
Sesampai di rumah, Naila membuat mamanya senyum-senyum ketika melihat Rendy. Begitupun di saat Rendy ke dapur mengambil air, Kanaya tidak hentinya senyum sendiri sambil melirik Rendy.
"Ada apa, Ma?" tanya Rendy yang tahu maksud Kanaya. Pikirannya menemukan hal yang tidak biasa dari mamanya. Sikap anehnya ini sangat mencurigakan bagi Rendy.
"Tidak ada apa-apa, hanya mau melihat wajah kamu saja dengan jelas. Bolehkan?" ujar Kanaya yang meraih wajah Rendy sambil menepuk pipi anaknya dengan keras.
"Aduh, sakit, Ma! Ada apa sih?" tanya Rendy kembali.
"Mama pikir, kau tidak sehat. Kata Naila, kau mengoda anak gadis di taman tadi. Katakan pada mama, gadis seperti apa dia sampai membuat anak mama yang mandiri ini tergila-gila dengannya?" tanya Kanaya dengan wajah serius.
Tangan Rendy menepuk meja dengan keras membuat Kanaya kaget. Melihat sikap anaknya yang kurang ajar, Kanaya segera memutar balik tangan Rendy.
__ADS_1
"Aduh! Aduh! Sakit, Ma!" ucap Rendy yang berusaha melepas cengkaman Kanaya.
"Benar sakit kan? kau juga sudah berani bersikap tidak sopan dengan mamamu. Ingat, sejak kecil aku pernah mengasuhmu seorang diri!" titah Kanaya dengan wajah memerah, benar-benar marah di depan Rendy.
"Ma, lepaskan! Rendy minta maaf, lain kali tidak akan membuat mama marah. Serius!" ujar Rendy membujuk.
"Benar? Mau menuruti kata mama?" ucap Kanaya yang melakukan negosiasi dengan anaknya.
"Gadis yang kau goda di taman, ajak dia bertemu dengan mama. Bagaimana jika minggu depan, bawa dia ke rumah. Aku akan kumpulkan seluruh anggota keluarga kita dan mengenalkannya jika dia calon menantu mama!" jelas Kanaya dengan mata berbinar-binar. Rendy sampai tidak tega menolak permintaan Kanaya. Dengan cepat, kepalanya mengangguk menyetujui.
Di dalam kamar, Rendy mondar mandir, gelisah dengan dirinya. Dia tidak tahu apapun dengan gadis yang baru di temuinya di taman. Bagaimana bisa mewujudkan keinginan mamanya saat ini?
__ADS_1
"Aku harus mencarinya. Pokoknya, dia harus ketemu. Kalau tidak, aku benar-benar akan mengecewakan mamaku." ucap Rendy dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, aku suruh Alex mencarinya besok. Kebetulan sekali, dia punya banyak kenalan gadis-gadis anak orang kaya. Begitu mudah menemukannya." ucap Rendy yang baru bisa tenang ketika mengingat sahabatnya bisa di andalkan.
Malam semakin larut, seorang laki-laki yang memakai jas hitam lengkap, begitu menawan berjalan memasuki apartemen. Dia melepas kacamatanya dan melempar ke sembarang arah. Pengawalnya bergegas memungut barang tuannya.
"Akhirnya kembali ke negeri tercinta ini. Sudah lama tidak mengingat masa lalu yang kejam di sini." ucap Alex dengan tersenyum lebar. Bayangan masa sulitnya muncul satu per satu di dalam pikirannya, namun tidak membuat dia terharu atau menangis. Hanya tawa riang yang terpancar.
"Saatnya melakukan pembalasan dendam!" ucap Alex yang begitu senang. Dia sampai menjatuhkan seikat uang dari jendela kamarnya. Tentu saja, orang-orang yang melihatnya segera berlari memungut uang dollar itu.
"Tuan, apa perlu aku kirim kabar dengan teman tuan jika anda sudah kembali?" tanya salah satu pengawal yang berbadan tegap. Hanya dia yang berani bicara di depan Alex.
__ADS_1
"Dia sudah tahu! Kemungkinan secepatnya akan segera menemuiku. Persiapkan dirimu, kita perlu melakukan hal berbahaya!" ujar Alex dengan suara di tekan. Mimpinya dari kecil akan segera terwujud.