
Gilang memutar kursinya, berusaha menenangkan dirinya yang sedang kebingungan. Orang yang tunggu akhirnya datang, Friska langsung melangkah masuk ke ruangan Gilang sambil berjalan dengan anggun bak dewi.
"Sayang, aku datang mengunjungimu. Bagaimana keadaanmu hari ini, semuanya baik-baik saja?" tanya Friska yang duduk di hadapan Gilang dengan wajah berseri-seri.
"Kenapa kau datang?" tanya Gilang balik dengan wajah datarnya.
"Kenapa lagi kalau bukan untuk bicara denganmu. Aku takjub dengan gaya bermainmu semalam, sungguh luar biasa." ucap Friska tersenyum-senyum berusaha mengingat kejadian semalam yang tidak terjadi apa-apa.
'Kau pikir aku tidak sadar?' guman Gilang di dalam hati.
"Memangnya, apa yang terjadi semalam?" tanya Gilang pura-pura tidak tahu apapun.
"Iya, seperti sepasang suami istri. Kau tenang saja, aku tidak keberatan sama sekali. Sebentar lagi kan, kita bakal menikah juga." kata Friska memancing.
'Ha ha ha, dasar wanita murahan. Aku jijik mendengarnya.' umpat Gilang diam-diam.
"Aku kok tidak mengingat semuanya? Tetapi, aku juga sampai kaget kenapa bisa terbangun di sebuah kamar hotel bersama dirimu. Mungkin apa yang kamu katakan benar." ujar Gilang.
'Yes, akhirnya Gilang masuk ke perangkap.' guman Friska dengan senyum bahagia.
Friska lalu mengirim pesan kepada Azal, mengabarinya jika misi mereka berhasil. Tiba-tiba, ponsel Gilang berdering.
"Iya, halo. Ini denganku, Gilang Wijaya." ucap Gilang mengangkat sambungan telepon untuknya.
"Apa? Kau menemukan jejak orang yang pernah aku tiduri? Dimana?" tanya Gilang yang langsung bangkit karena terkejut. Sementara Friska, menatap Gilang dengan serius.
'Tidak boleh, perempuan itu tidak boleh di temukan sampai aku telah menikahi Gilang.' guman Friska sambil mengepal keras kedua tangannya. Friska tidak mau rencananya sia-sia. Sudah banyak uang yang dia keluarkan sejauh ini.
"Baiklah, aku segera ke sana." kata Gilang menutup sambungan teleponnya. Gilang bergegas keluar dari ruangannya, tetapi tangan Friska menghentikan langkahnya.
"Lepaskan Friska, aku ada urusan." kata Gilang tidak mau di sentuh Friska.
__ADS_1
"Kita harus bicarakan tanggal pernikahan kita. Ini jauh lebih penting sebelum aku hamil." ujar Friska memohon-mohon.
'Padahal kau sudah hamil anak Azal. Dasar wanita murahan!' guman Gilang dengan emosi, tetapi dia tidak mau memperlihatkan amarahnya kepada Friska. Cara balas dendam Gilang akan sangat sadis dan menyakitkan.
"Baiklah, aku tahu diriku salah. Aku jamin kau dapatkan apa yang kau mau. Tetapi, biarkan aku pergi dulu untuk mengurus hal mendesak ini. Kau bicara dengan Mizuki saja soal pernikahan kita. Mizuki yang akan mengurus semuanya." jelas Gilang yang menghempas tangan Friska lalu berjalan meninggalkannya.
Friska benar-benar marah, dia seolah tidak di pedulikan oleh Gilang. "Kau boleh bersikap seperti ini padaku, tetapi nanti jika sudah menikah, aku pastikan kau bertekuk lutut di hadapanku." ujar Friska sambil memperbaiki penampilannya, kemudian keluar menuju ruangan Mizuki.
Gilang langsung menuju hotel dimana perempuan yang pernah dia tiduri bekerja di sana waktu lalu. Ketika sampai, orang suruhan Gilang langsung datang menyambutnya.
"Tuan Gilang, aku sudah menemukan identitas gadis itu." ucap sang detektif.
"Siapa dia, tinggal dimana sekarang ini?" tanya Gilang to the point.
