
Malam semakin larut, Rendy menjadi cemas. Pasalnya, Gilang belum pulang juga dan tidak mengabari apapun kepada Rendy. Rendy yang merasa gelisah, mondar mandir di depan tempat tidurnya sambil menunggu kepulangan Gilang. Berbeda dengan Kanaya yang tidur dengan nyenyak tanpa merasa terganggu sama sekali.
Rendy lalu duduk di kursi dekat tempat tidur sambil memikirkan apa yang terjadi dengan papanya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar membuat Rendy berlari keluar memeriksanya secepat mungkin.
"Papa!" teriak Rendy.
"Loh, kenapa belum tidur anak papa?" tanya Gilang sambil berlutut menyambut anaknya yang sedang berlari ke arahnya.
"Kenapa lama sekali di luar, Rendy sampai cemas loh." ucap Rendy memasang wajah cemberut.
"Bisa juga dia cemas, memangnya tahu apa masalah yang kita hadapi tadi? Dia kan masih anak kecil, belum mengerti apapun." sahut Alvin yang muncul dari belakang Gilang bersama Gilang.
Tak..
Reyhan memukul kepala Alvin setelah mendengar ejekan Alvin kepada Rendy. "Dia memang anak kecil, tetapi tahu lebih banyak daripada dirimu. Buktinya, dia merasa cemas saat Gilang tidak ada di rumah, lalu kamu? Merasa senang karena puas tidak masuk kerja." sindir Reyhan yang berjalan pergi setelah mengatakannya.
"Hei, Reyhan! Kau, dasar." ucap Alvin yang kesal lebih dulu. Alvin lalu menatap Rendy dengan mata melotot, ingin menakuti Rendy.
"Paman kok matanya mau keluar? Pakai mata palsu?" tunjuk Rendy dengan wajah polosnya membuat Gilang tersenyum sedikit.
"Apa? Kau tidak mengerti kode ini? Huff, dasar anak kecil." kata Alvin sebelum pergi berjalan ke dalam kamarnya.
Gilang lalu menatap Rendy, mengusap lembut rambut Rendy. "Ayo, kita masuk ke kamar. Biar papa temani Rendy tidur." ucap Gilang yang bangkit lalu menarik tangan Rendy untuk masuk ke dalam kamarnya.
Setelah sampai di dalam, Gilang terus saja tertawa melihat posisi tidur Kanaya yang sangat lucu. Bahkan tidak terlihat seperti Kanaya yang cantik dan memilik bakat.
Kaki Kanaya bergerak dan itu adalah kebiasaan ketika dia tertidur. Setelah berhenti bergerak-gerak, Kanaya mulai mendengkur.
"Ya ampun, ini pertama kalinya aku melihat gadis yang tidur dengan berantakan sekali." keluh Gilang.
__ADS_1
"Dia bukan seorang gadis. Gadis itu berarti belum punya anak, sementara mama sudah punya Rendy." jawab Rendy sambil menepuk pundak Gilang untuk sadar.
"Iya, papa lupa. Apa tidak sebaiknya Rendy tidur denganku saja? Rendy sudah sangat lama tidak tidur dengan papa?" bujuk Gilang sambil menatap wajah Rendy dengan lekat-lekat.
"Kenapa bukan papa saja yang tidur di dekatku? Mama pasti akan bangun jika Rendy tidak tidur di dekatnya." balas Rendy.
"Apa kau tidak lihat? Mama-mu sudah sangat tidur dengan nyenyak walau tanpa kau di dekatnya." ucap Gilang.
"No, setiap jam dua belas malam, mama selalu memeluk tubuhku. Jika aku tidak tidur di dekatnya, mama pasti akan langsung bangun. Nah, kita sudah bicaranya papa. Ini sudah jam sebelas malam, papa tidur dengan nyenyak juga. Rendy sudah mau tidur, sampai jumpa besok pagi." ucap Rendy yang mengucapkan selamat malam sebelum naik ke tempat tidurnya. Gilang hanya tersenyum sambil menghela nafas kasar.
"Bye, papa tidur di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa, langsung masuk saja. Papa tidak akan kunci pintunya." ucap Gilang sebelum menutup kamar Rendy dan Kanaya.
