
Gilang sibuk meng-scroll dokumen di laptopnya. Tiba-tiba sebuah email masuk dari orang tak di kenal. Ketika membaca Email itu, mata Gilang membulat. Dia tidak percaya dengan email itu.
[Aku akan mmeberitahumu satu hal. Aku berbeda deng**an orang yang bekerja sama denganmu. Aku bukan dia dan dia bukan aku. Aku adalah orang yang Kanaya kenal baik. Aku seniornya, tetapi orang yang bekerja sama denganmu bukan aku. Sebaiknya kau harus laporkan dia karena dia punya rencana jahat padamu**.]
Gilang lalu menekan tombol di teleponnya dan menghubungi Mizuki. "Suruh Reyhan ke ruanganku sekarang!" ucap Gilang sebelum menutup panggilan teleponnya.
Setelah Gilang memanggil Reyhan, tidak lama Reyhan pun muncul dengan terburu-buru. Reyhan menatap Gilang yang melamun. "Ada apa, Lan? Masalah lagi?" tanya Reyhan yang mengerti situasi. Dirinya selalu di panggil ketika Gilang merasa cemas atau mendapat masalah.
"Apa menurutmu orang yang aku ajak kerja sama berbeda dengan foto yang di perlihatkan Kanaya?" tanya Gilang yang meminta jawaban dari Reyhan.
"Terlihat mirip. Kenapa?" jawab Reyhan yang merasa ragu.
"Senior Kanaya mengirim email jika dirinya bukan presdir Clady Group. Dia hanya teman Kanaya. Lalu, siapa yang menyamar sebagai presdir Clady Group?" tanya Gilang sambil berpikir.
"Mungkin saja itu email iseng kali. Mana mungkin beda, mereka terlihat mirip. Kecuali jika dia dan presdir Clady Group kembaran." balas Reyhan.
"Itu benar, pah." ujar Rendy yang menyahut di depan pintu. Gilang dan Reyhan segera menoleh melihat anaknya.
"Maksud Rendy apa yang benar?" tanya Gilang meminta penjelasan dari anaknya.
"Ramadhan dan Rama itu berbeda walau wajah mereka sama. Ramadhan adalah senior mama dan Rama adalah kembaran Ramadhan. Nah, saat ini Rama berusaha menyakinkan kepada papa jika dia adalah senior mama yang pernah membuat masalah dengan Rendy. Jika kita memberitahu polisi jika ini adalah kesalah pahaman, mungkin bisa di toleransi. Mereka kan kembar dan kita tidak tahu itu." jelas Rendy sambil berjalan masuk menghampiri Gilang.
"Bagaimana jika mereka tetap menuntut dan membawa kasus ini?" tanya Gilang lagi yang kini menghadap Rendy dengan wajah serius.
"Bisa di katakan jika dia memang dari awal mengincar papa dan perusahaan papa. Jika kita lengah, perusahaan papa bakal hancur dan semua sahamnya akan di pindahkan ke Clady Group. Papa ingin itu?" tanya Rendy sambil mendongak memperhatikan wajah Gilang.
__ADS_1
"Benar juga. Kita hanya perlu minta maaf karena sudah salah sasaran. Yang seharusnya kita lapor ke polisi bukan Rama melainkan Ramadhan. Tetapi dari awal, Rama tidak menanggapi jika bukan dirinya yang kita maksud. Dia hanya menyarankan pembuktian dirinya tidak bersalah dengan insiden yang menimpah Rendy. Jelas dia tidak bersalah karena bukan dia pelakunya. Sidik jari yang berada di tempat kejadian bukan milik Rama." ucap Reyhan yang mengerti.
"Karena itu, polisi tidak bisa memenjarakan Rama. Kalau begitu, satu-satunya cara adalah kita harus mengubah tersangkanya untuk saat ini. Nanti di belakang baru kita urus Rama." ucap Gilang yang mendapat ide cemerlang.
"Baiklah, aku akan langsung menghubungi polisi di tim kita." ucap Reyhan yang buru-buru keluar dari ruangan Gilang.
Gilang lalu berjongkok menatap wajah anaknya. Dia merasa takjub dengan Rendy yang punya banyak pengetahuan membantunya.
