Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 19. Menangkap Sang Penculik


__ADS_3

Malam harinya, Rendy sibuk memotret taburan bintang-bintang yang kerlap kerlip di langit. Dia terus memotret sampai tidak sadar jika Kanaya sudah berdiri di dekatnya sambil memegang dua cangkir.


"Rendy, berapa lama baru kau selesai. Kau sudah hampir dua jam terus memotret, tidak bosan?" tanya Kanaya yang duduk memperhatikan Rendy di depan pintu.


"Ma, Rendy mau bicara hal penting." ucap Rendy yang berhenti memotret. Dia lalu menoleh menghadap Kanaya dan menatap sang ibunda lekat-lekat.


"Bicara penting apa? Jangan bilang mau dibeli kan laptop lagi." ucap Kanaya.


"Bukan, Rendy dapat pekerjaan." kata Rendy yang sontak membuat Kanaya terkejut. Kedua alis Kanaya pun mengerit.


"Pekerjaan apa? Bukan seperti kemarin kan? Kau bisa masuk penjara, aku sendiri yang akan melapor ke polisi." ancam Kanaya dengan wajah memerah.


"Bukanlah, Ma. Pekerjaan ini aman kok." jawab Rendy dengan santai sambil tersenyum melihat ekspresi Kanaya.


"Pekerjaan apa itu?"


"Aku mendaftar sebagai teknisi IT. Nanti, aku dapat uang dari itu. Tindakan ini tidak kriminal kok, Ma. Rendy jamin ini aman." jelas Rendy sambil mengajukan jari jempolnya.


"Benarkah?"


"Iyap, yang terpenting Rendy masih bisa dapat uang untuk mama." kata Rendy sambil mengedipkan salah satu matanya. Kanaya jadi gemes melihat tingkah anaknya.


"Kalau begitu, kira perlu merayakannya. Rendy, temani aku beli bahan makanan. Kita buat sup ayam kesukaan kamu!" teriak Kanaya bersemangat. Dia begitu senang, umur anaknya masih tergolong kecil tetapi sudah membantunya mendapatkan uang. Kanaya memang benar-benar beruntung.


"Yuk, kita beli banyak-banyak ayamnya biar semakin mantap rasanya." balas Rendy yang berteriak kegirangan. Ibu dan anak itu pun bergegas ke pusat perbelanjaan membeli bahan yang mereka inginkan.


Ketika sampai, Kanaya sibuk memilih-milih wortel dan kentang. Rendy duduk memperhatikan, tiba-tiba suara tidak asing membuat Rendy terkejut.


"Apa kau yakin, anak itu ada di sekitar sini?" tanya Si kalem.


"Aku yakin sekali, aku seperti melihatnya tadi." jawab Si tegap memutar bola matanya.


"Pokoknya, malam ini juga kita harus tangkap dia. Kalau tidak, bos bisa marah besar." ucap si Kalem mengingatkan.


"Iya aku tahu. Tetapi, apa aku tidak salah liat yah. Untuk apa anak kecil masuk ke toko sayuran ini? Biasanya kan, dia berada di toko laptop, bukan di sini." ucap Si tegap ragu-ragu.

__ADS_1


"Alah, kau selalu saja membuat masalah. Seharusnya kita memang menunggunya di toko laptop, anak itu pasti datang ke sana." kata Si kalem sambil memukul temannya.


Rendy berusaha bersembunyi di balik rak-rak, dia tahu dirinya di incar dua orang anak buah Dirgantara.


"Kalau begini terus, hidupku tidak bisa tenang. Aku harus beri pelajaran Dirgantara agar tidak mengusik hidupku lagi." ucap Rendy penuh marah.


Rendy pun meninggalkan Kanaya diam-diam lalu menuju toko laptop mencari anak buah musuhnya. Empat orang anak buah Dirgantara sedang berjaga-jaga di luar toko sambil memeriksa semua orang yang masuk. Rendy lalu mengambil jam tangannya, bersiap merekam aksinya.


"Ayo kita bermain, sudah lama aku tidak diajak bermain." kata Rendy tersenyum riang. Rendy lalu berjalan mendekati empat anak buah Dirgantara dan menepuk kaki salah satu anak buah, kemudian berlari dengan cepat.


