
"Kau habis menemukan Rendy di mana? Aku saja yang mencarinya hampir di seluruh tempat tidak berhasil." sahut Gilang yang telah lama menunggu Kanaya pulang bersama Rendy. Saat Kanaya dan Rendy membuka pintu, Gilang pun langsung menyerang dengan pertanyaan.
"Papa!" teriak Rendy yang berlari memeluk papanya, tetapi Gilang malah menghindar membuat Rendy bingung. Papanya bertingkah tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Pah?" tanya Rendy seketika sambil menatap wajah Gilang yang cemberut.
"Kau habis darimana, ha? Kenapa membuat aku khawatir saja. Tadi katamu mau langsung pulang menemui mama, tetapi masih saja berkeliaran di jalan. Bagaimana jika kau terluka, Rendy?" ucap Gilang dengan nada suara khawatir.
Gilang sampai menatap anaknya dengan tatapan sendu. Kanaya dengan cepat melempar tasnya ke arah Gilang. "Lebay banget jadi orang. Kamu itu sudah dewasa, masih bersikap kekanak-kanakkan. Dewasa sedikit kenapa sih?" bentak Kanaya.
"Begini caranya bertanya kepada anak." ujar Kanaya yang kini berhadapan dengan Rendy sambil mengatur nafasnya.
"Rendy! Kau habis dari mana? Berapa kali aku bilang, jangan berkeliaran sepulang sekolah! Kalau terjadi sesuatu sama kamu, bagaimana?" ujar Kanaya yang menekan suaranya agar bisa membuat anaknya takut.
"Terlalu keras. Jangan bicara seperti itu dengan Rendy ku. Aku tidak mau membentaknya." balas Gilang yang menolak pengajaran Kanaya.
Kanaya memukul kepala Gilang membuat Gilang kesakitan sampai memegang kepalanya. "Aduh, sakit tau!" ujar Gilang yang menoleh ke arah Kanaya.
"Tau kan kalau sakit. Ini anakmu jangan terlalu di sayang, nanti dia semakin melunjak." ucap Kanaya yang memasang wajah kesal sampai berjalan masuk ke dalam kamar dengan menghentakkan kedua kakinya.
Rendy dan Gilang sekilas memperhatikan cara jalan Kanaya yang berbeda, lalu saling menatap dan tersenyum senang. Mereka berdua melakukan tos secara diam-diam.
"Papa berhasil membuat mama kesal. Itu berarti, selangkah lagi papa bakal mengambil hati mama." ucap Rendy sambil mengajukan jari jempolnya.
"Mati dong berarti kalau hatinya sampai di ambil." canda Gilang yang tertaea terbahak-bahak.
"Husst, papa jangan keras-keras. Kuping mama itu seperti gajah, bisa mendengar walau dari kejauhan." tegur Rendy.
"Oke, Oke. Jadi, selanjutnya apa yang harus aku lakukan lagi untuk membuat mamamu menyukaiku?" tanya Gilang dengan suara perlahan dan wajah serius.
"Mudah. Setiap hari, buat mama kesal dan marah. Lalu, tinggalkan mama dan mama pasti akan sadar jika dia mencemaskan papa. Merindukan papa yang selalu membuatnya naik tensi. Bagaimana?" usul Rendy yang punya ide cemerlang.
"Bagus juga. Akan aku coba. Kamu harus dukung terus papamu!" kata Gilang dengan mantap.
"Oke to the sipp." jawab Rendy yang tidak keberatan.
__ADS_1
Malam harinya...
Ketika semua keluarga sudah berada di meja makan berkumpul untuk menikmati makan malam, Rendy mengedipkan mata ke arah papanya yang duduk di hadapannya seolah memberi kode untuk memulai rencananya. Gilang yang mengerti pun segera melakukannya.
"Kau yang masak yah, Kanaya?" tanya Gilang mulai beraksi.
"Iya, kenapa?" jawab Kanaya tanpa merasa curiga sama sekali. Dia tetap menyajikan sayuran di atas meja.
"Pasti rasanya tidak enak." kata Gilang yang belum mencobanya tetapi sudah mengeluarkan pendapatnya.
Nenek Rani, Reyhan, Alvin, dan Mizuki menatap Gilang dengan bingung. Tidak biasanya Gilang mengeluarkan pendapat yang bisa menghancurkan makanan mereka.
"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Kanaya mencoba memastikaannya, sementara Rendy menutup mulutnya dengan tangan berusaha menahan tawa.
"Lan, kau belum mencobanya sudah memberi pendapat. Bagaimana jika masakan Kanaya benar-benar tidak enak?" sahut Alvin yang membuat Kanaya semakin kesal.
"Jangan seperti itu. Kanaya sudah lelah memasak untuk makan malam kita. Sebaiknya kalian cicipi sebelum berkata." tegur nenek Rani.
