Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 45. Kecelakaan


__ADS_3

Kanaya baru kembali dari kafe dan langsung menuju apartemen Gilang. Dia langsung masuk karena sudah tahu kata sandi apartemen Gilang. Ketika berada di dalam apartemen, Kanaya terkejut tidak mendapati Rendy.


"Anak itu izin pulang karena kepalanya sakit, kok malah tidak ada di sini. Apa dia masih ada di kafe?" tanya Kanaya yang mulai cemas.


Sebentar lagi malam akan tiba dan Rendy belum pulang. Kanaya pun berusaha menghubungi anaknya. "Halo, Ren. Kau ada di mana? Mama sudah ada di apartemen. Kau kok tidak terlihat?" tanya Kanaya sambil menoleh ke sana dan ke sini mengira jika anaknya sedang sembunyi darinya.


"Aku segera sampai, mama tidak perlu khawatir." ucap Rendy dari seberang telepon.


"Kau habis singgah di mana? Padahal sudah pulang lebih awal tadi?" tanya Kanaya.


"Maaf, Ma. Nanti aku beritahu ketika sampai di rumah." ucap Rendy dengan suara perlahan dari seberang telepon.


"Cepat pulang, jangan membuat aku menunggu. Awas jika pulang terlambat." kata Kanaya sambil mengancam Rendy.


Tidak berselang lama, terdengar suara tabrakan dengan keras dari ponsel Kanaya.


Brak.. Brak.. Duuuaar...


Kanaya terkejut, berusaha mendengarnya dengan baik. Perasaannya mulai tidak enak. "Halo, Rendy. Kau masih ada di sana kan?" tanya Kanaya.


"Rendy, kau sudah sampai di mana? Suara apa tadi?" tanya Kanaya yang semakin panik. Tidak biasanya Rendy tidak menyahut.


Kanaya malah bertambah panik ketika mendengar suara kerumunan dan sirine mobil polisi. Tidak berselang lama, panggilan Kanaya terputus. Ketika Kanaya menghubungi Rendy kembali, nomor Rendy sudah tidak aktif.


"Kenapa dia tidak mengangkatnya? Apa ada masalah di sana?" tanya Kanaya yang tidak bisa konsentrasi. Setelah menghubungi Rendy berkali-kali dan masih tidak aktif, Kanaya langsung berlari keluar dari apartemen Gilang. Dia dan Gilang bertemu di depan gedung.


"Kanaya, kau mau ke mana? Buru-buru sekali, Rendy kenapa tidak ikut denganmu?" tanya Gilang membuat Kanaya berhenti dan menoleh ke arah Gilang.


"Gawat, presdir sombong. Rendy dalam masalah!" ucap Kanaya yang panik.

__ADS_1


"Apa? Rendy dalam masalah? Dia berurusan lagi dengan alat peledak itu?" tanya Gilang dengan mata melotot, terkejut mendengar penuturan Kanaya.


"Aku tidak tahu apa masalahnya, yang jelas Rendy tiba-tiba menutup panggilan teleponnya tanpa sebab. Aku sempat mendengar sirine polisi dan suara kerumunan. Sepertinya Rendy dalam masalah." ucap Kanaya berusaha menjelaskan kepada Gilang.


"Lalu, Rendy ada di mana?" tanya Gilang ikut panik.


"Aku tidak tahu, tetapi sebelum kejadian itu Rendy sempat bilang jika dirinya hampir sampai." ucap Kanaya mengingat-ingat.


Reyhan tiba-tiba turun dari mobilnya bersama Mizuki. "Gawat, Gilang. Ada masalah baru!" teriak Reyhan dengan wajah panik.


"Kalian sudah tahu dimana Rendy berada saat ini?" tanya Gilang sambil menoleh ke arah Reyhan dan Mizuki yang berlari menghampirinya.


"Rendy ikut hilang?" ucap Mizuki terkejut.


"Aku pikir hanya nenek yang di culik, Rendy juga ikut di culik?" tanya Reyhan sambil menatap Gilang dengan wajah bingung.


"Baiklah, aku cari Rendy dulu. Kalian berdua segera cari informasi tentang orang yang menculik nenek. Beri tahu aku kalau kalian mendapat informasi." ucap Gilang yang di sambut anggukan oleh Reyhan dan Mizuki.


