
"Sial, dia berhasil lolos." ucap Gilang yang keluar dari mobilnya.
"Ini semua salahmu, kau terlalu lelet mengemudi." ujar Kanaya sambil keluar dari mobil memarahi Gilang.
"Apa? Salahku? Kau lihat sendirikan, ada bom gas air mata." bela Gilang yang berdebat dengan Kanaya.
"Kalau itu bom pasti sudah meledak. Itu hanya gas air mata." Teriak Kanaya sambil menaikkan tangannya.
"Sudahlah, aku menyesal menumpangi mobilmu. Jadinya kan, Rendy di bawa pergi. Hu hu hu, anak malangku." ucap Kanaya bersedih.
"Jangan menangis, suaramu seperti kuntilanak." Ucap Gilang melirik Kanaya yang menangis. Dengan cepat, Kanaya menghapus air matanya.
"Ini semua salahmu, pokoknya kamu harus mencari Rendy sampai ketemu." Ucap Kanaya di sela tangisannya.
"Aku menyesal sekarang."
"Apa? Kau bilang menyesal? Lihat saja nanti, kalau Rendy sudah ketemu aku bakal aduin kamu, presdir sombong itu bukan hanya sombong, tetapi pelit membantu juga." teriak Kanaya terus menyalahkan Gilang.
Gilang kali ini diam, semakin dia mengeluarkan pendapatnya, Kanaya tidak akan berhenti menyalahkan dirinya. Tidak berselang lama, Reyhan datang dengan beberapa anak buahnya.
"Gilang, kau tidak apa-apa?" tanya Reyhan yang datang menghampiri Gilang.
"Kau sudah gila? Kenapa lama sekali meminta bantuan. Sekarang, penculik itu berhasil membawa Rendy!" titah Gilang yang melampiaskan emosinya kepada Reyhan.
"Apa?" Reyhan hanya bisa membulatkan matanya sambil memasang wajah bingung. Baru datang, sudah di marahi padahal dirinya hanya mencemaskan keadaan presdirnya.
"Ini semua salahmu, kau terlambat datang sampai penculiknya lolos." tunjuk Kanaya dengan wajah memerah.
"Itu benar, semua itu salah Reyhan. Sudah, sebaiknya kita berpencar dan mencari Rendy. Reyhan, kau harus meminta bantuan kepolisian agar bisa melacak dimana Rendy berada." Jelas Gilang memberi arahan.
"Oke." ucap Reyhan yang berlari masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Gilang ikut masuk, tetapi Kanaya masih berdiri mematung di tengah jalan. "Hei, janda aneh. Apa kau mau terus berdiri di situ menunggu anakmu?" teriak Gilang yang duduk di kursi kemudi.
"Kau pikir bisa?"
"Kalau begitu, ayo naik. Kita cari Rendy." ujar Gilang yang tidak sabar melajukan mobilnya mencari keberadaan Rendy. Walau dia dan Rendy baru beberapa hari kenal, hatinya ikut terasa hampa ketika Rendy di culik.
Sementara itu, di sebuah rumah besar nan megah, Rendy berjalan beriringan bersama empat orang yang menculiknya.
"Dimana bos, panggil dia!" ujar salah satu orang yang menculik Rendy.
"Dia bilang anda harus membawa anak itu ke kamarnya langsung, pak." ujar sang pembantu paruh baya.
"Baiklah, kita masuk ke kamarnya." perintah si Kalem.
Rendy di tarik paksa, tetapi sebelum itu dia sempat mengirim lokasinya ke mobil Gilang. 'Tinggal menunggu papa datang menjemputku.' guman Rendy di dalam hati sambil berjalan santai.
Di dalam kamar, terdapat beberapa komputer yang rusak, di depan jendela berdiri seorang kakek tua dengan rambut yang hampir memutih semua.
"Oh, jadi kakek tua itu yang menyuruh paman-paman menculikku?" tanya Rendy seketika. Sang kakek itu langsung menoleh ke belakang dan tersenyum melihat Rendy.
"Kenapa tidak menghubungiku saja kalau begitu?"
"Apa kau yakin bakal datang?" tanya sang kakek sambil membungkuk melihat Rendy dengan dekat.
"Tentu saja aku datang, kenapa tidak." ucap Rendy tersenyum.
