku terus diawasi. Sejak aku diculik, kakekku selalu gelisah. Karena itu, dia mengirim orang untuk menangkapmu. Dia pikir kau ada hubungannya dengan semua ini." jelas Gadis memberitahu Rendy.


"Baiklah, sampai jumpa nanti. Aku harus masuk dan bekerja." titah Rendy yang tersenyum manis sebelum meninggalkan Gadis. Saat itu, dua pasang mata mengawasi mereka. Ketika melihat Rendy masuk, dua orang itu mengikuti Rendy.


Di sebuah lorong belakang, Rendy langsung ditarik, tubuhnya dipukul hingga terbanting. Dua orang itu dengan sigap menarik Rendy memasuki lift.


"Apa yang kalian lakukan kepadaku? Aku hanya ob disini, tidak ada hubungannya dengan kalian." ujar Rendy membela diri.


"Kami tidak punya hubungan denganmu, tetapi tuan kami ingin bertemu." ujar salah satu diantara mereka yang memegang kerah baju Rendy dari belakang.


"Aku bisa lolos dengan mudah, tetapi tidak apa. Aku akan mengikuti permainan mereka." guman Rendy yang menundukkan kepalanya seolah dirinya sangat lemah.


Ting..


Mereka bertiga lalu keluar dan menyeret Rendy masuk ke gudang. Disana, lima orang peninggi perusahaan ayah Rendy berkumpul. Pak Wawan, pak Dirga, Pak Samsul, Pak Naksir, dan Pak Martin. Orang yang berpengaruh dan membantu perusahaan Gilang. Mereka juga orang kepercayaan Gilang.

__ADS_1


"Mereka?" ucap Rendy yang terkejut. Rupanya, orang itu yang berada di balik pengkhianatan karyawan Gilang.


"Dia orangnya?" tunjuk Martin.


"Iya, tuan. Dia yang sudah mengganggu calon istri anda." ucap mereka mengadu.


"Calon istri? Itu berarti, tuan mereka bukanlah kakek Gadis." umpat Rendy yang baru menyadarinya. Rendy kembali sadar, kakek Gadis hanyalah pion mereka saja.


"Dia seorang ob kan? Bagaimana latar belakang keluarganya?" tanya Martin yang mendongakkan kepala Rendy.


"Sudah aku urus, tuan. Dia tinggal seorang diri di kosan dekat perempatan. Orang tuanya telah tiada dan dia hanyalah anak yatim piatu. Aku mendapat informasi ini dari orang yang mengurus formulir pendaftaran karyawan di sini." ucapnya dengan lantang. Mata Rendy kembali membulat. Setaunya, formulir itu sangat rahasia dan hanya diketahui ayahnya saja. Bagaimana mereka bisa tahu semuanya?


"Pak, boleh aku bertanya. Bagaimana anda mengetahui identitasku secara lengkap?" Sahut Rendy dengan berani mengangkat tangannya menoleh ke arah dua orang yang membawanya.


"Kau sebaiknya diam, jangan banyak bicara!" teriak Pak Wawan sambil memukul wajah Rendy.


Senyum Rendy menggembang, wajah polosnya berhasil mengelabui Martin dan anak buahnya. Rendy pun dibebaskan dengan syarat harus menutup mulut.


Sepulang bekerja, Rendy kembali menemui Alex yang sibuk berolahraga. Rendy duduk tidak jauh dari Alex, kemudian melempar handuk ke wajah temannya.


"Berhenti! Aku perlu bicara!" titah Rendy dengan nada suara khas.


"Kau dalam masalah lagi? Syukurlah kalau kau dalam masalah. Kau itu pembohong!" balas Alex yang tidak mendengarkan titah Rendy.

__ADS_1


"Hei! Anak buahmu baik-baik saja? Musuh kita kemarin tampak kesal hari ini." ujar Rendy mulai berbicara dengan tersenyum manis agae Alex semakin jengkel dengannya.


"Anak buahku bukan orang lemah sepertimu."


"Bagus, karena aku punya masalah yang lebih besar. Rupanya, kita salah memberi pelajaran pada lawan. Musuh kita yang sebenarnya hanya lima orang." ucap Rendy yang mengeluarkan ponselnya dan mengirim foto pada Alex. Foto teman ayahnya yang merupakan peninggi khusus diperusahaan ayahnya.


"Aku sudah tandai orangnya, cari tahu tentang mereka, kemudian kita bergerak menghabisinya." ucap Rendy dengan santai.


"Bukannya mereka tidak ada di ruang rapat waktu itu?"


"Iya, aku baru sadar semua orang itu hanyalah pion. Kita hancurkan dulu pemeran utamanya kemudian pemeran sampingannya." ucap Rendy dengan wajah datar.


**


**


Sepulang dari tempat Alex, Rendy langsung pulang ke rumahnya. Dia masuk terburu-buru ke ruang kerja Gilang.


"Pa! Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rendy sambil duduk di depan Gilang.


"Ada apa? Kau berubah pikiran? Tidak ingin jadi ob lagi dan mau kembali ke perusahaan sebagai pengganti papa?" tanya Gilang dengan wajah antusias.


"Tidak, aku ingin membereskan pengkhianat diperusahaan kita terlebih dulu." ungkap Rendy dengan serius membuat Gilang terkejut.

__ADS_1


"Pengkhianat?"


"Iya."


__ADS_2