Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
S2: Rendy Yang Sebenarnya


__ADS_3

Rendy kembali di tempat kerjanya dengan wajah kusut. Teman yang lain tidak berani menyapanya, apalagi ketika mendengar rumor, Rendy dan pak Wawan bertengkar.


"Lihat saja nanti, dia tidak akan tinggal lebih lama lagi. Auto di pecat!"


"Benar, baru bekerja disini sudah sok jagoan. Pasti dapat masalah besar tuh!"


"Aku kasihan melihat dia, apa tidak bersyukur mendapat pekerjaan sebagai ob dengan gaji tertinggi? Hanya perusahaan ini yang menyediakan gaji tinggi untuk ob."


Semua orang mulai berbisik dibelakang Rendy. Satu tangan Rendy menepuk meja hingga wajah mereka semua mengarah ke Rendy. Anak Gilang itu pun berjalan mendekati teman-temannya.


"Aku minta maaf, kalian tidak perlu merasa kasihan padaku. Aku tahu siapa diriku dan tidak berhak mendapat kasihan pada orang yang jauh lebih kasihan." jelas Rendy sambil keluar dari sana.


Berita Rendy melawan Wawan tersebar dengan cepat hingga ke telinga Gilang. Di ruang khusus direktur, Gilang tidak tenang memikirkan Rendy. Bagaiman jika wajahnya memar dan Kanaya melihatnya? Aku yang akan dapat masalah, pikir Gilang.


Sementara di ruangan Martin, tatapannya tajam keluar ke jendela sambil berdiri tegap. Wawan berdiam diri bersama Dirga di belakangnya.


"Apa benar semua itu?" tanya Martin dengan suara pelan namun terdengar mengancam.


"Aku tidak bermaksud..."


"Kau memukulnya dan seseorang melihatmu. Aku sudah berkata padamu, jaga sikapmu ketika berada di sini. Kita diawasi dua puluh empat jam dari mata anak buah Gilang. Bukan hanya cctv, tetapi orang-orang yang bisa bicara perlu kita waspadai." ucap Martin yang duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Rendy mendadak membuka pintu dengan paksa membuat penjaga memukulnya. Tetapi malah mereka yang terbanting ke lantai. Al-hasil, banyak orang datang melihat karena mendengar suara keras." jelas Wawan dengan cepat. Emosi Martin tidak bisa dikendalikan jika dirinya sudah marah.


"Pak Dirga! Kau jangan ikut campur, biarkan pak Wawan menyelesaikan masalah ini. Aku pura-pura tidak tahu dan membujuk Gilang untuk tidak memecatmu. Ada hal aneh yang aku temukan, anak pertama Gilang yang genius itu sudah tidak ada di universitas tempatnya belajar. Aku khawatir jika itu adalah Rendy, sang ob. Cari tahu lebih banyak tentangnya dan jika itu benar Rendy, habisi apapun caranya. Dia sudah tahu banyak tentang kita." ucap Martin dengan jelas sambil menunjuk Pak Dirga.


"Baik, Pak." ucap Dirga yang keluar dari ruangan Martin. Tinggal Wawan sendiri dengan kaki bergetar.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan menghabisimu disini karena tempat ini masih belum menjadi milikku. Aku belum leluasa dan yang jelas, aku tidak ingin tersingkir dengan cara yang mudah. Jika Pak Gilang bicara denganmu, jangan bawa namaku. Apapun itu, anggap kita tidak punya hubungan apapun." ucap Martin membalikkan kursinya membelakangi pak Wawan.


Mata pak Wawan tampak sendu, perkataan Rendy terakhir kali terngiang di kepalanya. Dirinya hanyalah anjing yang menjilat kaki pak Martin.


"Apa yang kau tunggu? Cepat keluar sebelum ada yang mencurigai kita." ucap Martin ketika melirik ke belakang dan melihat pak Wawan masih berdiri.


"Baiklah, Pak. Akan aku usahan untuk tidak membawa nama anda."


"Lakukan!" perintahnya membuat pak Wawan terburu-buru keluar.


Di depan perusahaan, Gadis menunggu Rendy. Seperti biasa, dia akhir ini lebih tertarik dengan Rendy. Entah apa yang membuatnya. Gadis bahkan melawan perkataan kakeknya secara terang-terangan.


Kebetulan, pak Martin lewat waktu itu. Mobilnya berhenti melihat tingkah Gadis yang senyum-senyum. "Apa yang dilakukan calon istriku disana?" tanya Martin dengan haran. Dia mulai berpikir ada yang aneh dengan Gadis. Biasanya, Gadis jarang datang menjenguk kakeknya, namun akhir ini Gadis bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya.


"Aku tidak tahu, Tuan. Kakek Gadis juga tidak memberitahuku."

__ADS_1


"Dia datang bukan bertemu kakeknya, tetapi menunggu seseorang. Siapa orang itu?" tanya Martin yang mengepal tangannya dengan keras.


"Aku juga tidak tahu, Tuan."


"Kenapa kau banyak tidak tahu? kau harusnya tahu masalah ini, Gadis itu adalah calon istriku, calon ibu dari anak-anakku, dia tidak boleh mencintai orang lain selain diriku." ucap Martin dengan kesal.


"Aku minta maaf, Tuan."


"Pemintaan maafmu di tolak." kata Martin dengan cepat dengan tatapan fokus keluar.


Tidak berselang lama, Rendy datang menjemput Gadis. Mereka lalu pergi bersama dengan sepeda motor Rendy. Amarah Martin sampai di puncak, tangan sang calon istrinya memeluk Rendy dengan erat. Wajah Martin berubah jadi merah.


"Gawat! Tuan sangat marah, habislah aku!" guman sopir Martin yang bergetar seketika. Apalagi mengingat tingkah jahat Martin jika dirinya kesal.


"Ikuti motor itu!" teriak Martin dengan nada keras. Dengan cepat, mesin mobil menyala dan gas di tancap dengan kecepatan tinggi.


Rendy menyadarinya, motornya diikuti seseorang. Rendy pun mengambil jalan yang sulit, masuk ke lorong sempit membuat Martin semakin kesal. Namun pak sopir masih bisa menemukan jalan hingga berhasil mengejar Rendy.


"Hentikan motor itu apapun yang terjadi!" teriak Martin.


"Baik, Pak."

__ADS_1


"Mampus kamu, Rendy. Berani sekali menyentuh mainan tuan Martin, kamu tidak akan dibiarkan hidup. Apalagi wajah tuan Martin semakin gelap dan kusut. Ini akibatnya bermain dengan orang yang salah." ucap pak sopir yang berbicara sendiri.


Mobilnya sebentar lagi akan menyalip motor Rendy dan menghalau di jalan raya. Namun, sebuah truk menghalangi mobil Martin. Tidak mau mendapat amukan lagi, pak Sopir berusaha melakukan yang terbaik hingga dijalan sepi, dia menyalip dengan kecepatan tinggi dan langsung menekan rem mobil dan memutar mobilnya. Rendy terpojok kali ini.


__ADS_2