"Benar. Cicipi dulu baru bicara." perintah Kanaya yang ingin membuktikannya jika masakannya tidak seburuk dengan pemikiran mereka berdua.
'Rasanya enak, tetapi sayang aku tidak boleh mengaku.' guman Gilang di dalam hati.
"Bagaimana rasanya?" tanya Mizuki yang penasaran.
"Ngak enak!" jawab Gilang dengan mantap bahkan terasa santai.
"Apa?" Kanaya membulatkan matanya mendengarnya. Emosinya yang masih bisa di tahan tadi kini tidak bisa di pendam lagi. Dia ingin mengeluarkannya sekarang juga.
Rendy yang melihatnya dengan cepat mengambil makanan untuknya atau dia tidak akan malam malam ini.
"Bagaimana denganmu, Alvin?" tanya Kanaya yang menoleh ke arah Alvin yang masih mengunyah.
Awalnya Alvin ingin berkata jujur, tetapi ketika melihat Gilang menatapnya seolah memberi kode untuk mengatakan tidak, Alvin menjadi ikut-ikutan. "Rasanya tidak enak sama sekali." ujar Alvin yang menatap Gilang tersenyum.
"Benarkah, bagaimana jika aku yang cicipi?" sahut Reyhan yang penasaran.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kau pasti akan berpihak kepada sepupumu. Sebaiknya semua makanan di depan ini hanya Nenek Rani dan Mizuki yang memakannya. Kalian bertiga tidak di bolehkan. Mengerti!" titah Kanaya yang menarik semua sayurannya dari hadapan tiga orang ini.
"Ma, bagaimana dengan Rendy? Rendy selalu menyukai masakan mama." ucap Rendy yang sudah menikmati makanannya lebih dulu.
"Boleh. Kau juga tidak menyahut atau membela mereka tadi. Jadi, hanya kita berempat saja yang makan." jelas Kanaya dengan pandangan tajam ke arah mereka bertiga.
"Loh, tidak bisa begitu, calon kakak ipar. Nanti aku tidak menerimamu menjadi kakak iparku." protes Alvin sambil membujuk Kanaya.
"Oh, masa? Tetapi maaf, kau sudah mengatakan tadi jika masakanku tidak enak jadi untuk apa kau memakannya?" ucap Kanaya sambil melirik sekilas Gilang karena tahu dalang dari semua masalahnya adalah Gilang.
"Masa sih aku berkata begitu?" kata Alvin dengan wajah sedih.
"Aku tidak mengatakan apapun tadi. Baru mau mencicipi saja sudah di tolak. Jadi aku makan apa, Nek?" tanya Reyhan yang berharap bisa mendapat pembelaan dari nenek Rani.
"Kalian semua tidak bisa menghabiskan semua makanan itu. Jadi biarkan kami memakannya." ucap Gilang yang kini merasa laper.
"Jangan mengemis, kalian sendiri yang mencari masalah." ucap Kanaya tetap pada pendiriannya.
"Nek, Mizuki, kalian makananlah. Kalau perlu jangan sisakan untuk siapapun. Kita habiskan bersama-sama." ucap Kanaya sambil menyodorkan nasi kepada nenek Rani untuk mulai makan.
"Ayo makan!" teriak Rendy yang bersemangat, sementara tiga orang di hadapannya hanya bisa meneguk ludahnya karena tidak mendapat apa-apa.
'Awas kau Rendy, kau yang memberi akal seperti ini. Aku malah menjadi laper. Dasar anak nakal.' guman Gilang yang merasa di tipu mentah-mentah oleh anaknya sendiri.
Malam semakin larut, Rendy masih sibuk dengan laptopnya. Dia mulai terlihat mengantuk dan bersiap ingin tidur. Tetapi, deringan ponsel Kanaya berdering membuat Rendy berjalan mengambilnya. Setelah melihat nama orang yang memanggil Kanaya adalah Senior, Rendy pun buru-buru mengangkatnya.
"Kanaya, aku butuh bantuan kami. Aku berada di jalan anggrek nomor 1. Tolong segera datang, aku tidak bisa bicara lama-lama. Seseorang sedang mengawasiku." ucap Ramadhan dengan panik.
Tut.. Tut.. Tut..
Panggilan berakhir dan membuat Rendy terkejut. Dia menjadi penasaran apa maksud dari perkataan Ramadhan. Rendy dengan cepat mengambil jaketnya dan diam-diam keluar dari kamar. Tetapi ketika sampai di ruang tamu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kau Rendy kan? Aku pikir tuyul." kata Alvin di tengah kegelapan.
"Uncle Alvin, Rendy sebenarnya..." ucap Rendy yang ingin menjelaskan dirinya ingin pergi memeriksa sesuatu, takut Alvin berteriak membuat semua orang yang sudah tertidur kembali bangun dan rencana Rendy pun untuk pergi menjadi gagal.
__ADS_1