
"Maaf, Friska. Sepertinya kau ingin membodohi diriku sampai mengirim mayat orang lain ke kosan Kanaya. Kau juga bahkan membawa seorang anak kecil untuk menyakinkan diriku. Tetapi, asal kau tahu saja. Aku bisa mengetahuinya dengan melihatnya saja. Jika dia memang Kanaya dan Rendy yang sudah meninggal untuk apa kau repot-repot membuat wajahnya rusak sampai tidak bisa di kenali. Apa karena dia orang lain? Sudah aku duga, jangan pernah membohongiku lagi karena kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa." jelas Gilang dari seberang telepon.
Brak..
Friska melempar ponselnya setelah Gilang mematikan teleponnya. Wajah Friska memerah, dia sampai mengepal kedua tangannya dengan keras. Tatapan tajamnya terus fokus menatap ke depan sambil mengeram.
"Sudah aku duga, Gilang tahu rencanamu. Gilang bukan orang bodoh yang bisa kau bodohi." sahut Azal yang duduk tidak jauh dari Friska. Azal lalu menikmati sebatang rokok di sofa ruang tamu apartemen Friska.
"Padahal sedikit lagi rencanaku bisa berhasil waktu itu, tetapi malah kacau. Aku yakin, Rendy anaknya Gilang yang melakukan itu." ucap Friska dengan serius.
"Iya, siapa lagi? Dia anaknya Gilang jadi punya sikap seperti Gilang. Tidak bisa di bodohi juga." ucap Azal.
"Kalau begitu, kita culik nenek Gilang dan bawa dia pergi jauh. Setelah itu, aku akan memberikan syarat pada Gilang jika dia ingin neneknya selamat, dia harus menikahiku dulu." jelas Friska dengan tersenyum sinis ketika mendapat sebuah ide cemerlang untuk di lakukannya.
"Aku tidak peduli seperti apa rencanamu dan bagaimana hasilnya. Yang aku inginkan hanya perusahaan Gilang saja." ucap Azal dengan santai.
"Kau dapat apa yang kau mau dan aku akan dapat apa yang aku mau." kata Friska dengan enteng. Friska lalu duduk di dekat Azal sambil memainkan ponselnya.
"Hei, kalian ada pekerjaan lagi. Tetapi kali ini, jangan buat kesalahan lagi. Aku sudah kehabisan kesabaran, kau mengerti?" ucap Friska dari seberang telepon.
"Iya, bos. Kami semua di sini mengerti."
"Nanti aku kirimkan foto yang harus kalian culik berserta alamatnya. Ingat, lakukan dengan baik." ucap Friska sebelum menutup sambungan teleponnya.
"Untuk apa juga kau masih mempercayai mereka? Mereka sudah gagal berkali-kali?" tanya Azal.
"Aku tidak punya anak buah yang bisa di atur seperti mereka. Bayaran mereka juga lumayan murah daripada kebanyakan anak buah lainnya. Kau seharusnya bersyukur karena selalu aku yang mengeluarkan uang." kata Friska yang menatap Azal dengan kesal.
"Terserah, aku harus pulang." ucap Azal yang bangkit.
__ADS_1
"Terima kasih untuk permainannya tadi, kalau aku mau aku akan datang lagi ke sini." lanjut Azal yang menoleh menatap wajah Friska sebelum pergi.
Sementara itu di apartemen Gilang, Rendy dan Kanaya terlihat menunggu. Mereka sudah sangat lama berada di sana sampai Kanaya tidak kuat berdiri lagi.
"Rendy, kita sebaiknya kembali ke kosan. Pemilik apartemen ini juga tidak ada." keluh Kanaya yang bersandar di tembok.
"Sebentar lagi, Ma." ucap Rendy yang sudah berkali-kali mengatakannya.
"Aku sudah ekstra sabar kali ini." kata Kanaya sambil menghela nafas kasar.
Tidak berselang lama, terdengar suara langkah kaki. Rendy pun mengajak Kanaya untuk bersembunyi, takutnya itu anak geng motor yang mengincarnya tadi.
Tak.. Tak.. Tak..
