
Gilang mengirim laporan ke perusahaan Rama. Dia sengaja melakukannya, memancing Rama untuk keluar beraksi. Setelah melihat Rama membaca laporannya, Gilang bergegas ke suatu tempat.
"Hei, aku butuh bantuanmu. Kau bilang bisa membunuh kan? Tunjukkan padaku agar aku paham siapa dirimu sebenarnya. Sia-sia jika hanya mengaku sebagai mafia saja." Tutur Gilang membujuknya.
"Kau mau bukti? Baiklah, katakan siapa yang perlu aku bunuh?" Tanya orang itu. Gilang segera menunjukkan sebuah foto Rama pada gurunya yang mengajari bela diri. Tanpa protes sama sekali, dia langsung pergi mencari orang itu.
Dua jam kemudian, Gilang menunggu laporan dari Rama. Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Gilang mengangkatnya dengan cepat.
"Datang ke gudang dekat rumahku. Aku sudah membawa orang yang ingin kau bunuh." Ujarnya sebelum mengakhiri sambungan telepon. Gilang berlari keluar dari rumahnya malam-malam membuat Alvin yang melihatnya penasaran hingga mengikuti Gilang.
Tiba mereka di sebuah gudang yang tak terpakai, Gilang masuk dengan terburu-buru. Dilihat orang suruhannya berhasil mengikat Rama di kursi kayu sebelahnya.
"Kau sudah datang? Dia orang yang kau maksud kan?" ucapnya sambil menunjuk ke arah Rama.
"Benar. Lepaskan penutup mulutnya, aku mau dengar suaranya untuk terakhir kalinya." Titah Gilang memberi perintah. Segera dilepas penutup mulut yang melekat pada bibir Rama. Saat itu, Rama bisa bernafas dengan bebas.
"Dasar kurang ajar kamu, Lan. Berani sekali menangkap diriku. Kau mau apa denganku?" teriak Rama yang emosi.
"Sabar, jangan terlalu banyak marah. Kau bahkan belum mendapat pelajaran dariku. Aku sudah tidak mau memberimu hidup lagi karena sudah berani mengancam keluargaku." Jelas Gilang sambil duduk di hadapan Rama.
"Lalu?"
"Aku mau membunuhmu. Opsh, bukan aku. Tetapi dia!" tunjuk Gilang pada orang suruhannya yang berada di sampingnya. Orang itu tengah menghisap rokok sambil duduk santai.
"Kau tidak punya hati!" teriak Rama mengertak.
"Memang tidak sejak kau berusaha membunuhku waktu berada di kediaman Chandrawinata. Kau lupa kejadian itu? Anakku sampai menjadi korban. Di tambah nenekku juga krisis. Kalau kau hidup, yang ada hanya menyusahkan polisi saja. Jadi, sebaiknya mati agar bisa hidup dengan damai." Tutur Gilang sambil memberikan kode pada orang suruhannya, memulai aksinya.
"Selamat tinggal, Rama. Semoga kita bisa bertemu di surga. Ah, jika kamu masuk surga juga." Ujar Gilang yang melambaikan tangan sebelum keluar dari sana. Saat itu juga, Rama di bunuh. Hanya teriakan Rama yang terdengar untuk terakhir kalinya.
"Mengerikan. Jadi ini alasan kenapa kak Gilang tertarik masuk di komplotan mafia?" Bisik Alvin dengan suara perlahan. Dia menyaksikan dengan kedua matanya, bagaimana sikap Gilang terlihat berbeda jelas.
__ADS_1
**
**
**
Satu minggu telah berlalu, tidak ada lagi yang mengganggu keluarga Gilang. Sejak Rama di nyatakan meninggal, Friska menghilang entah kemana. Perusahaan Rama jatuh ke tangan pamannya sendiri. Gilang pun bisa bernafas lega, kini keluarganya sudah aman dan damai.
Tepat pada hari ini, hari yang tunggu akhirnya tiba. Gilang sah menikah dengan Kanaya dan menjadi keluarga yang resmi secara hukum dan negara. Aura kebahagian terpancar dalam diri mereka. Bahkan Rendy ikut merasa senang keluarganya bisa kembali utuh.
"Selamat menjadi papa Rendy yang sah. Papa sekarang sudah resmi menjadi milik Rendy. Jadi, Rendy sudah resmi juga menjadi anak papa Gilang!" teriak Rendy penuh kesenangan.
Kanaya datang menjewer telinga anaknya. Gilang yang berdiri di depan Rendy, berusaha melepas tangan Kanaya.
"Awas jika kau ikut campur! Kau tidur di luar!" ujar Kanaya mengancam. Tangan Gilang pun di turunkan.
