
Dirgantara duduk berdiam diri di rumahnya sambil terus memutar kursinya. Sudah lama dirinya tidak beraksi. Ponselnya terus berdering memberikan tanda, dia siap kembali bertempur.
"Bos, perempuan itu sudah pergi dari lapangan. Apa aku harus menghentikannya?" terdengar nada suara panik dari seberang telepon. Tetapi orang yang di panggil bos malah tersenyum.
"Tidak perlu, anaknya pasti akan sangat marah jika tahu kita menangkap mamanya. Lupakan saja dan awasi dia. Pastikan juga agar dia tidak bisa menghubungi siapapun." jelas Dirgantara.
Laptop di depannya tiba-tiba menyala, menampilkan foto keluarganya sejak dulu. Mereka saling tersenyum di layar, menampilkan kebahagian yang harmonis.
"Andai aku yang kau pilih waktu itu, sudah jelas hidupmu tidak akan seperti ini. Aku bisa menjagamu daripada suamiku yang tidak berguna itu." katanya penuh ancaman.
"Tidak apa, lupakan semuanya. Aku tinggal membalas dendam pada semua cucumu, agar kau tahu rasanya di tinggalkan selama ini." lanjut Dirgantara dengan tatapan penuh dendam pada foto keluarga yang berada di atas mejanya.
Kejadian menyedihkan lima tahun lalu pun terulang di ingatannya. Bagaimana tidak, cantiknya perempuan yang menggunakan rok mini, siapa saja membuat pandangan laki-laki terpesona dengannya. Tetapi, dia malah menolak anak tampan terpopuler di sekolahnya dan memilih laki-laki yang lebih buruk.
"Aku menyukainya karena hatinya yang baik." kata perempuan itu saat di tanya alasannya memilih pria yang culun itu daripada Dirgantara sendiri.
"Apa yang kurang dariku?" tanya Dirgantara yang memberanikan diri. Dia sudah lama akrab dengan Rani, tetapi perempuan cantik itu tidak sama sekali melirik dirinya dan memilih laki-laki lain yang tidak jelas asal usulnya.
"Tidak ada yang kurang, hanya saja hatiku tidak untukmu." jawab Rani sebelum pergi.
Amarah Dirgantara melunjak, dia pindah sekolah demi mendapatkan gadis itu, tetapi tetap saja usahannya sia-sia. Dendam yang dia punya, kini semakin melebar saat tahu Rani sudah menikah siri dengan laki yang bodoh itu. Hati Dirgantara semakin sakit.
"Aku kembali membalas dendam." ujar Dirgantara sambil tersenyum-senyum di depan laptopnya.
"Jalankan rencana kedua segera!" ujar Dirgantara sambil memegang ponselnya, memberi perintah.
"Siap, Bos." ujar timnya yang kompak.
**
**
__ADS_1
**
Di dalam penjara, empat orang terus mondar mandir menunggu waktu yang tepat untuk meloloskan diri. Bosnya sudah memberi kode semalam, pagi ini juga dia akan di lepaskan. Tetapi, polisi tidak kunjung datang menjemputnya.
Rak.. Rak.. Rak..
Terdengar sesuatu yang berbunyi dari balik tembok. Sepertinya, tembok tempatnya berdiri ingin di robohkan.
"Menjauh dari sana!" titah seseorang dari luar.
Si tegap dan si kalem segera mundur beberapa langkah menghampiri kedua temannya. Tak butuh waktu lama, temboknya berhasil runtuh. Mereka segera keluar dengan cepat sebelum ada yang melihatnya.
Polisi mulai keluar saat mendengar suara ribut. Mereka baru sadar, dirinya kecolongan. Segera mereka mengejar mobil yang membawa empat tersangka itu.
"Kita berpencar di sini, si tegap dan si kalem akan pergi menjalankan rencana kedua bos. Dan yang lain, ikut denganku membodohi polisi tidak berguna itu." perintah seseorang yang mengemudi.
"Oke." ucap Si tegap dan si kalem kompak. Mereka berdua lalu melompat dan turun dari sana. Tubuhnya sampai berbaring ke sana sini, tetapi tidak membuat mereka berdua merintih kesakitan.
"Ayo kita pergi. Bos pasti sudah menunggu." kata si Kalem sambil menarik tangan temannya.