Rendy mengintip perlahan dan melihat orang asing yang datang ke apartemen Gilang. Gerak geriknya terlihat mencurigakan.
"Siapa, Rendy?" tanya Kanaya yang menunggu respon dari anaknya.
Orang asing itu lalu meletakkan sebuah paket di depan apartemen Gilang sebelum berlari pergi. Kanaya dan Rendy pun baru keluar dari tempat persembunyian.
"Ada apa?" tanya Kanaya yang penasaran. Jiwa emal-emaknya muncul dadakan.
"Ada orang yang meletakkan paket di depan pintu apartemen Papa. Kira-kira ini paket apa?" ucap Rendy yang menyentuh paket itu.
"Hei, jaga tanganmu. Bagaimana kalau itu kado pernikahan presdir sombong itu dari temannya?" bentak Kanaya.
"Tidak mungkin, Ma. Untuk apa dia meletakkannya di depan apartemen lalu pergi dengan terburu-buru?"
"Kau banyak tanya, Rendy. Mungkin dia malu memberikan presdir sombong itu karena tahu presdir itu selalu pilih-pilih hadiah." ucap Kanaya yang tidak mau mengalah. Walau sejujurnya Kanaya juga merasa penasaran apa isi dari paket itu.
__ADS_1
"Rendy, bagaimana kalau kita buka. Nanti setelah melihatnya, kita bungkus kembali." ucap Kanaya yang menggoda anaknya.
"Mama ujung-ujungnya penasaran juga. Baiklah, aku buka biar kita bisa lihat apa isi paket ini." ucap Rendy yang di sambut anggukan oleh Kanaya.
Rendy pun membukanya dengan sangat hati-hati, takut membuat pembungkusnya rusak. Setelah paketnya di buka, Kanaya dan Rendy terkejut sambil membulatkan mata mereka berdua. Kanaya mundur perlahan melihat bom yang sudah di atur waktunya dan hanya tersisa sepuluh menit lagi.
"Apa-apaan ini? Kenapa ada orang yang memberi bom sebagai hadiah pernikahan?" teriak Kanaya yang menjadi panik.
"Ma, cepat kita pergi dari sini. Bom nya sebentar lagi akan meledak." ucap Rendy menarik tangan Kanaya dengan cepat berlari.
"Ko.. Koper kita ketinggalan, Rendy." ucap Kanaya.
"Lupakan, Ma. Keselamatan kita jauh lebih penting saat ini. Mama lihat kan, waktunya tersisa sepuluh menit lagi." ucap Rendy yang terus berlari sambil menarik tangan Kanaya.
"Bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di apartemen ini? Mereka semua bakal mati, Rendy." ucap Kanaya yang khawatir. Rendy pun berhenti mendadak seketika. Teringat banyak orang yang ada di gedung apartemen ini.
"Ma, cepatlah keluar. Aku harus mengeluarkan semua orang. Mama buat orang luar untuk tidak masuk ke dalam gedung ini." kata Rendy yang berbalik pergi.
"Apa? Memangnya kau bisa?" teriak Kanaya tetapi punggung anaknya sudah tidak terlihat.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" ucap Kanaya yang otaknya buntuh mendadak. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Aku harus ikuti kata Rendy. Tetapi kalau anakku kenapa-napa, bagaimana?"
"Ah, sial." ucap Kanaya yang berlari keluar gedung dengan cepat memberitahu semua orang untuk tidak masuk.
Sementara di dalam gedung, Rendy kembali ke tempatnya semula. Rendy membongkar isi kopernya mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk memberitahu semua orang yang ada di gedung ini. Sisa waktu saat ini tersisa delapan menit lagi.
Rendy menemukan sebuah miq kecil yang selalu dia gunakan untuk bernyanyi. "Tidak mungkin memakai miq di sini, suaraku tidak akan sampai di kamar semua orang." kata Rendy seketika.
__ADS_1
Rendy terus berpikir mencoba mencari celah agar bisa menolong semua orang. Tiba-tiba terlintas di pikirannya sebuah hal yang berbahaya. "Maafkan aku, Ma." ucap Rendy yang berlari menyusuri jalan sambil membawa bom yang terus berbunyi menandakan waktunya semakin tipis.