
Rendy tiba di perusahan Gilang di saat semua orang tengah sibuk. Beberapa orang mendemo di depan perusahaan Gilang sambil membawa anak mereka. Entah apa yang terjadi, Rendy yakin ini masalah besar yang di alami Gilang untuk pertama kalinya.
"Rendy, ayo masuk cepat. Jangan sampai ada yang melihatmu, mereka bisa melemparimu batu." ujar Mizuki yang tiba-tiba datang memberitahu Rendy.
Rendy berjalan masuk bersama Mizuki. Setelah sampai di dalam kantor, pak satpam segera menutup pintu masuk. Semua orang yang mendemo masih berteriak keras di luar menyuruh Gilang keluar.
"Papa ada dimana, Tante?" tanya Rendy sambil menoleh menatap wajah Mizuki.
"Lagi di ruang rapat. Dia membahas masalah ini dengan peninggi perusahaannya. Kenapa, Rendy mau bertemu dengan Gilang?" tanya Mizuki balik.
"Iya. Rendy tunggu di ruangan papa saja. Papa pasti ke sana kan kalau sudah selesai rapat?" ujar Rendy yang di sambut anggukan oleh Mizuki.
Rendy berlari masuk ke ruangan Gilang, secepat mungkin membuka laptopnya di sana. Mencari berkas Gilang yang tersimpan kode yang barusaja Rendy terima.
"Masa sih, tidak ada berkas papa yang berisi kode ini. Apa jangan-jangan, kode ini bukan untuk papa?" tanya Rendy dengan wajah bingung sambil berpikir.
Dreet.. Dreet.. Dreet..
Ponsel anak kecil genius itu berdering, dia buru-buru mengangkatnya. "Ada apa, Lex. Kau belum pulang ke rumahmu? Sebaiknya pulanglah, bibi Unni pasti mencarimu lagi." ujar Rendy ketika ponselnya berada di dekat telinganya.
"Tidak, aku mau singgah di perusahaan papamu. Kau sudah ada di dalam kan? Aku tidak bisa masuk dan terpaksa berkumpul dengan para pendemo ini." jelas Alex.
"Kau mau ke sini? untuk apa?" tanya Rendy lagi.
"Masa teman mau berkunjung harus punya alasan. Apa aku lapor dulu dengan pak rt, pak lurah dan kepala desa baru ke situ?" teriak Alex yang kesal.
"Oke, aku suruh pak satpam membiarkanmu masuk. Kamu segera ke depan pintu saja biar pak Satpam mudah mengenalimu." ujar Rendy menutup panggilannya lalu menghubungi satpam. Setelah urusannya dengan Alex selesai, Rendy kembali memeriksa berkas Gilang.
"Hei, Rendy. Kamu mau nyolong berkas papamu sendiri?" tunjuk Alex memergoki.
__ADS_1
"Tidak, aku mencari berkas yang tertulis kode itu. Mungkin papa punya. Aku mau tahu siapa nama pengirimnya." jelas Rendy dengan terus mengacak meja Gilang yang penuh berkas.
"Wadidau, papamu sudah datang. Dia pasti marah kau buat berantakan ruangannya. Aku mau sembunyi saja." kata Alex yang berlari bersembunyi di belakang sofa.
Saat itu juga, pintu ruangan Gilang terbuka. Rendy masih duduk di kursi Gilang sambil memeriksa berkas papanya. Mizuki jadi heran sampai memandang Gilang dan menaikkan bahunya.
"Rendy! Apa yang kau lakukan?" tanya Gilang mendekati anaknya.
"Ada sesuatu yang Rendy cari, tetapi sepertinya bukan berkas papa." ujar Rendy yang baru mengerti setelah memeriksa semuanya.
"Jadi?" tanya Gilang menunggu respon anaknya.
"Jadi apa, Pah?"
"Yang bereskan meja papa, kau kan?" tanya Gilang menunjuk mejanya yang berantakan. Berkas yang sudah di susun Mizuki sudah berubah menjadi mainan rumahan yang barusaja runtuh.
"Masa papa menyuruh anak kecil, tidak malu? Rendy mau pulang karena tugas Rendy di sini sudah selesai. Bye papa, sampai ketemu di rumah lagi." kata Rendy sambil melambaikan tangannya, tidak merasa menyesal telah membuat kekacauan di ruangan papanya. Alex keluar dari tempat persembunyiannya dan segera berlari menyusul Rendy.
"Bercanda, mana ada anak kecil punya anak." kata Mizuki setelah mendapat tatapan aneh dari Gilang.
