
"Kau mau membantu perusahaanku kan? Aku bakal memberimu uang yang banyak jika kau memberiku data perusahaan Gilang." ucap Rama yang langsung ke intinya.
"Apa maksud, Paman?" tanya Rendy yang pura-pura tidak mengerti.
Rama mengeluarkan sebuah kertas dimana tertulis nama Rendy di sana. Rendy sampai terkejut, darimana Rama mendapatkannya.
"Kau pasti heran dan berpikir darimana aku mendapatkannya? Tidak ada yang mustahil bagi Rama. Jika kertas ini sampai jatuh ke tangan Gilang, dia pasti akan sangat marah padamu. Orang yang sudah merebut data perusahaan Gilang adalah anak angkatnya sendiri." ucap Rama yang berusaha membujuk Rendy untuk tunduk kepadanya.
Rendy berdiam diri, fokus berpikir dan mencari jalan keluar dari masalahnya. Rama mengambil kesempatan ini untuk membuat Rendy bingung. "Kau ingin agar Gilang lepas dari polisi kan? Aku bisa melakukannya asal kau mengabulkan permintaanku. Deal?" ucap Rama sambil mengulurkan tangannya. Rendy meraihnya dengan tangan bergetar.
"Baik, paman. Jadi kapan paman datang dan mengambil data itu?" tanya Rendy balik.
"Besok. Kamu datang ke sini memberiku data perusahaan Gilang. Malam ini juga, aku cabut laporanku dari kantor polisi." jelas Rama.
"Oke, besok aku akan berikan sesuai kesepakata kita bersama. Awas jika paman mengingkari janji, aku tidak akan pernah memaafkan paman." ucap Rendy mengancam.
Rama bukannya takut, malah gemas. Dia tidak menyangka anak sekecil Rendy bisa memberi ancaman juga kepadanya.
Gilang berhenti berjalan ketika melihat anaknya turun dari tangga. Wajah Gilang yang sempat panik, kini berubah lebih tenang. Gilang segera menghampiri Rendy, memeriksa tangan, kaki, dan kepala Rendy.
"Kau baik-baik saja kan, tidak ada yang luka atau tidak ada yang di ambil dari orang jahat tadi?" tanya Gilang.
"Papa tenang saja, semuanya baik-baik saja. Sebaiknya kita segera pulang, mama pasti sudah menunggu di rumah." kata Rendy sambil menarik Gilang segera pergi dari sana.
Keesokan Harinya..
Rendy berangkat ke sekolah di antar Kanaya menggunakan sepeda motor. Setelah sampai di sekolah, Rendy membodohi mamanya. Dia bukannya ke sekolah melainkan pergi ke perusahaan Rama.
"Lan, Rendy mulai bergerak!" ucap Reyhan yang masuk ke ruangan Gilang dengan terburu-buru.
__ADS_1
Gilang sedang menatap pemadangan dari luar jendela dengan kedua tangan di sembunyikan di belakang.
"Aku sudah menduga ada sesuatu yang membuat Rendy menurut kepada Rama. Beritahu orang kita untuk terus menjaga Rendy dan awasi pergerakannya." titah Gilang tanpa menoleh menatap Reyhan.
"Tetapi, Lan. Apa yang Rama inginkan dari Rendy? Jantung, hati, dan ginjal Rendy masih sangat kecil. Tidak mungkin dong dia memintanya." ucap Reyhan yang menjadi penasaran.
"Entah apa yang ada di pikiran Rama sampai melibatkan anakku. Aku tidak akan tinggal diam." ucap Gilang geram.
*****
Lama Rendy berjalan, dia akhirnya sampai di depan perusahaan Rama. Rendy lalu membuka tasnya dan menarik sebuah Flash disk yang di minta Rama. Tiba-tiba, tangan Rendy di pegang oleh Alex. Rendy terkejut temannya berada di sini.
"Kau bolos sekolah lagi?" tanya Alex menatap Rendy dengan lekat.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Pulanglah, nanti keluargamu mencarimu." titah Rendy yang berjalan masuk ke dalam gedung.
