
Rendy keluar dengan mata tajam seperti pisau yang berkilau. Dia menarik ponselnya dan mengirim pesan pada papanya.
"Aku pulang terlambat hari ini, tolong papa beritahu mama. Aku tidak mau dia khawatir." ujar Rendy sambil menulis pesan singkat itu.
Di ruang direktur, Gilang tengah membaca laporan.Matanya terus saja memeriksa laporan itu sejak pagi tadi. Hingga akhirnya, dia kalah. Melempar laporan itu ke lantai.
"Dimana aku harus menemukan bukti itu?" tanya Gilang yang kesal. Sejujurnya, dia sudah curiga, seseorang tengah bermain dengannya dua tahun lalu. Tetapi sampai sekarang, Gilang belum mendapat titik terang darimasalahnya ini. Karena tidak bisa menutupinya lagi, Gilang memberitahu Rendy. Dan anaknya memang suka dengan hal yang menantang.
Ting..
Pesan masuk di ponselnya, segera Gilang membukanya. Alisnya mengerit melihat permintaan aneh dari anak tersayangnya. "Apa terjadi sesuatu dengannya?" umpat Gilang yang cemas.
Gilang segera keluar disambut anggukan oleh sekertarisnya. Mereka berjalan bersama dimana tempat ob bekerja.
"Pak Gilang, apa yang kita lakukan disini? Apa anda ingin minum kopi?" tanya sekertaris baru Gilang yang bernama Rasya.
"Tidak, aku hanya ingin melihat-lihat saja." kata Gilang yang terus memperhatikan tiap orang yang bekerja. Matanya memutar, mencari keberadaan sang anak.
"Pak Gilang, kita ada rapat siang ini. Tolong laporan yang aku berikan pagi tadi sudah ditanda tangani." Salah satu peninggi perusahaan datang menghadap Gilang dengan menundukkan kepalanya.
Rendy tidak sengaja melihat papanya bertemu dengan peninggi itu yang sempat memarahinya tadi. Tidak lama, Gilang dan orang itu pergi bersamaan.
"Jadi, seperti itu cara dia mengambil hati papaku. Benar-benar konyol." ucap Rendy yang tersenyum sinis.
Hitungan jam berlalu, kini Rendy sudah keluar dari tempatnya bekerja. Dia harus bersabar dan lebih bersabar menghadapi teman kerjanya yang terus saja merendahkan dirinya. Al-hasil, Rendy harus menahan diri untuk tidak melawan mereka. Jangan sampai, identitasnya ketahuan hanya karena dirinya yang melawan orang tidak penting itu.
__ADS_1
Rendy berjalan memasuki gang sempit, tidak lama sebuah mobil sedan putih juga datang ke lorong itu. Pemilik mobil itu, turun ketika melihat Rendy yang menunggu di ujung lorong jalan.
"Kenapa baru bisa bertemu kawan? Apa sedang sibuk bekerja sebagai ob?" ejek Alex sambil tertawa terkekeh.
"Informasi tentangku cepat sekali tersebar. Padahal hari ini baru pertama kali aku bekerja. Kau senggang?" balas Rendy sambil tersenyum sinis.
"What? Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Alex yang mengerti maksud Rendy.
"Hal seru dan lebih seru dari berantem. Ini taktik dan juga peringatan bagi mereka yang sudah mempermainkan keluargaku. Mau mencobanya?" ajak Rendy sambil mengulurkan sebelah tangannya. Alex segera menyambutnya tanpa menunggu lama.
Mereka berdua lalu menemui preman yang bisa diajak kerja sama. Alex mengeluarkan uangnya yang menumpuk membuat mata semua preman membulat. Beginilah cara Alex membujuk kaum jahat untuk berbuat jahat.
"Setelah mereka membuat kekacauan, kita langsung masuk mengendap-endap. Terdapat pagar yang tingginya tidak seberapa. Aku harap, kau bisa memanjatnya." jelas Rendy yang mengintai di depan perusahaan papanya.
"Aku ingin memeriksa sesuatu. Bukannya, anak genius selalu melakukan hal berbahaya karena dia lebih pandai dari kebanyakan anak lainnya?" balas Rendy.
