Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 42. Kembali Bersekolah


__ADS_3

Menjelang pagi, Kanaya bergegas bangun untuk membuatkan Rendy sarapan. Tidak lupa, membuatkan susu untuk Rendy dan Gilang. Setelah bergulat hampir satu jam di dapur, Kanaya berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai seorang ibu. Dia pun segera memanggil Rendy di kamarnya.


"Rendy, bangun! Kau harus kembali bersekolah hari ini. Sudah banyak absen dirimu, bagaimana kalau pihak sekolah mencabut beasiswa mu?" tanya Kanaya sambil menarik kaki Rendy agar anaknya segera bangun dan bersiap.


"Lima menit lagi!" ucap Reyhan dengan mata tertutup sambil mengajukan telapak tangannya.


"Huff, anak ini selalu saja merepotkan kalau pagi." hena Kanaya sambil mengangkat tubuh anaknya ke bak mandi.


"Cepat mandi, kalau tidak mau aku mandikan!" ucap Kanaya menekan perkataannya membuat Rendy membuka matanya spontan. Rendy tidak punya pilihan selain mandi karena tubuhnya sudah basah di siram Kanaya.


"Aku sudah besar, bisa mandi sendiri." tolak Rendy yang mengambil gayung dari tangan Kanaya.


"Baiklah, cepat mandi lalu sarapan. Kau harus pergi ke sekolah hari ini juga." ucap Kanaya dengan tersenyum lalu berjalan keluar menuju kamar Gilang.


Tok.. Tok.. Tok...


Tidak mendapat sahutan, Kanaya yakin sekali Gilang belum bangun. Kanaya pun mencoba membuka pintu dan terkejut ketika pintu kamar Gilang tidak di kunci. "Beruntung dia tidak menguncinya, aku bisa masuk melihatnya." ucap Kanaya yang bergegas masuk ke dalam kamar Gilang, berniat membangunkan Gilang. Tetapi, Kanaya terkejut tidak melihat Gilang tidur di tempat tidurnya, tetapi malah tertidur di meja di samping tempat tidurnya di temani laptop yang masih menyala-nyala.


"Apa dia ketiduran ketika fokus bekerja?" tanya Kanaya yang terheran-heran. Kanaya lalu menatap wajah Gilang dengan sangat dekat, memperhatikannya sambil menyamakan dengan foto Rendy yang dia ambil ketika anaknya tertidur.


"Lumayan mirip, tetapi hidung Gilang mancung sekali. Rendy terlihat pesek di foto ini." ucap Kanaya mengamati.


"Kalau model rambutnya, hampir sama. Apa mereka selalu janjian?" ucap Kanaya lagi yang tidak sadar kalau Gilang diam-diam mendengarkan perkataannya.


"Coba kita periksa bibirnya. Bibir Rendy sangat mencolok dan terlihat manis, kalau presdir sombong ini terlihat..." Kanaya perlahan menyentuh bibir Gilang membuat Gilang tersenyum. Sadar jika Gilang terbangun, Kanaya segera berlari keluar dari kamar Gilang dengan wajah memerah.


"Dia bangun, semoga tidak mendengar semua perkataanku." ucap Kanaya yang berdiri di depan pintu kamar Gilang.

__ADS_1


"Ada apa dengan wajah mama, seperti mendapat ciuman saja. Apa papa mencium mama?" sahut Rendy yang selesai berpakaian.


"Anak kecil tidak boleh ikut campur. Ini masalah orang dewasa." ucap Kanaya dengan menatap Rendy lekat-lekat.


"Hufft, mama mudah sekali di mengerti. Pasti ada hubungannya dengan papa, buktinya mama berdiri di depan pintu kamar papa dengan wajah malu-malu. Apa kalian saling memberi kiss morning?" ucap Rendy menggoda Kanaya.


"Bukan seperti itu." bantah Kanaya.


Rendy lalu memberi isyarat kepada Kanaya untuk menunduk dan setelah Kanaya munundukkan kepalanya, Rendy melompat mencium pipi Kanaya. "Nah, Rendy yang memberikan mama kiss morning karena tidak ada yang memberikan mama ciuman di pagi hari." ucap Rendy sambil berjalan ke dapur.


Kanaya tertegun melihat tingkah Rendy. Dia tidak menyangka anaknya akan berpikir sejauh itu. Seketika, pintu kamar Gilang terbuka. Tatapan Kanaya dan Gilqng bertemu sekilas, dengan cepat Kanaya menghindar sambil berlari menyusul Rendy.


