Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
86. Memulai Kembali


__ADS_3

Tiga orang pria dengan gagah berjalan masuk di lorong hotel bintang lima. Mereka sudah janji dengan salah satu komplotan mafia. Tepat di kamar nomor 245, Tiga orang itu masuk bersamaan.


"Kalian sudah datang?" tanya seseorang dengan pakaian serba hitam lengkap dengan penutup wajah menyambutnya. Tidak lupa, terdapat sebuah pistol di atas meja.


"Dia Farhan, salah satu komplotan mafia terkuat." bisik Reyhan memperingati.


"Wah, entah mengapa kalian ingin turun menjadi mafia. Namun, ada banyak tantangan sebelum di akui. Nyawa kalian bisa menjadi taruhannya. Apa kalian sanggup?" tanya Farhan dengan wajah menakutkan. Dia membuka penutup wajahnya agar bisa di lihat Gilang, Alvin, dan Reyhan.


"Lan, aku tidak mau ikut-ikutan. Nyawaku cuma satu." titah Alvin yang melangkah mundur.


"Jadi, hanya dua orang saja?" tunjuk Farah pada Gilang dan Reyhan.


Reyhan melangkah mundur, memberi kode dirinya tidak ikut. Tetapi Gilang dengan santainya malah menghampiri Farhan.


"Aku tidak takut mati, banyak orang yang harus aku lindungi termasuk keluargaku sendiri." jawab Gilang dengan tegas. Nyali Farhan hampir menciut.


"Lalu, kapan kau mau di latih? Jangan salahkan diriku jika kau mati mendadak. Kau sendiri yang memilih hidupmu seperti ini." ujar Farhan yang terdengar menantang.

__ADS_1


Alvin menghampiri Gilang, lalu kembali berbisik. Reyhan ikut-ikut menguping.


"Lan, mundur saja. Kita tidak harus masuk ke klompotan mafia itu. Tidak ada gunanya, nyawamu bisa melayang. Pikirkan Rendy dan Kanaya." ujar Alvin membujuk.


"Justru karena aku memikirkannya, makanya aku harus melakukannya. Lawan kita bukan orang biasa. Dia seorang pengusaha yang licik, hampir membunuh keluargaku. Aku harus bertahan dan melawan balik." jawab Gilang tanpa berkedip. Wajahnya terus saja menghadap ke arah Farhan yang malah tersenyum sinis.


"Baiklah, itu keputusanmu. Aku terima tantanganmu." ujar Farhan yang menyulurkan tangannya memulai bekerja sama dengan Gilang.


"Terima kasih." jawab Gilang yang menjabat tangan Farhan. Reyhan dan Alvin terguncang, bukan mereka yang menjabat tangan Farhan, tetapi mereka berdua yang merasa merinding.


"Dia seperti hantu, aneh sekali." jawab Alvin yang banyak bicara.


"Loh, pak Gilang datang lagi? Kenapa terus datang ke sini, mencari Kanaya? Dia belum kembali dari desa." ujar Riani yang terheran dengan sikap Gilang.


"Tidak, aku hanya datang untuk melihat saja. Sepertinya banyak pelanggan di sini. Kafenya masih bertahan." ujar Gilang dengan tersenyum.


"Iya, begitulah pak Gilang. Kalau begitu, pak Gilang silakan liat-liat. Aku harus melayani pelanggan dulu." ujar Riani yang tergesah-gesah pergi.

__ADS_1


Dreet.. Dreet.. Dreet..


Ponsel Gilang berdering. Dia lalu duduk di kursi kosong dan mengangkat telepon anaknya.


"Kenapa, Rendy sayang. Ada kabar penting lagi?" tanya Gilang yang penasaran. Anaknya selalu memberi kabar update mengenai Kanaya.


"Pa, mama setuju menikah dengan papa. Bolehkan, Rendy menyusun resepsi untuk papa dan mama secepatnya?" tanya Rendy dari seberang telepon.


"Benarkah? Kau berhasil membujuknya. Kau memang anak pintar dan genius. Bisa di andalkan." ujar Gilang yang merasa senang. Dia sampai bangkit dengan berteriak keras. Semua orang terkejut mendengarnya.


"Oke, aku akan menjadi papa yang terbaik untuk Rendy dan suami yang paling baik di antara suami lainnya demi Mama Rendy. Rendy puas?" ucap Gilang.


"Pa, ada satu yang membuat Rendy khawatir. Rendy kirim videonya yah?" ujar Rendy yang segera mengakhiri telepon Gilang.


Karena penasaran, Gilang segera membukanya. Rupanya, Video itu memperlihatkan Rama yang kembali beraksi. Dia sering datang ke kafe Kanaya dan matanya terus saja mengamati sekeliling. Mungkin mencari keberadaan Kanaya.


Tertulis pesan Rendy di bawah.

__ADS_1


[Papa harus hati-hati. Rendy duga, orang mencurigakan itu mencari tahu keberadaan kita.]


__ADS_2