"Tuan, aku baru menemukan namanya saja dan tempat kosannya sewaktu dia bekerja di sini. Dia adalah Kanaya yang berusia 18 tahun ketika bekerja di sini. Kemungkinan umurnya saat ini 24 tahun. Dan untuk tempat tinggalnya ketika berkerja di sini berada di kosan delta. Tempatnya dekat dari sini." jelas sang detektif, tetapi tidak membuat Gilang puas sama sekali.
"Hanya itu informasi yang bisa kau dapatkan setelah menyelidiki berapa hari?" tanya Gilang dengan tatapan tajam. Sang detektif mundur perlahan, merasa takut.
"Bukan hanya itu, tuan. Aku dengar jika perempuan itu langsung berhenti bekerja ketika insiden dengan tuan terjadi." ucap Sang detektif sambil menunduk.
"Selediki lebih jauh lagi, dimana gadis itu sekarang. Kalau tempat tinggalnya saat dia bekerja, tidak ada apapun di sana. Aku sudah memeriksanya enam tahun lalu." perintah Gilang dengan tegas.
"Baik, tuan." ucap sang detektif yang berlari dengan cepat untuk menjauh dari Gilang sebelum amarah Gilang semakin bertambah melihatnya.
"Ah, aku gagal lagi." kata Gilang yang kesal. Gilang lalu kembali ke dalam mobilnya dan berjalan-jalan di sekitar hotel. Dia tiba-tiba melihat kafe Kanaya yang sudah ada pelanggan walau masih sedikit.
"Kenapa aku jadi ingin ke sana dan mengganggu anak itu. Aku begitu senang melihat wajahnya yang kesal." ucap Gilang dengan tersenyum-senyum sambil menatap Kafe Kanaya.
Gilang lalu turun dari mobilnya, melangkah menuju kafe Kanaya. Langsung menghampiri Kanaya yang sibuk melayani pelanggannya.
"Hei, bagaimana kabarmu?" sapa Gilang.
__ADS_1
"Mau apa lagi kami datang ke sini?" tanya Kanaya dengan ekspresi dingin.
"Tentu saja mau membantumu. Kau bilang butuh aku untuk mempromosikan kafe mu ini kan?"
"Terima kasih, tetapi aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Anakku jauh lebih pintar mempromosikannya. Lihat saja, kafeku sudah banyak pelanggan." ucap Kanaya dengan angkuh.
"Apa? Kau bilang ini sudah banyak? Lihat, pelangganmu masih bisa di hitung jari. Coba kalau aku yang promosikan, sudah tentu semua kursi di sini tidak akan kosong." ucap Gilang penuh percaya diri.
"Wah, hebat sekali. Kalau begitu, buktikan padaku." tantang Kanaya.
"Baik, lihat saja besok. Banyak orang yang akan mengantri di depan kafemu."
"Benarkah?" tanya Kanaya seolah tidak percaya.
"Tunggu besok saja." kata Gilang yang bergegas kembali ke dalam mobilnya. Dia gagal membuat Kanaya kesal dan malah dirinya yang merasa panas ditantang Kanaya.
"Aneh sekali aku, untuk apa aku membantunya." ucap Gilang sambil memukul kepalanya perlahan.
*********
Di sekolah, Alex terus memperhatikan Rendy. Memeriksa setiap gerakan Rendy, mencari memar akibat di ikat oleh papa-nya. Rendy yang menyadari tatapan aneh Alex pun curiga. "Kau kenapa terus memperhatikanku, Alex?" tanya Rendy sambil menoleh ke arah Alex.
"Tidak juga. Aku hanya takut kau sakit." jawab Alex yang menoleh ke depan seketika. Dirinya ketahuan.
"Oh," jawab Rendy dengan singkat.
"Alex, kau tahu siapa orang yang menyimpang alat pelacak di tasku?" tanya Rendy yang membuat Alex terkejut.
"Apa? Alat pelacak?"
"Iya. Aku menemukan alat pelacak di tasku, aku yakin sekali seseorang di kelas ini pasti menyimpang alat itu diam-diam." jelas Rendy memperhatikan semua temannya yang berada di dalam kelas.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Alex yang menjadi gugup.
"Tentu saja aku tahu, tas sekolahku tidak pernah aku gunakan kalau bukan ke sekolah. Ketika pulang sekolah pun, aku langsung menyimpangnya di atas meja belajarku. Jadi mustahil ada orang masuk dan menaruhnya. Pasti ketika aku di sekolah." jelas Rendy dengan sangat yakin.