Gilang lalu masuk ke dalam kamarnya, dimana sudah ada Alvin yang tidur di sana. Dengan cepat, Gilang menarik kaki Alvin dan membuangnya ke lantai dengan kasar membuat Alvin terbangun.
"Wah, ada apa? Ada tsunami?" tanya Alvin yang bangkit dengan cepat sambil memegang tembok.
"Kau ini kenapa, Lan? Tumben marah-marah tengah malam?" tanya Alvin yang lupa jika Gilang tidak suka dimasuki kamarnya tanpa seizin.
"Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Gilang yang mendekati Alvin dengan perlahan.
"Hoo, ho, ho, aku tahu kau sudah lama tidak bersikap romantis karena sudah tidak punya tunangan. Tidak perlu melampiaskannya padaku." ucap Alvin yang baru menyadarinya setelah melihat tatapan menyeramkan Gilang yang sudah familiar dengan mata Alvin.
"Aku segera pergi, tadi hanya mampir sebentar. Aku pikir jika kau tidur di kamar sebelah, bukan di sini. Tetapi karena kau sudah muncul, maka aku persilakan." ucap Alvin yang berlari terbelit-belit keluar dari kamar Gilang.
"Dasar Alvin, suka sekali membuat moodku bermasalah." ucap Gilang dengan suara perlahan.
♡♡♡♡♡
Keesokan Harinya...
__ADS_1
Mentari bersinar terang ketika muncul di permukaan, dengan cepat sinarnya menyinari tiap sudut di dunia ini, tak terkecuali kamar Kanaya.
"Ma, Rendy harus berangkat ke sekolah hari ini. Sudah lama sekali Rendy absen." ucap Rendy sambil menggoyangkan kaki Kanaya. Setelah melihat kaki Kanaya begerak-gerak, Rendy baru berhenti.
"Ma, apa seperti tingkah mama ketika menginap di rumah nenek mertua? Mama tidak punya sopan santun? Kenapa tidak mama bangun pagi lalu membantu memasak dan menyiapkan sarapan, mungkin nenek mertua mama bakal memuji nanti. Mama langsung lolos menjadi menantu." jelas Rendy sambil mengajukan jari jempolnya.
Kanaya hanya membuka perlahan matanya lalu kembali menutupnya berniat bisa tidur dengan nyenyak lagi. Omongan Rendy seolah tidak membuatnya terbujuk untuk bangun pagi. Entah kenapa, Kanaya seolah malas bangun hari ini. Moodnya berubah menjadi tidak baik.
"Hemm, jangan menggangguku." ucap Kanaya yang berusaha kembali tertidur.
Brak..
Pintu kamar terbanting dengan keras membuat Kanaya kaget. Kanaya pun langsung bangun sambil menunduk dengan wajah malu. "Maaf, nek. Aku tidak akan bangun terlambat lagi. Aku bersiap ke dapur sekarang!" ucap Kanaya memohon-mohon tanpa melihat siapa yang dengan sengata membanting pintu kamarnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayo cepat bangun dan bantu aku bersiap untuk pergi ke sekolah. Sudah lama Rendy absen." kata Rendy yang meniru suara Oma-nya walau suara aslinya masih bisa di dengar Kanaya.
Kanaya yang kesal, menarik bantal dengan cepat sambil melempar ke arah Rendy. Rendy pun menunduk membuat bantal itu melayang ke wajah Gilang yang kebetulan datang ketika mendengar suara terbanting dari kamar Rendy.
"Maaf, pak Gilang. Aku tidak sengaja." ucap Kanaya dengan cepat ketika melihat wajah Gilang yang memerah.
"Ha ha ha, papa yang kena." ucap Rendy yang senang sekali sampai tertawa terbahak-bahak.
"Tidak apa-apa." jawab Gilang sambil menyembunyikan wajah masamnya.
"Pak Gilang tidak marah kan?" tanya Kanaya yang memeriksa wajah Gilang sambil menampar pipi Gilang dengan keras.
'Sekalian balas dendam, biar presdir sombong ini tahu rasa sakit kalau di tampar.' guman Kanaya yang baru bersemangat setelah menampar pipi Gilang.
"Tidak apa, aku tidak mungkin marah karena Rendy masih ada di sini dan melihat kita." ucap Gilang yang tahu maksud Kanaya. Gilang yakin sekali jika Kanaya sengaja mencari masalah dengannya.
__ADS_1