
Ceklek..
Pintu terbuka dan terlihat dua orang polisi. Rendy langsung tersenyum ramah menyambutnya. "Pak polisi sedang apa di depan rumahku?" tanya Rendy dengan polos.
Salah satu polisi berjongkok menyetarakan tinggi Rendy, lalu berkata "Kedua orang tuamu dimana, Nak? Kau sendirian di sini?" tanya pak polisi dengan tersenyum ramah.
"Aku tidak punya papa dan hanya ada mama yang tidur di dalam. Pak Polisi mau masuk dan melihatnya?" tanya Rendy basa-basi.
"Kami harus masuk untuk memeriksa sesuatu. Mohon kerja samanya, dik." ucap polisi sambil membuka pintu dengan lebar.
Rendy berteriak keras membangunkan Kanaya. Pak polisi sampai bingung melihat tingkah Rendy yang mendadak berteriak.
"Ada apa, Rendy!" teriak Kanaya yang terbangun dengan wajah bingung. Kanaya langsung membulat ketika melihat Rendy bersama kedua polisi.
'Ya ampun, anakku di tangkap polisi.' guman Kanaya yang berlari dengan cepat menarik anaknya dari genggaman pak polisi.
"Tolong jangan tangkap anakku, dia masih kecil. Dia hanya tidak sengaja melakukan tindak kejahatan. Dia masih harus tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu." ucap Kanaya yang memeluk tubuh Rendy dengan erat.
"Maksud mama, apa? Polisi hanya datang ingin memeriksa sesuatu, bukan untuk menangkapku." jelas Rendy seketika sambil menyembunyikan senyum manisnya.
"Apa?" Kanaya mendongak dan berdiri dengan wajah santai. Dia kemudian bertanya dengan nada suara arogannya.
"Apa itu benar pak polisi?" tanya Kanay seketika sambil menatap satu per satu wajah polisi bergantian
"Itu benar, Bu. Ada sesuatu yang kami cari di sini. Katanya, pembobol Bintang group tinggal di kosan ini." sahut polisi menjelaskan.
"Pembobol?"
"Iya, mungkin orangnya sudah pergi dan menyembunyikan barang bukti di sini. Tolong menyingkir dan biarkan kami mencari bukti itu." ucap Polisi sambil mengeledah tiap sudut rumah Kanaya.
Kanaya mematung dengan wajah memerah. Dia tahu siapa yang membuat ulah tengah malam.
"Aduh, sepertinya tidak ada apapun di sini." ucap Polisi yang sedikit membuat hati Kanaya lega.
__ADS_1
"Tetapi, apa kalian punya komputer, laptop, atau ponsel?" tanya polisi sambil menatap wajah Kanaya.
"Komputer, aku tidak punya. Tetapi untuk ponsel, aku punya. Biar aku ambilkan!" kata Kanaya yang berjalan mengambil ponselnya di atas meja lalu menyerahkan kepada polisi.
"Laptop?" tanya polisi.
"Mungkin.." Kata Kanaya terjeda ketika Rendy langsung menjawab dengan berteriak.
"Aku punya laptop, pak polisi. Aku ambilkan." ucap Rendy dengan suara tinggi membuat Kanaya semakin emosi. Bagaimana tidak, laptop Rendy yang digunakan untuk membobol perusahaan Gilang, pasti menyimpang jejak di sana. Polisi bisa menemukan buktinya dengan mudah.
'Apa anak ini sudah gila? Kalau ketahuan kan bisa gawat, aku yang akan di penjara nanti.' umpat Kanaya dari dalam hatinya sambil memaksakan senyumannya.
"Baiklah, aku periksa dulu." ucap pak polisi sambil mengetik laptop Rendy. Rendy kembali duduk di samping mama nya.
"Kenapa hawa di sini terasa tidak enak?" ucap Rendy dengan suara perlahan ketika melihat wajah Kanaya yang memerah.
"Sepertinya, ada setan yang sedang bersembunyi. Aku pindah duduk di dekat polisi saja." ucap Rendy sengaja menyindir Kanaya.
Wajah polisi tampak bingung, sudah beberapa menit dia memeriksa ponsel maupun laptop Rendy, tidak menemukan apapun. Pak polisi pun menyerah dan memberi laporan.
"Pak, sepertinya tidak ada yang mencurigakan di sini. Laptop dan ponselnya, semuanya bersih."
