
Sepulang sekolah, Rendy mampir ke tempat perusahaan Gilang. Dia berjalan masuk dengan santai, tetapi langkah kakinya itu di hentikan oleh penjaga di sana. "Hei, anak kecil. Kau sedang apa di sini?" tanyanya sambil menghampiri Rendy dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Kenapa, paman? Apa aku tidak boleh datang ke sini?" tanya Rendy balik sambil menarik tas ranselnya memperbaiki posisinya.
"Iya, tidak boleh. Ini bukan tempat untuk anak-anak." ujar pak penjaga dengan tegas membuat Rendy sedikit kecewa. Mau bagaimana lagi, ini kali pertama Rendy datang dan penjaga di sini belum mengenal siapa dirinya.
"Kenapa aku tidak boleh, paman?" tanya Rendy semakin banyak bertanya membuat pak penjaga mulai kesal.
"Apa kau tidak tahu apa arti tidak boleh? Sebaiknya cepat pergi sebelum presdir turun." titah pak penjaga sambil menarik tangan Rendy dengan kasar.
"Ho, ho, ho, paman jangan main kasar denganku. Papa bakal marah besar dan memecat paman sampai paman tidak bisa bekerja di sini lagi." ujar Rendy menakut-nakuti pak penjaga. Awalnya, pak penjaga merasa takut sampai berpikir berkali-kali. Tetapi dia kemudian menarik kembali tangan Rendy dengan genggaman semakin erat.
"Anak kecil mau menakutiku? Memangnya kau anak siapa? Setauku presdir belum menikah mana dia bisa punya anak?" ucap pak Penjaga yang mengira dirinya di bodohi. Dia lalu menarik Rendy semakin cepat sampai Rendy di lepas ketika berada di dekat pintu.
"Nah, kau cepat pergi sebelum aku semakin kasar denganmu." ucap Pak Penjaga yang tersenyum sinis karena berhasil mengusir Rendy yang ingin mengelabuinya. Tetapi, anak yang dia anggap kecil meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Papa! Aku ada di bawah, pak penjaga tidak mau membiarkan aku masuk. Tolong papa jemput!" teriak Rendy yang sengaja membesarkan suaranya agar pak Penjaga bisa mendengarnya.
Pak penjaga masih terlihat santai, dia menduga jika Rendy hanya main-main. Tetapi, ketika menoleh dan melihat rombongan presdir keluar dari lift, kaki pak penjaga bergetar dengan cepat di tambah senyum sinis Rendy yang sulit di artikan.
"Maaf, jangan beritahu apapun kepada presdir. Aku hanya kurang tahu informasi sampai tidak mengenalimu." ujar pak penjaga memohon-mohon sebelum presdir sampai di tempat mereka.
"Bukannya tadi bapak tidak percaya?" tanya Rendy dengan santai.
"Aku percaya sekarang, jadi tolong jangan beritahu pak presdir. Aku bisa kehilangan pekerjaanku, malah istriku butuh biaya untuk persalinan." ucap pak Penjaga berharap mendapat belas kasihan dari anak kecil di hadapannya.
__ADS_1
"Ya ampun, Rendy sayang. Kau akhirnya datang? Kenapa tidak langsung masuk tadi?" tanya Gilang sambil menggendong tubuh kecil Rendy.
"Tuh!" tunjuk Rendy ke arah pak penjaga membuat Gilang mengarah menatap pak penjaga dengan alis mengerit.
"Maafkan aku, pak presdir. Aku benar-benar tidak tahu jika dia adalah anak bapak." ucap pak penjaga yang membuat beberapa staf yang mengikuti Gilang ikut terkejut.
"Lain kali jika dia datang, biarkan saja dia masuk. Kau tidak perlu menahannya." ucap Gilang dengan suara datarnya tetapi mampu membuat pak penjaga tidak bisa bergerak dan hanya fokus menunduk ke bawah.
"Papa, Rendy datang." kata Rendy dengan suara lemah lembut membuat emosi Gilang kembali stabil. Gilang lalu memberi kecupan kepada anaknya itu lalu membawa Rendy pergi dari sana.
Rendy bermain-main di ruangan Gilang seorang diri, sementara Gilang sibuk melihat beberapa laporan. Orang yang mendampingi Gilang menjemput Rendy tadi, masih berdiri di hadapan Gilang sambil melirik Rendy berkali-kali.
"Pak Gilang benar-benar punya anak?" tanya salah satunya yang berani membuka mulutnya bertanya.
"Kenapa?" tanya Gilang yang berhenti memeriksa laporan perusahaannya.
