Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 63. Akalan Rendy Agar Tidak Di Marahi


__ADS_3

Menjelang sore, Gilang masih berada di kantornya. Dia dibuat terkejut dengan deringan ponselnya yang mendadak berbunyi. "Iya, halo, Kanaya?" tanya Gilang sambil mengangkat ponselnya.


"Rendy ada di situ?" tanya Kanaya dari seberang telepon dengan suara panik.


"Loh, bukannya Rendy sudah pulang dari tadi?" balas Gilang yang terlihat bingung. Kedua alis Gilang pun sampai mengerit.


"Apa? Rendy belum sampai ke rumah. Aku juga dari tadi menunggunya di kafe tetapi Rendy tidak terlihat. Makanya, aku pulang dan mencarinya ke rumah. Rendy belum sampai. Bagaimana ini?" tanya Kanaya yang semakin panik dari seberang sana.


Gilang langsung bangkit sambil memijat pelipisnya. "Baiklah, aku cari Rendy sekarang. Kau sebaiknya tunggu di kafe karena Rendy bilang mau ke sana tadi." perintah Gilang.


"Iya, aku kembali ke kafe sekarang." jawab Kanaya yang menutup panggilan teleponnya dengan cepat.


Gilang buru-buru keluar dari ruangannya dan menuju tempat parkir dimana mobilnya berada. Rencananya, Gilang ingin lembur kerja malam ini agar masalahnya dengan Clady Group bisa cepat selesai. Tetapi karena Rendy belum pulang ke rumah membuat Gilang harus mencari keberadaan anaknya terlebih dulu.


"Lan, kau mau ke mana?" teriak Reyhan yang baru datang sambil memarkir mobilnya bersama beberapa staf yang ditugaskan Gilang tadi.


Gilang tidak menjawab, malah menancap gas semakin keras hingga mobilnya melaju begitu cepat dan pergi dari sana.


Gilang memutar mobilnya di jalan yang menurutnya Rendy bakal singgahi. Tetapi dirinya sama sekali tidak melihat anak kesayangannya itu. Mau tak mau, Gilang terus mencari tanpa henti.


Sementara itu di tempat lain, Rendy tidak sadar jika ini sudah sore hari. Dia terus berjalan sampai lupa waktu. Rendy pun beristirahat sejenak di sebuah warung untuk makan sebentar.


Tiba-tiba ketika sedang menikmati makanannya, Rendy melihat tiga orang preman yang meminta-minta uang kepada setiap pelanggan di warung ini. Dan ketika preman itu menyulurkan tangan meminta kepada Rendy, Rendy malah memberinya tos.


"Hei, anak kecil. Apa kau tidak punya uang? Aku minta uang bukan menjabat tanganku." keluh salah satu preman yang berdiri di samping Rendy.


"Hei, untuk apa kau minta uang kepada anak kecil, dia tidak punya uang. Minta kepada orang lain saja." bisik temannya memberi arahan.


Rendy terus makan tanpa merasa terganggu sama sekali. Setelah makanannya selesai, Rendy bangkit dan membayarnya ke penjual warung membuat mata semua preman melotot. Mulut mereka semua terbuka tanpa sengaja, terkejut melihat Rendy membawa uang banyak.


"Katamu dia tidak punya uang?" balasnya kepada temannya sendiri.


"Mungkin dia anak orang kaya. Kalau begitu, ayo kita ambil semua uangnya. Lumayan." ujar preman satunya yang tidak sabar merebut uang Rendy.


Rendy yang mendengar pembicaraannya, memasukkan kembali uangnya sambil tersenyum sinis. Dia lalu berlari dengan cepat agar tiga orang preman itu mengejar dirinya. Benar saja, mereka bertiga mengejar Rendy.


"Hei, berhenti. Bagi uangmu dulu!" teriak para preman yang terus mengejar Rendy.

__ADS_1


Rendy bersembunyi di balik kerumunan lalu menyalakan ponselnya dan menghubungi Kanaya. Dia mengirim pesan dengan cepat agar Kanaya datang membantunya.


[Ma, ini Rendy. Rendy lagi di kejar tiga orang preman di jalan raya. Mama segera datang ke sini, di dekat jembatan!]


Setelah memastikan Kanaya membacanya, Rendy lalu keluar dari persembunyiannya dan memperlihatkan dirinya. Kemudian berlari kembali menuju jembatan yang dia maksud.


"Hei, anak kecil. Jangan lari!!"


"Kau tidak capek? Kakimu bakal sakit nanti." teriak para preman sambil membujuk Rendy.


'Tinggal sepuluh menit lagi mama sampai. Bagus, aku harus cepat sampai di dekat jembatan.' guman Rendy yang mempercepat langkahnya membuat tiga preman ketinggalan jauh.


"Dia cepat sekali, seperti bukan manusia." protes salah satu preman.