"Papa harus tahu!" ucap Rendy yang menghubungi Gilang, tetapi tidak di angkat sama sekali. Rendy menghubunginya berkali-kali, Gilang tidak kunjung bersuara.
"Papa benar-benar aneh. Ketika di butuhkan, tidak ada. Bagaimana bisa menjadi papa yang terbaik nanti?" ucap Rendy yang kesal.
Ponselnya terus bergetar menampilkan bahaya. Rendy baru sadar, dia terus di ikuti oleh seseorang tanpa sepengetahuannya. Rendy sengaja menyetel ponselnya, mengirim peringatan saat orang yang berjarak dekat dengannya, terus berdekatan dengannya selama tiga puluh menit. Sangat mudah bagi anak genius ini melakukan pengembangan di ponsel pintarnya. Tinggal mengaktifkan lokasinya saja.
Rendy berlari secepat mungkin, mendekati kerumunan untuk mengalihkan perhatian orang yang mengikutinya. Di saat dirinya bersembunyi, dia mulai menghubungi Uncle Reyhan. Yang lebih gercep dari papanya sendiri.
"Paman, aku dalam bahaya. Aku kirim lokasinya sekarang!" titah Rendy dengan suara berbisik-bisik.
"Apa? Rendy, kau bicara apa?" teriak Reyhan yang bingung. Pasalnya, suara Rendy tak terdengar jelas.
__ADS_1
Ting..
Lokasi Rendy sudah di kirim, dia segera pergi mencari penguntit itu. Tetapi, Rendy tidak melihat ada orang yang mencurigakan. Rendy tetap di keramaian, berharap penguntit itu tidak berniat membawanya atau menculiknya di saat banyak orang di sekitarnya.
"Aku tidak menunggu paman Reyhan datang." kata Rendy sambil duduk di kursi di depan toko.
Sementara itu, Kanaya semakin bingung. Lokasi yang di kirim orang itu sudah tepat, tetapi dia belum bertemu orang yang menyuruhnya datang. Kanaya mampir sebentar di toilet, merapikan penampilannya. Di saat dia sibuk, orang suruhan Dirgantara segera menutup pintu dari luar dan menguncinya. Kanaya kaget, berlari cepat membuka, tetapi sudah terlambat.
"Hei! Siapa yang berani melakukannya?" teriak Kanaya mengetuk keras pintu toilet yang dia masuki.
Orang yang berada di luar justru merasa lega, berhasil mengamankan satu orang yang akan menjadi penghalang bagi bosnya. Dia menempelkan tulisan di dekat tembok jika toiletnya tidak berfungsi. Maka, semua orang tidak akan masuk dan membuka pintu untuk Kanaya.
"Halo, bos. Aku sudah selesai mengamankan perempuan itu. Berikan aku perintah lagi." ujarnya dengan penuh percaya diri.
"Oke, tinggal pantau rumah keluarga Gilang. Pastikan, neneknya tetap berada di sana." jelas Dirgantara dari seberang telepon.
"Baik, Bos. Itu pekerjaan mudah." katanya yang langsung segera pergi dari sana.
**
**
**
Si kalem dan si tegap, saling menatap ketika sampai di perusahaan Gilang. Mereka berdua belum pernah mengerjakan tugas yang konyol seperti ini. Mereka berdua harus pura-pura menjadi seorang investor yang akan membantu perusahaan Gilang bangkit kembali. Pakaian jas hitam menyelimuti tubuhnya agar terlihat real penyamarannya.
"Kau jangan bergetar, aku juga bisa ikut-ikutan." timpah si Tegap yang melirik temannya seperti tidak siap.
"Kalau kita di tangkap polisi, bagaimana? Kenapa harus kita yang di pilih bos, bukannya kita seorang tahanan yang barusaja kabur?" keluh si kalem yang merasa takut ketahuan.
"Nikmati saja. Kita beruntung memerankan karakter pengusaha kaya. Jarang kan kita berpenampilan seperti orang kaya asli?" bujuk Si tegap sambil menepuk pundak temannya. Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift, di mana banyak karyawan yang masih bekerja.
__ADS_1
Semua karyawan melototi mereka seolah curiga dengannya. Hanya senyum yang mampu si tegap keluarkan, padahal keringat dinginnya sudah membasahi leher dan dahinya.
"Mati rasa aku." umpat si Kalem.