
Kanaya masuk ke dalam kosan dengan nafas memburu. Rendy terheran-heran melihatnya. "Akhirnya, aku bisa lepas dari presdir sombong itu." ucap Kanaya seketika sambil mengelus dadanya berusaha menetralkan keadaan jantungnya.
"Mama bertemu dengan siapa?" tanya Rendy yang diam-diam mendengar apa yang Kanaya katakan.
"Orang menyebalkan sedunia."
"Benarkah? Kalau begitu, Mama harus bersiap-siap. Terkadang perbedaan benci dan cinta hanya beda tipis." jawab Rendy sambil menikmati gorengan yang Kanaya bawa.
Kanaya membulatkan matanya, dia tidak menyangka anaknya berbicara hal bodoh seperti itu. "Rendy, apa kau sudah waras? Kenapa bisa mengatakan hal bodoh seperti itu dengan enteng?" tanya Kanaya yang tidak terima.
"Memang seperti itu, Ma. Benci terkadang berubah menjadi cinta. Jika sudah terbiasa membencinya, kita akan terjerumus ke dalam lubang cintanya." jelas Rendy sekali lagi membuat Kanaya semakin kesal.
"Sudah, setelah kau makan cepat tidur dan jangan main laptop lagi. Pikiranmu mulai tidak normal." ucap Kanaya seketika.
Kanaya masuk ke dalam kamar mandi, sementara Rendy menikmati gorengan yang dibeli Kanaya. Laptop Rendy bergetar membuat Rendy teralihkan. Dia dengan cepat membuka laptopnya. "Ah, jadi seperti ini. Baiklah, malam ini kita buat kekacauan." ucap Rendy sambil fokus mengetik dengan wajah serius.
Layar di laptopnya mulai menghitung persentase loading. Tidak berselang lama, Rendy berhasil masuk ke perangkat lunak milik perusahaan Gilang. Dengan senyum manis, Rendy menjalankan rencananya.
Di tempat lain, Gilang habis mandi di apartemennya. Dia lalu keluar ke ruang tamu sambil menyalakan tivi. Ponselnya terus berdering di dalam kamarnya membuat Gilang terpaksa mengambilnya.
"Nomor tak di kenal?" tanya Gilang dengan wajah bingung. Siapa yang menghubunginya malam-malam sampai menggunakan nomor baru?
Awalnya, Gilang tidak berniat mengangkatnya. Tetapi, ponsel tersebut terus bergetar. Rasa penasaran Gilang memuncak, dia pun mengangkat panggilan dari nomor tak di kenal, lalu mendekatkan ponselnya di telingannya.
"Selamat malam, anda masuk dalam perangkat bot. Harap terus mendengarkan dan pastikan anda bersiap mendapat jadiah dari tim kami..."
Gilang mematikan ponselnya dengan cepat, dia sadar jika data-data di perusahaannya sedang di retas. Nomor yang dia daftarkan di perusahaannya masih dia gunakan. Jadi, keamaan datanya tetap terjaga hingga saat ini. Tetapi, kali ini pembobol itu berhasil masuk.
__ADS_1
"Aku tidak boleh kalah!" ucap Gilang yang mulai mengetik dengan serius di layar ponselnya. Gilang memindahkan beberapa berkas-berkas penting di perusahaanya ke tempat yang aman. Tetapi, sudah banyak berkas hilang di ambil sang pembobol. Gilang tidak punya waktu untuk menghentikannya. Rendy bergerak selangkah darinya.
Merasa di permainkan, Gilang dengan cepat menelpon Reyhan. "Rey, segera datang ke perusahaan. Ada orang yang mencari masaah denganku." perintah Gilang lalu bergerak keluar dari apartemennya menuju perusahaannya. Gilang lupa jika dirinya masih memakai pakaian mandi.
Kembali ke kosan Kanaya, Rendy terus mengambil berkas-berkas yang menurutnya penting. Dia tidak lupa mengcopy semua berkas itu takut jika nanti papa nya berhasil menghentikan dirinya.
"Rendy! Ayo tidur!" teriak Kanaya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Emosi Kanaya terlihat ketika Rendy masih terus fokus dengan laptopnya.
Rendy tidak mendengarkan, Kanaya dengan cepat menutup laptop Rendy. Rendy yang belum selesai mengurus pekerjaannya, tidak terima. Dia pun berusaha membujuk Kanaya untuk membiarkannya beberapa menit lagi.
