
"Dasar bodoh, aku ini teman kamu. Rendy!" kata Rendy dengan tegas. Alex sampai bingung. Begitupun dengan bibi Unni. Dia membuka rambut palsu Rendy baru bisa percaya.
"Kenapa memakai pakaian seperti ini, Nak? Orang tua Rendy tidak mengajari Rendy berpakaian dengan benar?" tanya Bibi Unni yang merasa cemas dengan keadaan Rendy.
"Bukan begitu, Bi. Rendy pasti ingin bermain-main." bantah Alex menyalahkan Rendy sendiri.
"Iya, Bi. Aku hanya bermain. Boleh kan, Bi. Aku dan Alex pergi sendiri membeli mainan." tawar Rendy. Alex pun mengangguk.
Awalnya, Bibi Unni menolak. Dia tidak mau melepaskan Alex takut anak tuannya itu bermasalah. Tetapi Alex dan Rendy terus menyakinkannya sampai akhirnya Bibi Unni setuju. Mereka berdua pergi bersama mencari Mizuki.
"Bagaimana caranya dia menghilang, mol ini penuh dengan cttv. Mana ada orang menculik di tempat yang ramai dan terawasi?" ujar Alex berpikir jernih.
"Benar, cctv. Aku bisa lihat dimana kak Mizuki mulai menghilang." ujar Rendy yang baru sadar. Dia benar-benar bingung sampai tidak terpikir ide Alex ini. Mereka berdua lalu menuju ruang keamanan dan melihat cctv bersama.
Rendy jadi tahu, dirinya terus di ikuti ketika masuk ke dalam mol. Pria itu sudah menunggu Rendy lebih awal. "Dia tahu aku akan pergi ke mol. Kira-kira dia siapa?" ujar Rendy.
"Orang yang tidak suka dengan papamu. Bisa jadi kan, dia ingin balas dendam pada keluargamu. Lihat saja, dia sampai mengirim pesan." tunjuk Alex.
"Tidak mungkin. Aku yakin sekali dia hanya orang suruhan. Mungkin mengirim pesan pada atasannya." jelas Rendy yang punya pemikiran sendiri.
Tatapan mereka berdua masih fokus. Dia melihat Mizuki di bius dan di bawa masuk ke toilet. Rendy dan Alex menjadi tahu. Mereka keluar dari ruang keamanan dengan cepat sampai menabrak petugas yang baru ingin masuk.
"Apa yang di lakukan anak itu di dalam ruangan pengawasan? Tempat ini bukan tempat bermain." ujarnya.
"Sudahlah, Pak. Mereka juga sudah keluar." timpah temannya yang baru datang habis makan siang bersama.
Rendy masuk ke toilet pria dan memeriksa tiap kamar. Dia tidak menemukan Mizuki. Wajah Rendy semakin heran. Dia yakin sekali, dirinya tidak salah tempat.
__ADS_1
"Pria itu pasti sudah memindahkannya." kata Alex mengingatkan.
"Kita cari pria itu." perintah Rendy yang berjalan lebih dulu.
Rendy berkeliling dekat mol sampai akhirnya keluar dari mol. Tidak ada tanda-tanda seorang pria yang mencurigakan. Dia dan Alex terpaksa berpencar dan memeriksa parkiran.
Rendy yang berbelok ke kanan, lebih dulu melihat pria yang memakai haket hitam serta masker yang menutup wajahnya. Walau sudah tahu siapa pria itu, Rendy tetap santai berjalan menghampirinya. Duduk di dekat pria tersebut.
"Anak kecil, mau permen?" tanya pria itu ketika sadar jika Rendy berada di dekatnya.
"Boleh, Paman." jawab Rendy sambil menoleh. Orang itu segera memberi Rendy permen yang dia ambil dari saku celananya hingga Rendy memakannya seketika.
Ting..
Ponsel pria itu berdering. Dia mengambilnya dengan cepat dan membaca isi pesannya. Rendy mengintip sebentar lalu menghafal nomor yang mengirim pesan.
"087002002.." guman Rendy terus mengulangnya di dalam pikirannya.
[Polisi sudah menangkap orang suruhan bapak di dekat mol. Jika bapak melihat pesan ini, segera datang ke tempat parkiran mol dan melihatnya secara langsung. Orang suruhan bapak sudah membunuh satu orang perempuan yang bersama anak kecil bernama Rendy.]