"Rendy seharusnya masih harus sekolah bukan mengurus masalah seperti ini." ucap Gilang sambil memeluk anaknya.
"Rendy tidak bisa tenang memikirkan masalah papa. Jadi Rendy memutuskan untuk membantu." ujar Rendy dengan tersenyum.
"Bagus. Siang nanti kita keluar dan makan apa saja yang Rendy inginkan. Jangan lupa hubungi Kanaya juga biar papa bisa cari perhatian dengannya. Awas jika di kerjain lagi." ucap Gilang sambil mengangkat tubuh Rendy.
"Baik, pah." sahut Rendy setuju.
Pukul 01:35 Am.
"Aku mohon bantu aku. Berikan aku tempat persembunyian dari kakakku yang kejam. Dia mengirim orang untuk membunuhku. Aku bisa membantumu untuk melawan kakakku itu. Aku bisa menjadi saksi dalam masalah yang menimpah Gilang." mohon Ramadhan sambil bersujud di hadapan Rendy dan Alvin.
"Apa kita harus membantunya, Uncle Alvin?" tanya Rendy yang menoleh ke arah Alvin.
"Bagaimana jika kita beritahu Gilang saja? Aku akan segera hubungi Gilang." ucap Alvin yang bingung.
"No, No, No. Itu tidak perlu. Kita harus melindungi orang jahat ini untuk bisa menyelesaikan masalah papa. Saat ini, papa terancam masuk penjara dan perusahaan Bintang Group terancam bangkrut. Dia adalah satu-satu pilihan kita." tunjuk Rendy.
__ADS_1
"Benar, aku akan membantu. Asal, selamatkan aku dari kejaran orang suruhan kakakku. Buatkan aku tempat persembunyian yang tidak bisa di ketahui kakakku. Ku mohon!" ucap Ramadhan terus saja memohonkan dirinya.
"Hemm... Baiklah. Ada satu tempat yang tidak di ketahui kakak anda. Tetapi, jika kami butuh informasi kau harus memberitahu kami. Aku juga bisa menyuruh orang untuk membunuhmu secara sadis. Jadi jangan hanya takut dengan kakakmu saja. Takut padaku juga." ucap Rendy sambil melipat kedua tangannya. Alvin malah terdiam melihat tingkah anak Gilang yang lebih berbahaya dari Gilang.
"Aku baru tahu jika kau lebih menakutkan dari Gilang." sahut Alvin seketika.
Flash On..
Gilang mengajak Rendy ke kafe tempat Kanaya bekerja. Mereka malah janjian di kafe Kanaya sendiri karena Kanaya tidak mau pergi keluar dengan alasan banyak pelanggang.
"Mama pokoknya harus menemani Rendy dan papa makan. Awas jika mama malah melayani pelanggan lain. Rendy usir pelanggan mama nanti." ancam Rendy yang tidak membuat Kanaya ketakutan.
"Masa? Bisa saja kau yang aku usir." ucap Kanaya dengan santai sambil menarik kursi dan duduk di samping Rendy.
"Jadi mau pesan apa? Katakan saja cepat biar aku buatkan." perintah Kanaya yang menatap Gilang seperti tidak suka.
"Ya ampun, baru saja datang terkesan di suruh cepat pergi saja. Gimana mau ambil hati Kanaya kalau sikapnya seperti ini terus padaku." guman Gilang yang bingung sendiri.
"Papa mau pesan mama!" sahut Rendy dengan suara keras membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Hei, anak kecil. Jangan bicara sembarang. Nanti semua orang mengira jika aku ini mainan, bisa di pesan-pesan." tegur Kanaya sambil menutup mulut Rendy untuk tidak berisik.
"Maaf, Ma. Rendy hanya mengeluarkan suara hati papa saja. Benar kan, pah?" ucap Rendy yang melirik Gilang untuk bicara.
"Iya." jawab Gilang dengan suara tegas dan lantang. Semua orang tertawa melihatnya.
__ADS_1
"Jadi seperti itu." jawab Kanaya yang penuh rasa malu melihat tingkah Rendy dan Gilang.