"Anak itu.. Dia ada di sana!" teriak Si pengemudi yang melihat Rendy sudah kabur.


"Dimana-dimana?" tanya Si kalem dan si tegap yang mencari keberadaan Rendy.


"Dia menuju toilet." teriak Si pengemudi yang berlari lebih dulu mengejar Rendy. Tiga orang temannya pun berlari menyusulnya.


Mereka semua lalu masuk ke dalam toilet sampai lupa membaca tanda pengumuman di luar pintu jika toilet itu khusus perempuan.


"Aahhh.." semua perempuan yang barusaja keluar dari kamar kecil berteriak melihat empat orang laki-laki masuk ke toilet perempuan.


"Ayo kita hajar mereka, berani sekali mesum di tempat ini." ucap beberapa orang perempuan yang mendekati empat orang anak buah Dirgantara.


"Maaf, aku salah alamat." ucap Si kalem memohon ampun.


"Apa salah alamat? Jelas sekali kalian memang sengaja masuk." teriak emak-emak tidak mau menoleransi.


"Di pintu sudah terpapan tanda, masa kalian salah alamat?" tanya beberapa orang yang mengerumuni mereka.


Rendy menyelip di antara kerumunan dan keluar dengan selamat. Dia lalu kembali ke toko laptop dan meminta bantuan kasier di sana. "Permisi kakak cantik, apa aku boleh lihat cctv-nya?" tanya Rendy yang menjinjingkan kakinya agar bisa terlihat.


"Untuk apa, Dek?"


"Aku mau memeriksa orang yang menculikku beberapa hari lalu. Boleh aku lihat?"


"Maaf, Dek. Cctv bukan untuk mainan anak kecil. Sebaiknya, adek pergi saja." tolak sang kasier yang melihat Rendy hanya anak kecil. Dia pikir, Rendy berbohong dan ingin membuat masalah dengan pekerjaan sang kasier.

__ADS_1


'Tidak ada pilihan, aku harus mencari jalan lain.' guman Rendy yang berjalan untuk bersembunyi di balik pintu, lalu mengeluarkan jam tangan kecilnya. Rendy menekan tombol dan beberapa saat kemudian telepon di dekat kasier berdering.


"Iya, halo. Ini dengan kami, toko laptop XXX?"


"Kami dari kepolisian."


"Oh, polisi?" sang kasier terlihat terkejut mendengar suara polisi dari balik teleponnya.


"Iya. Aku menyuruh anak kecil bernama Rendy untuk datang mengambil rekaman cctv. Tolong berikan rekamannya agar proses penyelidikan kami berjalan lancar." ucap Rendy.


"Tetapi, pak.."


"Apa anda menolak? Sama saja anda menutupi kejahatan sang pelaku dan anda pun akan terancam hukuman penjara. Lakukan saja dan jangan membuat diri anda sampai berurusan dengan polisi."


"Baik, pak. Akan aku lakukan." kata sang kasier dengan suara tegas. Rendy lalu mematikan panggilannya dan kembali menemui sang kasier.


"Adek ini bernama Rendy kan?" tunjuk sang kasier.


"Iya, Kak. Mohon bantuannya."


"Baiklah, ayo masuk ke sini biar aku perlihatkan rekaman cctv beberapa hari lalu." ujar sang kasier tersenyum lebar.


Setelah urusan Rendy selesai di toko laptop, dia lalu menemui empat anak buah Dirgantara. Terlihat si kalem yang berbaring di lantai depan toilet dengan wajah babak belur. Di tambah si tegap dengan baju bolong-bolong.


"Ngeri juga emak-emak kalau sudah marah." kata Rendy yang bergetar melihatnya.


"Hei... i.. tu... an...ak ya...ng ki...ta ca..ri." tunjuk Si tegap dengan suara terbata-bata.


"Bagaimana kabar kalian semua para paman penculik? Aku rasa, aku melewatkan sesuatu di sini. Tidak apa, bantuan akan segera datang." sapa Rendy.


"Bantuan apa? Ambulance?" tanya si kalem.


"Bukan, polisi." jawab Rendy sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum bahagia.


"Apa? Polisi?" sontak, empat orang bersekawan ini pun terkejut dan saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2