"Ma, beberapa menit lagi!" mohon Rendy.
"Tidak, sekarang juga tidur. Kau besok masih harus ke sekolah." titah Kanaya yang bersikeras menolaknya. Kanaya merebut paksa laptop Rendy.
"Baiklah, selamat malam, Ma." ucap Rendy yang pasrah. Dia lalu mengambil bantal dan tidur di kasur yang sudah disediakan Kanaya.
Setelah memastikan Rendy tertidur, Kanaya pun mendekatkan dirinya di dekat anaknya lalu ikut tertidur.
Di perusahaan Bintang Group, semua karyawan penting berkumpul di sana. Reyhan dan Gilang langsung memeriksa bagian keamanan. "Jadi, apa pembobol itu sudah bisa di cegah?" tanya Gilang ketika memasuki ruang keamanan.
"Sudah, pak Presdir." jawab Hanami, ketua keamanan data di perusahaan Bintang.
"Lalu, apa tim sudah melacak keberadaan orang itu?" tanya Reyhan.
"Iya, dia berada tidak jauh dari sini. Lebih tepatnya berada di jalan Merdeka nomor sepuluh." jawab Hanami dengan tegas.
"Sudah ada tim yang ditugaskan untuk menangkapnya?" tanya Reyhan kembali.
__ADS_1
"Iya, pak."
"Baiklah, beritahu polisi juga untuk menangkap orang itu. Jangan beri dia ampun karena sudah berani berurusan denganku. Kau harus ingat, data-data yang dia curi harus di kembalikan. Aku tidak mau dengar apapun alasannya." pintah Gilang yang langsung keluar setelah mengatakannya.
"Baik, pak."
Gilang kembali ke apartemennya setelah masalahnya teratasi. "Apa kau yakin masalahnya sudah selesai?" tanya Reyhan yang duduk di samping Gilang.
"Iya, anggota keamanan kita cukup gesit. Mereka sangat cepat bergerak hingga pembobol itu tidak bisa lari dari kita." ucap Gilang dengan percaya diri. Selama ini, sidah biasa bagi Gilang menangkap orang jahat yang berurusan dengannya. Sangat mudah bagi presdir sombong itu. Maka dari itu, jarang sekali orang bermasalah dengannya atau mereka akan berakhir menyedihkan.
Di kosan Kanaya, suara deringan mobil polisi membuat kuping Rendy terasa terganggu. Rendy dengan cepat bangun dan membuka pintu untuk melihat keadaan di luar. Betapa terkejutnya Rendy, semua jalan di tutup dan banyak polisi yang berbaris rapi seolah mencari buronan.
"Ada apa ini? Apa ada penjahat di sekitar sini?" tanya Rendy sambil mengusap matanya agar tetap terjaga dan melihat dengan jelas.
Rendy memperhatikan sekali lagi, terlihat orang-orang memakai jas hitam dengan logo Bintang Group saling berbisik. Rendy baru sadar, dia lupa untuk keluar dari webnya sampai polisi bisa melacak lokasinya.
"Ini gawat, aku bisa dalam masalah." kata Rendy yang berlari masuk mengambil laptopnya berusaha menghilangkan jejak dirinya dari perusahaan Gilang.
"Ayo keluar, ayo keluar. Mereka tidak boleh melacak tempat ini." ucap Rendy sambil terus mengetik di laptopnya. Keyboard laptopnya terus di tekan berkali-kali dengan keras.
"Yes berhasil." ucap Rendy yang akhirnya bisa keluar walau sempat terkendala. Tetapi, pintu rumahnya di ketuk oleh petugas kepolisian.
Tok.. Tok.. Tok..
Rendy meneguk ludahnya, dia tidak mungkin ketahuan. Dia yakin sekali sudah menghilangkan jejak dirinya.
"Permisi, apa ada orang di dalam?" teriak dua orang polisi yang berdiri di depan pintu kosan Kanaya.
__ADS_1
Rendy sekilas melirik Kanaya yang terus mendengkur. Dengan rasa gugup, Rendy membuka pintu dengan perlahan. 'Tidak apa kalau ketahuan, papa ku tidak akan memengjarakan diriku. Aku ini kan anak kandungnya.' guman Rendy.