Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 33. Membuat Rencana


__ADS_3

Orang-orang Gilang telah sampai di kampung Kanaya. Tetapi ketika mereka ingin memasuki kampung itu, beberapa preman menghadang mereka semua. "Apa ini? Kalian siapa, berani sekali datang ke sini. Tidak takut mati!" ancam anak buah Ramadhan.


"Maaf, kami tidak ada urusan dengan anda dan biarkan kamu masuk." jawab salah satu perwakilan anak buah Gilang.


"Memangnya, kau siapa? Berani memberi perintah padaku?" tunjuk anak buah Ramadhan.


"Cari masalah dengan kami? Baiklah, kami terima tawaran kalian. Teman-teman, habisi penghalang ini segera mungkin!"


"Hajar! Hajar!"


Mereka semua saling melawan untuk melumpuhkan musuh mereka dengan tegas. Tetapi, perkelahian itu harus terjeda ketika Rendy datang sambil membunyikan pluit dengan keras.


Anak buah Ramadhan yang tahu siapa Rendy, mundur perlahan lalu pergi dari sana dengan cepat. Sementara anak buah Gilang menatap Rendy dengan bingung.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Rendy yang mendekati anak buah Gilang tanpa rasa rakut sama sekali.


"Siapa adek ini?" tanya mereka yang saling berpandang.


"Biar aku pastikan, wajahnya terasa tidak asing." ucap salah seorang anak buah Gilang sambil menarik ponsel dari saku celananya.


Dia langsung terkejut sambil berteriak histeris. "Oh, dia anak yang kita cari. Lihat ini, wajahnya mirip kan?" tanyanya sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada teman-temannya.


"Baiklah, bawa dia ke mobil dan kita cari target selanjutnya!" perintah pemimpi mereka.


"Baik."


Rendy lalu di angkat dengan santai ke dalam mobil. Rendy bahkan tidak memberontak sama sekali. Hanya satu anak buah yang menjaga Rendy di dalam mobil, sementara yang lainnya berpencar mencari Kanaya. Rendy pun mengambil kesempatan ini untuk tahu tujuan mereka mencari keluarganya. Terlebih, orang yang menjaganya terlihat oong.


"Permisi, apa boleh aku bertanya?" tanya Rendy dengan mengeluarkan jurus jitunya, bersuara manis nan lembut sambil memasang wajah menggemaskan.

__ADS_1


"Tentu saja. Katakan apa yang ingin kau tanyakan." ucap penjaga Rendy yang masuk dalam jebakan anak kecil itu.


"Paman ini menculikku kan?" tanya Rendy dengan santai.


"Iya, itu benar. Kami di suruh atasan untuk membawamu pergi dari sini." jawab penjaga itu dengan santai tanpa tahu siapa anak yang dia temani saat ini.


"Benarkah? untuk apa, paman ganteng?" goda Rendy dengan wajah imutnya.


"Ah, kau lucu sekali. Aku akan mengambil foto denganmu terlebih dulu baru menjawabnya. Oke?"


Rendy hanya mengajukan jari jempol menuruti perkataan anak buah Gilang sambil berakting dengan baik agar rencananya berjalan lancar.


Cekrek.. Cekrek.. Cekrek..


Setelah mengambil foto berapa kali, anak buah Gilang lalu menjawab pertanyaan Rendy. "Aku juga tidak tahu kenapa kau ingin di bawa pergi dari sini. Mungkin kau dan keluargamu ada masalah dengannya?" tebaknya.


'Jadi seperti itu. Dia bukan orang papa yang datang mencariku. Apa orang kek Dirgantara atau orang tunangan papa? Aku jadi bingung.' umpat Rendy berpikir sejenak.


"Baiklah, kita turun. Tetapi kau harus ingat, jangan kabur. Aku bisa repot nanti." tunjuknya.


"Siap, paman. Aku ini anak baik kok." ujar Rendy yang berjalan turun di temani penjaga itu.


Tiba-tiba Rendy kabur dan berlari dengan cepat membuat penjaga itu kesal dan harus mengejarnya. Rendy tahu dirinya pasti akan tertangkap jika terus berlari, karena lari orang dewasa jauh lebih cepat dari lari anak kecil. Rendy pun memilih sembunyi di balik semak sambil memantau.