"Rendy, tunggu mama!" teriak Kanaya. Bibir Gilang pun mengembang, dia merasa senang melihat wajah malu-malu Kanaya yang merona di pipinya.


***********


"Tidak, hanya ada masalah keluarga saja." ucap Rendy singkat.


"Lalu kau tinggal di mana sekarang?" tanya Alex seketika yang membuat Rendy kaget. Rendy lalu menoleh menatap Alex dengan tajam.


"Apa maksudmu aku tinggal di mana? Aku kan tinggal di rumah." ucap Rendy memancing. Alex rupanya tahu kalau Rendy tidak pulang ke tempat tinggalnya dari papa Alex. Agar bisa memberikan informasi pada papanya, Alex harus mencari tahu dimana Rendy tinggal saat ini. Dia tidak sadar jika Rendy begitu pintar darinya.


"Ya, kau tidak tinggal lagi di tempatmu semula. Aku kemarin sempat datang ke sana dan tidak menemukanmu." jelas Alex yang terus mencari alasan. Dia tidak mau Rendy curiga dengannya.


"Untuk apa kau datang?" tanya Rendy semakin menelusuri Alex membuat tubuh Alex kepanasan.


"Kau tidak datang ke sekolah makanya aku ingin memastikan alasanmu. Itu saja, tidak ada yang lain." jawab Alex dengan cepat.

__ADS_1


"Bukan itu, pasti ada sesuatu yang penting. Kau tahu alamat rumahku darimana? Aku kan belum pernah mengajakmu ke rumah dan tidak juga memberitahu dirimu lokasi rumahku?" tanya Rendy semakin menyudutkan Alex.


"Aa.. Aku... Sebenarnya.." Alex tidak tahu harus berkata apa, dirinya sampai berbicara sepotong-potong.


"Jangan-jangan kau yang memberiku alat pelacak makanya tahu dimana tempat tinggalku. Apa kau juga yang sering mengirim orang meneror diriku dan mamaku di rumah?" tunjuk Rendy yang bangkit dari tempat duduknya. Alex menggeleng kepalanya, dia tidak tahu tentang orang yang meneror Rendy.


"Kalau soal alat pelacak, aku yang meletakkannya di tasmu. Tetapi kalau soal orang yang menorormu, aku tidak tahu apapun." ujar Alex berterus terang karena takut melihat wajah Rendy yang menyeramkan.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Rendy yang semakin dekat dengan Alex.


"Hei, teman-teman. Ibu guru sudah datang, cepat duduk!" perintah teman Rendy membuat perdebatan Alex dan Rendy terjeda. Rendy lalu duduk dengan tenang sambil terus melirik Alex yang masih ketakutan.


Alex lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada papanya.


[Pa, Rendy masih hidup. Dia datang ke sekolah hari ini membuat aku takut. Rendy sudah tahu kalau diriku yang menyimpang alat pelacak itu. Bagaimana ini, pah?]


Ting..


Alex membuka ponselnya dengan cepat saat dirinya mendapat pesan balasan dari Azal.


[Dasar bodoh, kau tidak bisa di andalkan. Bagaimana bisa dirimu kalah dengan Rendy sampai ketahuan seperti itu? Kita masih perlu Rendy untuk bisa di manfaatkan. Kau tidak berguna, Alex.]


Alex menangis setelah membaca pesan dari papanya. Dia berlari keluar dari kelasnya dengan berlinang air mata.


"Jadi dia anak tangan papanya? Bagus, aku sudah tahu sekarang. Aku harus beritahu papa juga biar dia mengirim anak buahnya ke sini menjaga diriku. Aku yakin, papa Alex pasti akan menyuruh anak buahnya mencelakai diriku di sini karena tahu aku ada di sekolah ini." ucap Rendy yang mengambil ponselnya dari tasnya.


Dia lalu mengetik dengan gerakan cepat, tetapi sebelum pesan itu di kirim, Rendy baru sadar jika Gilang tidak tahu nomor ponsel Rendy. Dan yang Gilang tahu, nomor Rendy adalah nomor orang yang membantu Gilang.

__ADS_1


"Hufft, aku tidak bisa mengirim pesan pakai nomor ini. Harus pakai nomorku yang ada di ponsel mama." ucap Rendy yang mengurungkan niatnya. Saat itu juga, orang-orang Azal yang telah sampai di sekolah Rendy.


__ADS_2