"Oke, aku biarkan kau yang memimpin kali ini." Jawab Alex yang tidak mau bicara lagi. Kesenangan yang dijanjikan Rendy berbeda dari harapannya.
"Ayo cepat, masuk!" teriak Rendy yang berlari disusul Alex. Rupanya, preman suruhannya telah memukul dua orang satpam yang berjaga hingga pingsan.
"Lalu, kita mau apa?" tanya Alex yang melihat Rendy masuk ke ruang pengawas.
"Memeriksa cctv. Aku ingin tahu, apa terdapat kamera cctv di ruangan tadi." jawab Rendy yang sibuk menggerakkan mouse. Tidak lama, wajahnya ditekuk membuat Alex bingung.
"Kenapa lagi? tidak sesuai dugaanmu?" tanya Alex seketika.
__ADS_1
"Memang benar. Mereka tidak memasang cctv diruangan tadi. Apa itu ruangan rahasia yang tidak diketahui papaku? Tetapi, papaku yang punya perusahaan. Masa iya, tidak mengetahui ruangan tadi." ucap Rendy yang menepuk meja karena bingung.
"Pasang saja cctv di ruangan itu. Jangan lupa, pakai alat perekam juga. Kalian bisa dengar apa yang mereka bicarakan." Ucap Alex memberi saran.
"Itu tidak seru. Lebih baik, buat peringatan yang lebih melekat dihati mereka. Mereka semua akan ingat sepanjang hidupnya." kata Rendy dengan tersenyum sinis. Dia dan Alex lalu keluar dari ruang pengawas, dimana beberapa anak buah telah sampai mengejarnya.
"Pengawas perusahaanmu lebih cepat juga bergerak. Apa mereka tidak tahu, kau sendiri yang mencari masalah dengan papamu?" tanya Alex yang bersembunyi dibelakang Rendy.
"Mereka diperkerjakan oleh papaku. Tetapi, entah mereka memilih dijalan yang sama atau tidak. Aku tidak tahu." kata Rendy yang mengintip dari balik tembok. Setelah merasa aman, Rendy lalu berjalan pergi dengan mengendap-endap seperti pencuri di perusahaannya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, Rendy berhasil keluar dengan mudah bersama Alex. Mereka berdua menuju markas rahasia Alex yang dibangun dibawah tanah.
"Aku sudah lama menunggu waktu ini. Karena itu, aku tidak hentinya melatih anak buahku terus menerus." Ungkap Alex dengan bangga.
"Suruh mereka menangkap satu anak dari tiap orang di peninggi perusahaanku. Jangan lupa, kirim pesan ancaman jika kau akan membunuh mereka jika tidak memberimu sebuah rahasia tentang perusahaan papaku." jelas Rendy yang menekan perkataannya.
"Wah, ini yang dimaksud, mengotak atik pertahanan musuh. Mereka pasti bingung harus memilih yang mana. Harta atau anak. Ha ha ha!" tawa Alex melengking, dirinya sangat senang. Dia pernah merasakannya, saat itu usianya masih muda dan dijadikan sandra oleh musuh papanya. Luar biasa, hal itu membuat papanya memilih jalan buntuh.
"Siapkan anak buahmu, aku akan mengawasinya satu per satu." ujar Rendy yang keluar dari sana dan segera masuk ke dalam mobil Alex.
"Dia memang suka memerintah. Tidak tahu apa, aku juga bisa menyerangnya. Tetapi sayang, dia teman satu-satuku yang paling berharga." kata Alex yang segera berlari menemui anak buahnya yang tersembunyi.
Rendy kini memarkir mobil Alex tidak jauh dari salah satu rumah yang menjadi targetnya. Dilihat seorang gadis yang dia kenal, tengah berjalan keluar darisana. Tanpa menunggu lama, anak buah Alex langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil. Meski anak itu memberontak, dia tidak bisa lolos.
"Ya ampun, kenapa harus gadis itu. Apa aku harus membantunya?" tanya Rendy yang menepuk kepalanya. Dia lupa memberitahu Alex, terdapat anak yang dikenalnya.
__ADS_1