Di lorong, Rendy bingung sendiri. Dia tidak mendapat apa yang dia inginkan. Alex datang dan menabraknya membuat Rendy semakin kesal. "Kalau jalan pakai mata, asal nabrak orang saja." tegur Rendy.
"Dimana-mana kalau jalan pakai kaki. Mata itu untuk melihat. Masa hal kecil seperti ini saja tidak kau ketahui Rendy." balas Alex yang malah melototi Rendy.
"Sudah salah, masih sok jagoan. Maju sini kalau berani, aku bantai kau habis-habisan." ujar Rendy yang menantang.
"Berani sih, tetapi tidak mau maju. Bibi Unni nanti tidak bisa mengenali wajahku kalau sampai babak belur." jelas Alex sambil tertawa. Di saat bersamaan, Alvin keluar dari ruangannya di susul Reyhan. Rendy jadi teringat dengan wanita semalam.
"Apa jangan-jangan Uncle Alvin mengkhianati papa?" ucap Rendy menduga-duga.
__ADS_1
"Benarkah? Apa Uncle Alvin punya pria lain selain papa kamu?" tanya Alex sambil berbisik pada Rendy.
"Ini bukan masalah percintaan tetapi masalah keluarga. Kalau tidak tahu sebaiknya diam, jangan berisik." kata Rendy dengan tegas sambil melirik Alex yang tidak tahu diri.
"Oke, jangan berisik." kata Alex mengingatkan dirinya. Rendy buru-buru masuk ke ruangan Alvin dan mencari berkas yang bertuliskan kodenya. Berkas yang tersusun rapi di meja, Rendy buat seperti habis terserang ombak.
"Ketemu, rupanya bukan papa yang punya melainkan Uncle Alvin." kata Rendy yang mengangkat berkas dalam map biru. Di belakang berkas tersebut, terdapat kode angka dan huruf yang di satukan dalam tulisan tangan.
Rendy membaca sekilas berkas kerja sama perusahaan Gilang dengan sekolah yang baru di bangun sebulan lalu. Nama Friska dan Silvana menjadi mentor di berkas itu. Alex mengintip sebentar lalu mendorong tubuh Rendy ingin mengajak anak itu bermain.
"Rendy sudahlah mengurus urusan orang dewasa. Kita masih anak-anak, yang di butuhkan hanya bermain saja." kata Alex yang lelah menunggu.
"Tidak bisa di biarkan, masa Uncle Alvin terlibat. Aku harus mencari tahu alasannya." kata Rendy sambil menyimpang berkas itu dalam tasnya dan segera pergi dari ruangan Alvin.
Sesampai di rumah, Rendy menyuruh nenek Rani melihat perjanjian kerja sama ini. Nenek Rani pasti paham karena dia orang yang mengelolah Bintang group sebelum Gilang.
"Bagaimana, Oma? Apa ada yang aneh dengan kerja sama ini?" tanya Rendy pada nenek Rani setelah selesai membaca berkas itu.
"Tidak ada." ucap nenek Rani sambil menatap cicit tersayangnya.
"Masa sih, tidak. Kerja sama ini membuat Rendy bingung. Semua anak sekolah di tempat itu mendemo sampai membawa emak mereka. Apa Rendy juga harus mendemo dan membawa mama Kanaya juga?" canda Rendy.
"Jangan dong, nanti Gilang tambah stres. Tenang saja, masalah ini tidak akan lama. Gilang pasti bisa mencari solusinya. Oma sangat yakin dengan kemampuan cucu oma yang satu itu." kata nenek Rani memuji.
"Oma, kalau berkas kerja sama menggunakan kode, itu maksudnya apa yah? Rendy belum paham apapun, Oma." tanya Rendy.
"Oh, itu punya salinan kerja yang asli. Biasanya, tersimpan dalam laptop berupa pdf atau surat tertentu. Kenapa? Apa Gilang melakukan kerja sama seperti itu?"
"Apa tidak baik Oma jika melakukan kerja sama seperti itu?" tanya Rendy yang ingin tahu lebih banyak.
__ADS_1
"Bukan tidak baik, hanya saja kerja sama seperti itu sangat tertutup. Hanya orang tertentu saja yang tahu isi kerja sama aslinya. Setau Oma juga, Gilang tidak pernah melakukan kerja sama seperti itu karena tidak transparan. Banyak kesalah pahaman yang bisa terjadi jika melakulannya." jelas nenek Rani membuat Rendy tersenyum. Sekarang dia tahu siapa dalang dari semua ini. Masalah papa harus dia pecahkan sendiri agar tidak terjadi kericuhan di dalam keluarga ini.