"Mama masih sama, masih seperti mak lampir yang jahat. Bisa-bisa papa tidak tahan dengan mama dan pergi meninggalkan mama nanti." Sahut Rendy memasang wajah cemberut.
"Nenek, mama berubah jadi mak lampir." Adu Rendy. Kanaya tersenyum manis memaksakan dirinya melihat mata ibunya melotot ke arahnya.
"Sudah menikah, sikapnya masih sama. Kau harusnya memperbaiki diri, sudah punya suami dan anak sekaligus." Tegur Ibu Kanaya.
"Iya, Bu." Jawab Kanaya sambil memegang tangan Gilang.
"Jabgan terlalu kasar dengan anakmu sendiri. Sebentar lagi, dia akan tinggal dengan kami dan kau akan kesepian di rumah. Apa tidak sebaiknya, kau ikut pindah bersama kami?" tanya nenek Rani sambil menatap wajah besannya.
"Mana mungkin aku mau, aku tidak mau kalian repot-repot karenaku. Lagian, aku lebih nyaman tinggal di desa. Orang sepertiku tidak pantas tinggal di kota." Jelas ibu Kanaya.
"Kau terlalu merendahkan diri." Tepuk nenek Rani. Semua orang tertawa merasakan kebahagian yang datang.
Setelah resepsi selesai, Kanaya dan Gilang menginap di hotel. Rendy pulang bersama nenek Rani, Mizuki, Alvin, dan Reyhan.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan di sini? Seharusnya kita ikut pulang bersama mereka tadi." Protes Kanaya sambil duduk di tepi ranjang.
"Apa yang kau ingin lakukan? Biasanya, pengantin melakukan malam pertama. Kau tidak mau mencobanya?" goda Gilang sambil duduk di samping istrinya.
"Mau aku patok kepalamu?" ujar Kanaya memberi ancaman.
"Aku tidak salah apapun. Perkataanku benar. Makanya kita menginap di hotel agar tidak ada yang bisa mengganggu kita." Ujar Gilang berterus terang. Tatapannya semakin mesum melihat istrinya sendiri.
"Menjauh dariku, kau seperti penjahat." Dorong Kanaya, namun dirinya yang terguling ke pelukan Gilang.
"Bagaimana rasanya? Hangat?" tanya Gilang.
"Lepaskan bodoh. Aku menikah denganmu karena terpaksa. Ini semua demi Rendy." Ucap Kanaya mengingatkan.
"Kau yang terpaksa, bukan aku. Jadi, tidak masalah jika aku meminta hakku. Kalau di pikir-pikir, kita sudah melakukannya waktu itu di hotel. Jadi, tidak ada masalah sekarang." Bisik Gilang.
"Awas kau, aku adukan sama Rendy." Ujar Kanaya yang berlari masuk ke dalam kamar mandi, mengamankan dirinya untuk sesaat.
Tiba-tiba, pintu kamar Gilang di ketuk. Gilang bangkit membuka pintu, mengira jika makanan mereka sudah sampai. Namun, seorang anak kecil yang manis menyapanya sambil memberikan kartu ucapan pada Gilang.
"Om yang barusaja menikah kan? Aku doakan semoga pernikahan Om langgeng sampai tua. Dan ini, ada titipan ucapan dari orang tuaku. Semoga om suka." ucap anak perempuan itu. Gilang tersenyum mengambilnya sambil berjongkok pada anak kecil itu. Kira-kira usianya hampir sama dengan Rendy.
"Terima kasih banyak. Kau anak yang baik." ucap Gilang sambil mengelus lembut rambut panjang anak itu.
"Ada siapa, sayang?" teriak Kanaya yang baru keluar kamar mandi. Anak itu segera pergi dengan terburu-buru. Gilang lalu masuk dan menutup kembali pintu kamarnya.
"Anak kecil datang memberikan kita kartu ucapan. Mungkin dia melihat kita menikah tadi. Ayo lihat seperti apa kartu ucapannya." Ujar Gilang sambil memberikan kartu itu pada Kanaya.
"Ah..." Kanaya membuang kartu itu sambil mundur perlahan. Tubuhnya bergetar hebat. Gilang segera melihatnya dan ikut terkejut.
Kartu yang seharusnya di tulis dengan tinta, malah di tulis dengan darah. Di tambah, terdapat tulisan jika dia akan membalas dendam pada anak Gilang dan Kanaya.
__ADS_1
..."Dasar. Kali ini siapa lagi?" umpat Gilang yang heran. Dia sudah membasmi Rama dan muncul musuh baru lagi. Benar-benar merepotkan....