"Hei, anal kecil! dimana kau! Aku tahu kau bersembunyi di sekitar sini." teriak penjaga yang mencari Rendy. Dia sampai menggarut kepalanya, pusing mengurus Rendy yang hanya beberapa menit saja.


"Bagaimana bisa aku di bohongi anak kecil? Kurang ajar sekali dia." umpatnya.


Penjaga itu lalu memilih berjalan ke kiri dimana Rendy bersembunyi di sekitar sana. Rendy pun mencari akal agar bisa pergi dari sana sebelum ketahuan. "Lempar batu." ucap Rendy perlahan setelah menemukan ide cemerlang.

__ADS_1


Rendy lalu mengambil beberapa batu kecil di dekatnya lalu melempar ke arah berlawanan. Penjaga itu mendengar suara berisik di belakangnya, dia pun melihat semak itu bergoyang karena terkena lemparan batu. Penjaga itu berjalan perlahan menghampiri semak itu mengira jika Rendy bersembunyi di sana.


"Ketemu kau anak kecil," ucap penjaga itu sambil tersenyum-senyum.


Di saat itu, Rendy berlari keluar dari tempat persembunyiannya, memotong jalan menuji rumahnya. Dia lalu masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru dan wajah penuh keringat.


"Hei, Rendy! Kau habis apa? Lagi main petak umpet?" tanya Kanaya yang sedang menyapu di ruang tamu. Dia pun kaget ketika melihat anaknya langsung masuk dan menutup pintu dengan rapat.


"Ma, semua warga pada kemana. Kok sepi sekali di luar?" tanya Rendy yang berjalan menghampiri Kanaya.


"Mereka pergi memanen padi. Nenek juga pergi membantu. Kenapa kau bertanya? Mau ikut memanen padi juga?" tanya Kanaya yang menatap tajam anaknya.


Tiba-tiba Kanaya tertawa terbahak-bahak sendirian membuat Rendy bingung. "Kenapa mama tertawa? Ada yang lucu?" tanya Rendy dengan alis mengerit.


"Tidak ada. Aku hanya mengingat hal lucu barusan." ucap Kanaya yang menyembunyikannya. Dia lalu kembali fokus membersihkan ruang tamunya.


Rendy berjalan ke dalam kamarnya, membuat rencana agar bisa menghalang anak buah Gilang masuk ke rumahnya. "Apa aku buat sengatan di pekarangan rumah saja? Mereka pasti tidak akan bisa masuk. Tidak ada orang juga yang bakal membantu." ucap Rendy yang menarik mainan kabelnya yang sudah lama tidak di gunakan.


"Ini masih kurang, mungkin di kamar nenek banyak kabel yang tidak di pakai." ujar Rendy yang berlari masuk ke dalam kamar neneknya.


Setelah menemukan banyak kabel, Rendy menyambungkan semua kabel itu sambil duduk bersila di dalam kamarnya. Kanaya yang selesai menyapu, berniat beristirahat sambil menonton tivi karena semua pekerjaannya telah selesai. Tetapi, ketika menoleh ke dalam kamarnya, dia terkejut melihat kamarnya yang berantakan sekali dan pembuat masalah itu duduk dengan santai sambil bermain-main dengan kabel.


Amarah Kanaya pun memuncak, kedua tangannya terkepal dengan keras. "Rendy!!!!" teriak Kanaya dengan suara menggema di rumahnya.


"Iya, Ma?" jawab Rendy dengan santai tanpa mendongak menatap wajah Kanaya yang sudah memerah.


Kanaya menarik kerah baju anaknya membuat tubuh Rendy terangkat. "Kau tahu berapa jam aku membersihkan rumah ini? Apa menurutmu begitu mudah membersihkan rumah? Aku juga capek dan pegal tau!" ujar Kanaya dengan suara di tekan.


"Di mengerti, Ma. Nanti Rendy bereskan ketika pekerjaan Rendy sudah selesai. Mama tenang saja." jawab Rendy dengan tatapan memohon. Lagi-lagi Kanaya melek dan tidak bisa berbuat apa pada anaknya. Dia pun menurunkan Rendy, membiarkan anaknya mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


"Beginilah nasib ibu. Memarahi anak merasa bersalah, lebih-lebih kalau di pukul. Tetapi dia juga membuat aku kesal. Jadi yang salah sebenarnya siapa?" ucap Kanaya dengan suara melemah sambil membaringkan diri di tempat tidurnya.


__ADS_2