"Jangan-jangan dia tuyul lagi menyamar sore hari." timpah yang lainnya lagi sambil menduga-duga.


"Jangan ngacok kamu, masa ada tuyul kayak dia. Semua wajah tuyul jelek dan botak. Anak tadi malah tampan kayak wajah aku." ucap satunya lagi.


"Tampan dari mananya? Mata kamu sepertinya rusak." ujar temannya yang tertawa mendengarnya.


Mereka berjalan dan tidak kuat lagi berlari sambil melihat Rendy yang berhenti di depan mereka yang berjarak delapan meter lagi.


Setelah mereka sampai, mereka bertiga lalu melingkar mengepung Rendy sambil tertawa kesenangan. Mereka pikir berhasil menangkap anak kecil di hadapannya.


"Nah, sekarang berikan uangmu sebelum kami memakanmu lahap-lahap di sini." perintah salah satu preman.


"No. Paman bukan manusia sampai harus memakan daging manusia juga?" tanya Rendy yang menatap wajah mereka satu per satu.


"Bukan manusia. Kenapa, tidak terima?"


"Kalau bukan manusia, lalu apa?" tanya Rendy balik mengundur waktu.


"Vampire."


"Vampire kan menghisap darah, bukan makan daging manusia." jawab Rendy.


"Ini anak banyak banget pertanyaannya. Benar mau kasih kita uangnya atau tidak, ha? Kalau tidak, kami bakal pergi." teriak mereka membentak.

__ADS_1


Wajah semua preman bingung melihat ekspresi Rendy yang masih bisa santai. Biasanya, anak kecil kalau di bentak orang dewasa langsung nangis. Tetapi Rendy sangat berbeda.


"Ini bocil apa bukan?" tanyanya dengan wajah bingung.


Brumm.. Brumm.. Brumm..


Akhirnya Kanaya juga sampai sambil mengendarai motor dengan kecepatan tinggi membuat Riani terus menempel dengan erat di tubuhnya seperti lem.


Kanaya menrem dadakan dan hampir membuat motornya terbalik sempurna. Riani pun turun dengan mata berputar dan kepala pusing. Dia malah jatuh dan pingsan di tengah jalan.


"Waduh, hebat banget nyetirnya. Temannya sampai pingsan." sahut salah satu preman yang melihatnya.


Kanaya lalu turun dengan sigap sambil meregakan otot-otot tangannya seolah ingin memberi pelajaran kepada preman yang mengganggu anaknya.


"Ada lawan kah?" sahut Kanaya sambil menantang tiga preman sekaligus.


Para preman pun bertanya-tanya jika Kanaya orang yang kuat pastinya karena berani ingin melawan mereka secara bersamaan. Takut terluka sangat parah, tiga preman itu lalu memutuskan untuk kabur sambil berlari terbelit-belit. Rendy dan Kanaya tertawa terbahak-bahak melihatnya.


"Bagus, akting mama luar biasa sampai membuat mereka percaya dan ketakutan." puji Rendy yang mengajukan jari jempolnya ke arah Kanaya.


"Benar, dong. Mama siapa dulu?" jawab Kanaya sambil membanggakan diri.


"Kalau begitu, kita pulang. Mama tidak akan memarahi Rendy kan karena Rendy pulang terlambat?" tanya Rendy.


"Kau pulang terlambat karena di kejar mereka?" tebak Kanaya, padahal itu hanya akal-akalan Rendy agar Kanaya tidak mengeluarkan suara kerasnya atau memarahi Rendy.


"Benar, Ma. Rendy tadi sampai takut bakal tidak terselamatkan." tambah Rendy yang terlihat serius berbicara.


"Iya, nanti kita bahas di rumah saja. Tolong bantu mama bangunkan Riani. Dia sampai pingsan melihat preman tadi." ujar Kanaya yang tidak tahu saja apa yang membuat temannya pingsan.


Rendy lalu mengambil sisa air minumnya dan menyiram di wajah Riani membuat Riani terbangun sambil terkaget-kaget. "Aku dimana? Apa masih hidup? Jangan-jangan sudah tidak selamat?" ucap Riani yang memeriksa kondisi tubuhnya sendiri.


"Hei, cepat bangun. Masih banyak pelanggan yang menunggu di kafe." teriak Kanaya yang kembali menyalakan mesin motornya.


"Masih aman." jawab Riani yang bernafas lega.


"Tante mau pulang atau tidak?" tanya Rendy yang sudah naik di belakang Kanaya sambil menoleh ke belakang menatap wajah pucat Riani.

__ADS_1


"Ngak deh, aku masih sayang diriku. Kalian pulang duluan, aku naik taksi saja pulang." ucap Riani yang menolak di bonceng Kanaya lagi.


Rendy dan Kanaya saling menatap dan menaikkan bahu mereka. Mereka berdua pun pergi tanpa Riani.


__ADS_2