Gilang dengan cepat menarik tangan Kanaya pergi menemaninya. Mereka menyusuri tiap jalan yang dekat dari apartemennya. Tiba-tiba, mata Kanaya membulat melihat banyak orang berkerumun di tepi jalan.


"Presdir sombong, di sana ada banyak orang. Mungkin Rendy ada di sana juga." tunjuk Kanaya dengan nafas lega. Dia akan segera menemui Rendy.


Kanaya berlari lebih dulu menghampiri orang-orang berkerumun. Menerobos masuk mencari anaknya. Tetapi, Kanaya tidak menemukan Rendy meski sudah mencari di sekeliling orang-orang yang berkerumun.


"Aku benar-benar kasihan dengan anak kecil itu, tega sekali orang itu menabrak anak kecil yang tidak tahu apapun." ucap salah seorang ibu-ibu bergosip.


"Iya, benar. Anak kecil itu mau menyebrang malah tertabrak. Salah di pengemudi mobil itu, sudah lihat lampu merah, tidak mau berhenti juga." ucap ibu di sebelahnya.


"Kasihan sekali anak malang itu. Jujur, aku tidak yakin jika dia bisa selamat." tambah yang lainnya.

__ADS_1


Kanaya langsung berbalik dan menghampiri tiga orang ibu-ibu yang bergosip di pinggir jalan. "Permisi, apa kalian sedang membicarakan anak kecil yang setinggi ini, memakai baju putih lengan panjang dan celana sampai tumit kaki berwarna coklat, lalu memakai sepatu ikat berwarna putih?" tanya Kanaya yang memberikan kriteria Rendy.


"Aku tidak sempat melihat sepatunya apa ikat atau bukan. Tetapi warnanya memang putih. Dan untuk bajunya, warna putih. Kalau celananya, entahlah aku tidak ingat. Soalnya darahnya sudah mengalir ke mana-mana dan aku malah syok melihatnya." jawab mereka.


"Coba ingat lagi, aku sedang mencari anakku yang katanya berada di sini." ucap Kanaya terdengar memaksa.


Gilang tiba-tiba datang sambil menepuk pundak Kanaya dari belakang. "Rendy tidak ada di sini." bisik Gilang.


"Oh, aku ingat gaya rambutnya seperti laki-laki di belakangmu itu. Sama persisi tadi sebelum dia kecelakaan." tunjuk salah satu ibu-ibu ke arah Gilang.


"Itu benar Rendy, bagaimana ini? Kenapa Rendy harus kecelakaan. Apa karena aku menelponnya?" ujar Kanaya yang menagis tersedu-sedu. Air matanya mengalir dengan deras.


"Dia di bawa ke mana?" tanya Gilang.


"Di rumah sakit dekat sini. Baru saja ambulance datang menjemputnya." jawab ibu-ibu kompak.


Kanaya dengan cepat berlari, dia tahu di rumah sakit mana yang di maksud ibu-ibu tadi. Langkah kakinya bahkan tidak sampai merasa lelah sama sekali. Gilang menyusul Kanaya dari belakang.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, Kanaya langsung menuju perawat yang berada di sana. "Permisi, aku dengar ada korban kecelakaan yang di bawa ke sini barusan?" tanya Kanaya berhenti di hadapan sang perawat. Gilang ikut mendengarkan sambil berdiri di belakang Kanaya.


"Korban yang mana bu, soalnya banyak korban kecelakaan yang barusan sampai." ucap sang perawat dengan tersenyum ramah.


"Korbannya anak kecil bernama Rendy." ujar Gilang.


"Kalau anak kecil memang ada. Dia saat ini di larikan ke UGD karena kehilangan banyak darah. Bapak dan ibu sebaiknya periksa..." Kata perawat terjeda ketika melihat Gilang dan Kanaya sudah lebih dulu berlari.


"Iya, seharusnya dengarkan dulu perkataanku secara keseluruhan biar tidak bingung nanti." ucap sang perawat yang kesal.


Di depan UGD, Kanaya dan Gilang mondar mandir menunggu dokter keluar. Tangan Kanaya terus bergetar, takut jika itu memamg benar Rendy. Terlebih apa yang dikatakan ibu-ibu tadi sangat mirip dengan kriteria Rendy.

__ADS_1


__ADS_2