Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 22. Rencana Jahat.


__ADS_3

Pak Azal baru keluar rumah dan melihat Rendy berjalan-jalan di dekat lorong jalan. Senyum semuringai pun tercipta. Azal lalu membuka pagarnya dan menemui Rendy, berpura-pura tidak mengenalnya.


"Hei, nak. Kau kesasar?" tanya Azal sambil berjongkok menyatarakan tinggi Rendy.


"Paman tinggal di komplek sini?" tanya Rendy balik.


"Iya. Itu rumahku, mau mampir sebentar?" tawar Azal. Rendy memperhatikan sekilas rumah Azal lalu menggeleng kepalanya tandanya menolak.


"Tidak perlu malu-malu begitu." ucap Azal.


"Maaf, paman. Aku harus pulang." kata Rendy yang berbalik arah. Tentu saja, Azal tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia pun menarik Rendy paksa dan membekam mulut Rendy lalu membawanya masuk. Rendy berusaha memberontak, tetapi apalah dayanya, dia hanya anak kecil yang bertubuh kecil juga meski iq-nya tinggi.


"Akhirnya, aku menangkapmu dengan tanganku sendiri." kata Azal yang membawa Rendy masuk ke dalam rumahnya.


Alex tiba-tiba datang dan melihat temannya di bawa paksa oleh papa-nya. Dia pun mengikuti papa-nya diam-diam.


"Nah, kamu duduk tenang di sini anak kecil. Tunggu perintah dariku selanjutnya." kata Azal sambil mengikat Rendy di kursi.


"Paman ini orang jahat? Hati-hati paman, orang jahat bakal masuk penjara." bela Rendy.


"Anak kecil memberi ceramah padaku, itu tidak mempan. Sekarang, pikirkan cara kamu duduk tenang saja di sini sampai aku kembali." ujar Azal menepuk kepala Rendy, lalu pergi dari sana.


"Gawat, aku masuk jebakan penjahat." ucap Rendy yang berusaha melepas ikatan kencang Azal.


"Musuhku banyak juga, padahalkan aku masih anak kecil. Bagaimana kalau besar nanti, pasti sudah beribu-ribu. Aku harus menemukan orang hebat yang bisa melindungiku." kata Rendy dengan wajah kesal.


Dari balik tembok, Alex bersembunyi ketika papanya keluar setelah mengikat Rendy. Alex menjadi takut, sebelumnya dia juga pernah di ikat seperti itu oleh Rendy. Malah, dirinya lebih sadis karena di ikat berhari-hari.


"Bagaimana ini, apa aku harus membantu Rendy kabur dari sini? Tetapi, aku juga yang akan dapat masalah nanti." ucap Alex ragu-ragu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku pura-pura tidak lihat saja, Rendy juga tidak tahu jika ini rumahku. Sebaiknya aku tidak memperlihatkan diriku pada Rendy." kata Alex yang berlari pergi dari sana.


Di depan teras rumah, Azal mondar mandir setelah mengabari sang kekasih jika tawanannya berhasil dia dapatkan. Tidak butuh waktu lama, sebuah mobil datang dan turun seseorang yang bertubuh langsing dengan pakaian seksi-nya.


"Sebentar lagi, kau bisa menikah dengan Gilang. Aku berhasil menangkap anaknya." ucap Azal memasang wajah senang.


Friska mengeritkan kedua alisnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Kau sudah pastikan dia anak yang di cari Gilang?" tanya Friska dengan suara datar dan dinginnya.


"Iya. Anak itu datang sendiri ke rumahku dan aku langsung menculiknya. Luar biasa kan, itu yang dinamakan rezeki tidak di patut ayam." jawab Azal yang menari-nari di depan Friska.


"Bagus, ini kesempatan bagiku untuk mendapatkan Gilang seutuhnya. Setelah itu, perusahaannya akan jatuh ke tanganku dan aku pun bisa kaya mendadak." kata Friska penuh ambisi.


"Jangan lupakan aku, aku yang selalu setia membantumu sampai detik ini. Bahkan, aku yang terpaksa menabur benih di rahimmu agar bisa menjebak Gilang jika itu anaknya." ujar Azal dengan tersenyum miring.