"Benarkah?" tanya polisi yang satunya lagi.
"Benar, pak. Dari awalkan, aku sudah yakin jika mereka bukan pelakunya. Orang yang membobol perusahaan mempunyai otak yang cerdik dan pintar. Tidak mungkin mereka." kata pak polisi seolah tidak percaya.
"Itu benar. Baiklah, kita harus kembali dan memberi laporan kepada pimpinan."
"Terima kasih untuk kerja samanya, maaf mengganggu malam-malam." ucap kedua pak polisi sambil berjalan keluar dari kosan sempit Kanaya.
"Sama-sama, pak Polisi. Lain kali mampir ke sini lagi." teriak Rendy melambaikan tangannya.
"Anak ini.." Kanaya semakin kesal sampai mengepal kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku yakin, kita salah tempat. Tidak ada apapun di kosan itu, bahkan tanda merah yang kita lihat tadi dari peta sudah hilang. Mungkin pelakunya sudah pergi dari tempat ini."
"Itu tidak mungkin, kita sudah menutup semua jalan. Bagaimana dia bisa lolos?" tanya Polisi satunya yang mengeluarkan pendapatnya.
Di dalam kosan, Rendy membuka laptopnya. Dia berhasil menghapus semua virus sebelum polisi datang. Bahkan lokasi yang sempat terbaca hilang seketika. "Aku memang ahli mengurus hal seperti ini." ucap Rendy dengan wajah berbinar-binar. Banyak keuntungan yang dia dapat. Usianya masih kecil, semua orang tidak akan percaya jika dia mempunyai kemampuan membobol keamanan sebuah perusahaan. Mereka semua akan ragu jika melihat Rendy dan langsung menepis Rendy sebagai pelakunya.
"Hei, anak nakal. Apa yang sudah kau lakukan?" teriak Kanaya yang tidak bisa menahan emosinya lagi. Tubuhnya sudah membara memendamnya.
"Aku hanya bekerja, Ma. Tetapi Mama tiba-tiba datang dan menutup laptopku. Aku sampai lupa harus menghapus jejakku dari virus yang aku kirim. Jadi, mereka bisa tahu lokasi kita." jelas Rendy.
"Aku tidak peduli apa penjelasanmu. Lain kali, jangan sampai kau mengulanginya lagi. Kau tahu kan, aku hampir saja mati karena gugup tadi." teriak Kanaya sambil menunjuk Rendy.
"Hei tetangga sebelah, jangan berisik!" teriak penghuni rumah yang tidak jauh dari kosan Kanaya.
Kanaya pun terpaksa berhenti mengomel dan kembali membaringkan dirinya bersama Rendy di tempat tidur. Rendy langsung tertidur, sementara Kanaya menatap wajah Rendy dan menarik selimut untuk anaknya itu.
"Maaf," katanya yang tersenyum lalu kembali tidur.
Keesokan Harinya...
Gilang menendang kursi di hadapannya. Masih pagi, dia harus emosi mendengar anggotanya tidak bisa menangkap pembobol perusahaannya. "Kalian semua tidak becus bekerja. Apa sudah tidak mau bekerja lagi?" tanya Rendy dengan suara berteriak.
"Maaf, pak. Kali ini, pelakunya sulit sekali di tebak. Pertama dia memberi lokasinya kepada kami dan saat kepolisian datang, lokasinya masih bisa di lihat. Tetapi ketika fokus dengan satu rumah yang menurut kami pelakunya ada di sana, lokasinya langsung menghilang. Mungkin kita di tipu, pak."
"Lalu, apa?" tanya Gilang yang semakin marah. Ini pertama kalinya ada orang yang berhasil membobol perusahaannya.
"Aku benar-benar pusing. Sebentar lagi hari pernikahanku dan aku malah di buat sibuk dengan orang itu. Bagaimana jika dia datang dan membobol lagi? Perbaiki keamanan perusahaan kita, kalau perlu tingkatkan keamanannya." titah Gilang berteriak keras sambil memegang kepalanya merasa pusing.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ketika membukanya, Gilang terkejut. Dia mendapat pesan dari orang yang membobol perusahaan semalam.
[Aku akan menjual data perusahaanmu yang sudah aku ambil kemarin. Kalau kau ingin mengambilnya kembali, datang ke kafe Wins dan temui aku.]
__ADS_1