"Tidak juga, pak. Hanya saja, ini terdengar mendadak. Bapak kan belum menikah mana mungkin bisa punya anak." jawab mereka.
"Lalu kalau belum menikah, tidak boleh punya anak?" ucap Gilang kembali dengan mada suara santai.
"Kita dalam masalah besar pak Gilang jika anak itu sampai muncul di hadapan publik. Perusahaan kita bisa-bisa mengalami penurunan yang drastis. Bapak tahu sendiri, tidak ada satu pun klien yang bekerja sama dengan kita tahu jika bapak punya anak. Kalau sampai mereka tahu, bisa-bisa kerja sama dengan kita langsung di batalkan." ujar staf Gilang dengan sangat hati-hati takut menyinggung Gilang.
"Jadi aku harus bagaimana? Dia benar-benar anakku dan sebentar lagi aku akan mengungkapkan di depan media masalah ini. Anakku dan ibunya berhak mendapat pengakuan resmi dariku." jelas Gilang dengan tatapan serius kepada stafnya.
"Bagaimana jika pak Gilang tunggu waktu yang tepat? Saat ini, perusahaan kita sedang bermasalah dengan Clady Group karena pak Gilang menuduh presdir mereka yang sudah memculik seseorang sampai masalah ini di bawah ke meja hijau. Jika sampai mereka menang, Clady group akan mengambil semua saham perusahaan ini." sahut salah satu staf yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
__ADS_1
"Itu benar." jawab mereka semua setuju.
"Baiklah, aku akan pikirkan rencana ini. Tolong kalian kembali ke tempat kalian dan suruh Reyhan untuk datang ke sini. Masih ada masalah yang belum Reyhan tangani." ujar Gilang sambil mengangguk perlahan.
Semua orang pun keluar dari ruangan Gilang membuat Gilang bisa menghirup udara segera dan bernafas lega. Dia juga merasa takut dan gugup, masalah yang di alaminya saat ini begitu berat sampai mengancam perusahaan bakal bangkrut.
Rendy diam-diam mendengarkannya, dia memang datang ke sini bukan sekedar mampir sementara. Tetapi ingin tahu masalah yang di hadapi papa. 'Sepertinya Clady Group membawa masalah ke perusahaan papa. Tetapi kenapa? Apa karena laporan papa?' guman Rendy yang berpikir.
Tidak berselang lama, Reyhan muncul dan langsung masuk menghadap Gilang. Reyhan terkejut ketika dia melihat Rendy sibuk bermain. "Sejak kapan anak itu ada di sana?" tanya Reyhan sambil menunjuk Rendy yang berada tidak jauh darinya.
"Halo, Uncle Reyhan." sapa Rendy dengan suara manis membuat Reyhan menjadi gemas. Reyhan ingin mencubit pipi Rendy sampai bangkit dengan cepat, tetapi suara Gilang membuatnya mengurungkan niatnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Gilang yang memberi kode untuk duduk di depannya.
"Tidak jadi." jawab Reyhan yang mengerti kode itu.
"Jadi bagaimana masalah dengan Clady Group? Bagaimana bisa bukti yang kita ajukan benar-benar salah dan di tolak kepolisian?" tanya Gilang yang mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Reyhan.
"Iya, semua identitas yang terdaftar memang atas nama Rama. Jadi dia bukan Ramadhan yang kamu pikir memalsukan diri. Sidik jari juga sama dengan sidik jari di kartu identitasnya. Kepolisian kita sudah memeriksanya." ujar Reyhan.
"Tetapi, Kanaya bilang seniornya itu bernama Ramadhan. Dia pernah berada di luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Apa kau sudah mengeceknya?"
"Gilang, aku rasa kita di tipu mentah-mentah oleh Kanaya. Tidak ada jadwal penerbangan Rama akhir ini. Dia sibuk di kota ini menyelesaikan kerja samanya dengan pihak lain. Tim kita sudah memeriksa cttv dimana dia berada sewaktu sedang membahas kerja sama dan memang itu benar." jawab Reyhan lagi yang membuat Gilang semakin kesal.
"Aku rasa itu tidak mungkin. Kanaya dan Rendy memastikan jika seniornya itu baru pulang dari luar negeri. Mereka sampai datang menjemput Rama di bandara. Dan kau mengatakan tidak ada jadwal penerbangan Rama akhir ini? Itu mustahil, Reyhan." kata Gilang sambil memijat pelipisnya merasa pusing dengan masalah Rama.
__ADS_1