"Pak Dirgantara, tadi kami sempat melihat mobil pak Gilang yang mengikuti kami. Terpaksa kami memberinya gas air mata agar tidak mengejar lagi." jelas si kalem.
"Apa, Gilang? Ada apa dengan anak itu?" tanya Dirgantara dengan alis mengerit.
Dirgantara menatap wajah Rendy lekat-lekat. Dia memang merasa tidak asing dengan wajah Rendy sejak pertama kali melihatnya di sekolah. Dia seolah kenal dengan Rendy.
__ADS_1
"Lalu, apa yang bisa aku bantu?" tanya Rendy kepada Kakek Dirgantara.
"Kau sepertinya benar-benar pintar. Kau bahkan tahu kenapa aku menyuruh anak buahku menculik dirimu. Baiklah, aku beritahu saja. Aku ingin kau membantuku membobol perusahaan Gilang, kau mengerti?" ucap kakek Dirgantara sambil menatap Rendy dengan tajam.
"Kenapa dengan Bintang group, apa kakek bermusuhan dengannya?" tanya Rendy dengan wajah polosnya.
"Kalau tidak bermusuhan, mana mungkin kami membawamu ke sini. Kau sendirikan yang bilang jika dirimu bisa membobol suatu perusahaan, jadi buktikan sekarang juga!" titah kakek Dirgantara yang mengeluarkan suara aslinya.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana kakek tua?" ucap Rendy sambil melipat kedua tangannya di dada. Para anak buah Dirgantara tersenyum mendengarnya.
"Kau cari mati anak kecil?" ancam Dirgantara.
"Anda yang cari mati denganku, aku bukan anak kecil biasa." Jawab Rendy menantang.
"Ha ha ha, dasar anak kecil. Apa kau tahu, dirimu dalam bahaya saat ini. Tidak ada orang yang akan datang menolong dirimu, seluruh pekarangan rumah ini penuh dengan jebakan. Kalau ada yang datang, aku pastikan mereka bakal mati." ucap Kek Dirgantara dengan suara di tekan.
Rendy menelan ludahnya, dia takut jika Mama atau Papanya datang malah mendapat jebakan. 'Tidak boleh, aku tidak mau mamaku terluka. Aku harus keluar dari sini sebelum mereka datang.' Guman Rendy sambil memaksakan senyumannya di depan Kek Dirgantara.
"Baik, aku bantu bobol perusahaan pak Gilang. Tetapi, kakek tua harus memberiku waktu berpikir sendiri. Dan selama aku berpikir, aku tidak mau di ganggu. Tolong simpan beberapa laptop canggih di kamar ini lalu keluar dan menunggu hasilnya sampai aku selesai. Bagaimana kakek tua, sepakat?" tanya Rendy sambil mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan.
"Sepakat," ucap kek Dirgantara yang senang.
"Baiklah, semuanya keluar dan tinggalkan dia di sini." perintah kek Dirgantara kepada anak buahnya.
"Tetapi bos, kalau dia kabur bagaimana?" tanya salah satu anak buah Dirgantara.
"Apa otakmu sudah hilang, mana bisa dia kabur. Dia ini hanya anak kecil saja." jawab kek Dirgantara dengan tegas. Dia sangat yakin, mustahil jika Rendy bisa kabur dari kamar ini yang tinggi temboknya mencapai tinggi Rendy.
"Benar, lagian semua pekarangan rumah ini banyak jebakannya. Anak kecil tidak bisa lolos." ucap si kalem.
"Ayo keluar!" teriak kek Dirgantara yang tidak sabar melihat hasilnya.
__ADS_1
Setelah semua orang keluar dan tinggal Rendy seorang diri di kamar, Rendy mulai beraksi. Dia mencari tahu keamanan rumah Dirgantara. "Jika ada jebakan dimana-mana, pasti sistemnya tersimpan di komputer. Aku harus temukan dan nonaktifkan." ujar Rendy mulai mencari situs web dimana letak keamanan rumah Dirgantara.
Tidak butuh waktu lama, anak genius itu berhasil membuka keamanannya. Segera Rendy mematikannya satu per satu. "Keamanannya banyak sekali, aku sampai bingung yang mana jebakan di pekarangan rumahnya. Bahkan, terdapat jebakan di dalam rumah juga." Ucap Rendy mengamati dengan teliti.