"Kau juga menikmati tubuhku jadi usahamu itu tidak sia-sia." ucap Friska dengan enteng.


"Iya, karena tubuhmu memang menggoda." kata Azal sambil mendekatkan dirinya memeluk Friska. Friska menepis tangannya dan bangkit dengan cepat.


"Baiklah. Dia aku ikat di kursi meja makan. Kita lihat sekarang." kata Azal menarik Friska berjalan bersama.


Sementara itu, Rendy terus berusaha melepas ikatan tali yang melilit tubuhnya ini sampai kursinya terjatuh. Karena mendengar suara besar dari arah dapur, bibi Unni datang dan terkejut melihat ada anak kecil tak di kenal terikat di kursi.


"Ya ampun, kau siapa nak. Kok bisa ada di sini?" tanya Bibi Unni yang berusaha melepas ikatan tali di tubuh Rendy.


"Namaku, Rendy. Terima kasih sudah membantu, Bi. Apa di sini ada pintu keluar dekat dapur?" tanya Rendy yang tahu jika orang yang membantunya adalah pembantu rumah di sini setelah melihat pakaian yang di kenakan bibi Unni.


"Iya, ada. Kenapa bertanya?"


"Tidak apa, kalau begitu aku pergi dulu, Bi. Terima kasih banyak sekali lagi, nanti aku balas kebaikan bibi." ujar Rendy yang berlari dengan cepat dari sana. Bibi Unni hanya mematung melihat tingkah Rendy.

__ADS_1


"Loh, anak itu pergi ke mana, Bi!" teriak Azal yang baru datang dan melihat kursi tempat Rendy di ikat sudah kosong. Di sana juga Bibi Unni terlihat berdiri mematung.


"Oh, anak kecil tadi, pak. Dia sudah pergi." jawab Bibi Unni berterus terang.


"Apa?" Azal bagai di sambar petir, wajahnya sampai memerah dan kedua tangannya tergepal keras.


"Rendy berhasil lolos. Aku harus melakukan cara apa lagi, ha? Ini semua salah bibi yang selalu ikut campur urusanku." ucap Azal berteriak dengan marah.


"Apa maksudmu anak yang kau culik itu, Rendy?" tanya Friska yang mendengar Azal menyebut Rendy.


"Iya, dia anaknya Gilang kan?"


"Kau sudah gila? Dia bukan anaknya Gilang. Dia itu anaknya Kanaya, bodoh!" teriak Friska sambil menampar pipi Azal.


"Apa? Bukannya dia itu anaknya Gilang? Alex bilang melihat Gilang menjemput Rendy sepulang sekolah." ucap Azal tidak mau kalah.


"Dasar bodoh. Apa jika di jemput Gilang kau berasumsi Rendy anaknya Gilang, ha? Kalau sopir taksi yang menjemput Rendy, maka dia juga ayahnya Rendy?" tanya Friska sambil menyilangkan kedua tangannya, kecewa berat dengan Azal.


"Jadi begitu," ucap Azal yang sadar.


"Beruntung anak itu kabur lebih dulu sebelum melihatku, aku bisa berurusan dengannya jika dia sampai mengadu ke mamanya." ucap Friska yang bernafas lega.


"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Azal yang kebingungan.


"Kita terpaksa harus menjebak Gilang agar mau tidur denganku. Setelah itu, aku pura-pura hamil anaknya walau jelas itu bukan anaknya. Hanya itu cara kita satu-satunya saat ini." Usul Friska.


"Baiklah, kita jalankan malam ini juga. Aku akan temui Gilang dan buat dia mabuk berat dan kau bersiap di hotel menungguku membawa Gilang ke sana. Mengerti?" kata Azal menyusun rencana.


"Iya, aku mengerti." jawab Friska.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan mereka, diam-diam Rendy bersembunyi dan mendengar semua pembicaraan mereka. Rendy bahkan sampai merekam semuanya dari awal. Senyum Rendy pun tercipta dari bibir mungilnya. 'Dia tidak tahu saja sedang berurusan dengan siapa.' guman Rendy.


__ADS_2