Setelah selesai mengirim pesan, Rendy kembali duduk di dekat pria itu. Berusaha mencari ide untuk menghalau pria itu melihat pesan dari atasannya.
"Paman, uangku tadi sempat jatuh. Paman bisa mencarikannya untukku?" tanya Rendy sambil membujuk pria asing di depannya.
"Dimana jatuh?"
"Di dekat parkiran. Aku sibuk bermain dengan temanku sampai tidak sadar uangku jatuh." jelas Rendy. Pria itu sepertinya percaya hingga dirinya bangkit dan memeriksa tiap sudut.
__ADS_1
Rendy sadar ponsel pria tersebut berdering. Dia akhirnya menghapus pesan baru itu sebelum membukanya. Kemudian belari membantu pria asing yang sibuk mencari uang pura-pura Rendy.
Tidak berselang lama, muncul seorang yang Rendy kenal. Alvin. Alvin langsung menghampiri Rendy bersama pria asing itu.
"Loh, bos?" tunjuk pria itu pada Alvin.
Alvin membulatkan matanya menatap Rendy. Dia sadar jika pesan asing yang masuk ponselnya adalah ide Rendy. "Jadi begini Rendy mengatasi masalah. Dia memang cerdas, lebih cerdas dari Gilang." guman Alvin di dalam hati.
"Uncle sudah datang. Kenapa uncle melakukan semua ini? Kenapa Uncle mengkhianati papa?" tanya Rendy langsung tanpa bertele-tele. Dia sudah tahu semuanya meski Alvin tidak menjelaskannya. Hanya satu yang mengganggu Rendy. Alasan Alvin melakukannya.
"Aku minta maaf, Rendy. Aku terpaksa melakukannya. Aku ingin memberi lawanku masalah berat agar perusahaannya bangkrut. Tetapi, aku tidak bisa melakukannya kecuali harus bekerja sama dengannya terlebih dulu. Karena itu, aku membawa Bintang group ke dalam masalah ini." jelas Alvin.
"Apa uncle tahi seberapa besar masalah yang Uncle buat? Bisa saja usaha papa sia-sia. Bintang group sebentar lagi bangkrut." titah Rendy yang menjadi marah. Wajahnya sampai memerah dan dia terus menatap Alvin dengan tatapan tidak suka.
"Uncle tahu. Tetapi Uncle yakin, masalah sebesar apapun, Gilang pasti bisa mengatasinya. Percaya padaku." mohon Alvin.
"Tidak, aku akan beritahu papa. Siapa orang yang sudah membuat papa kesulitan. Lalu, untuk apa Uncle menyuruh pria asing ini mengawasi kami sampai berani menculik Mizuki?" tunjuk Rendy.
Alvin menatap orang suruhannya dengan tajam. Dia hanya memberi perintah untuk mengawasi bukan membuat keluarganya terluka.
"Dimana Mizuki?" tanya Alvin pada anak buahnya.
"Di mobil, Bos. Aku memindahkannya langsung karena banyak orang curiga jika dia berada di toilet dengan pintu terkunci." jelasnya sambil menundukkan diri.
"Maaf, Rendy. Aku tidak menyuruhnya untuk melakukan apapun pada kalian. Aku hanya ingin membuat dia mengawasi kalian. Biar aku bisa tahu pasti tempat kalian berada dan mengancam Gilang jika kalian berdua hilang." kata Alvin kembali.
"Baik, ayo kita pulang Uncle dan beritahu papa langsung. Jika papa sampai marah, Uncle sendiri yang akan tanggung jawab." ujar Rendy sambil naik ke mobil Alvin.
__ADS_1
Alvin terpaksa ikut walau dia tidak ingin mengatakannya langsung. Gilang pasti akan sangat kesal, hanya masalah pribadi Alvin sampai membuat perusahaan Gilang terlibat masalah.
"Tamat riwayatku. Kak Gilang pasti mengusirku." ujar Alvin yang tidak tenang. Rendy hanya diam sambil duduk di pojok belakang, memperhatikan wajah Alvin yang mengemudi. Dia yakin, Alvin pasti sangat kesal. Rendy paham, tetapi Rendy tidak bisa merahasiakannya pada Gilang. Gilang harus tahu dan lebih fokus lagi menjaga keluarganya.