"Papaku masih di penjara dan bibi ada di rumah. Jadi tidak ada yang akan tahu aku berada di sini." ucap Alex sambil mengikuti Rendy.
Rendy lalu membuka ruangan Rama dan melihat tidak ada siapapun di ruangan itu. Tanpa merasa ragu, Rendy berjalan masuk bersama Alex membuat jebakan yang Rama buat berhasil menangkap Rendy dan Alex.
Brak..
Dua orang anak kecil terjatuh sampai di kelilingi jaring. Rendy berusaha meloloskan diri, tetapi suara orang tertawa membuatnya menoleh.
"Hei, anak kecil. Kau benar-benar datang dan masuk ke dalam perangkatku?" ucap Rama yang tersenyum melihat Rendy di temani Friska.
"Oh, tante jahat. Kau ada di sini juga? Kenapa tidak menemani papaku di penjara?" tunjuk Alex yang kaget melihat Friska berdiri di dekat Rama sambil melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau mengenal anak ini?" tanya Rama yang menoleh ke arah Friska sambil menunjuk Alex.
"Dia anak temanku yang di penjara itu. Sudah biarkan saja, aku malas mengungkitnya." ucap Friska dengab wajah dingin dan datarnya.
"Anak Azal kenapa bisa ada di sini, seharusnya Rendy yang di tangkap bukan dia. Tetapi tidak ada apa-apa, papanya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia kan berada di penjara." ucap Rama yang tetap tersenyum dengan santainya.
"Hei, kalian berdua. Bawa anak ini ke hotel, tempat paling nyaman untuk mereka. Lalu kabari Gilang jika nyawa anaknya berada di tanganku." perintah Rama.
"Permisi, Uncle. Bukannya Uncle minta data perusahaan papa? Aku sudah membawakannya di sini. Tolong lepaskan diriku dan temanku, Uncle." titah Rendy yang menolak di bawa.
"Apa kau pikir aku percaya jika kau benar melakulannya? Biar aku minta sendiri dengan Gilang." ucap Rama yang tidak melirik Flash disk di pegang Rendy.
"Padahal aku sudah melakukannya dengan benar. Tidak apa, aku simpan di sini saja. Jika Uncle ingin melihatnya silakan." kata Rendy sebelum di tarik pengawal Rama.
Rama memungut Flash Disk dengan penuh ragu-ragu. Dia tidak yakin jika Rendy benar melakukannya, tetapi dia juga merasa penasaran dengan Flash disk yang di bawa Rendy.
Alex mengutuk Friska terus menurus ketika dirinya dan Rendy di bawa ke dalam hotel, dibiarkan terkurung di dalam sana berdua saja. "Dasar mak lampir jahat, seharusnya dia membebaskan aku. Aku ini kan anak dari temannya yang rela masuk penjara demi dia. Tidak punya hati, tidak punya jantung, dan tidak punya otak." teriak Alex.
"Kau pikir dia mendengarnya? Sia-sia mulutmu bicara jika dia tidak ada di sini." ucap Rendy yang mengotak atik jam di tangannya. Rendy ingin menghubungi Kanaya atau Gilang. Tetapi pintu langsung terbuka membuat salah satu pengawal Rama mengambil semua apa yang Rendy punya. Jam tangan, tas sekolah, bahkan sampai pakaian Rendy pun di periksa satu per satu.
"Ada apa, lagi merazia orang?" sahut Alex yang ikut mendapatkannya.
"Kalian semua diam di sini dan jangan berisik. Awas!" ucapnya sambil mengeluarkan suara tegas dan keras di hadapan anak-anak.
"Itu sudah, kami punya mulut jadi bisa bicara. Anda juga bicara barusan." bantah Rendy yang kesal.
"Terserah kalian, tetapi jangan coba-coba untuk kabur. Aku akan marah dan membunuh kalian mengerti." bentaknya.
"Mati dong, Uncle!" jawab Rendy dan Alex bersamaan.
__ADS_1