Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 31. Masalah Teh Asing


__ADS_3

Sesampai Rendy di depan rumah neneknya, dia langsung bergegas turun dari mobil dan berlari mencari neneknya.


"Nenek! Nenek!" teriak Rendy memasuki rumah dengan terburu-buru. Jujur, dia sebenarnya juga khawatir dan panik mendengar neneknya ada masalah. Tetapi Rendy lihai menyembunyikan perasaannya di hadapan Kanaya.


"Loh, ada Rendy. Kenapa balik ke sini, nak?" tanya Ibu Kanaya sambil berjalan menghampiri Rendy dengan menggunakan tongkat dari kayu.


"Nenek habis jatuh?" tanya Rendy sambil memperhatikan kaki neneknya.


"Iya." jawab ibu Kanaya sambil tersenyum di hadapan cucunya.


Kanaya pun masuk bersamaan dengan Ramadhan. Kanaya dengan cepat memeluk ibunua dengan erat. "Ibu ada masalah?" tanya Kanaya dengan wajah khawatir dan cemas.


"Masalah? Tidak ada." jawab ibu Kanaya yang bingung sendiri.


"Dia sudah ada masalah jika kakinya sakit karena jatuh." sahut Ramadhan memberi alasan. Ramadhan awalnya tahu kejadian ini dari keluarganya. Dia pun menggunakan alasan ini agar Kanaya dan Rendy segera pergi dari gedung tadi.


"Jujur saja, paman ingin menakuti kami kan?" tunjuk Rendy yang selalu menyudutkan Ramadhan.


"Rendy, jaga ucapanmu." Bela Kanaya.


"Naya, tutup mulutmu. Kenapa kau berbicara berteriak kepada anakmu sendiri, dia ini masih kecil masih butuh kasih sayang darimu." tegur Ibu Kanaya yang dengan cepat menepuk kepala Kanaya agar tidak memarahi Rendy.


"Ibu!" teriak Kanaya yang menjadi kesal.


"Sini cucu kesayangan nenek, temani nenek saja memasak daripada kau bersama mama-mu dan malah berantem terus." tarik Ibu Kanaya sambil membawa Rendy masuk ke dapur.


"Ihh, ibu. Dasar pilih kasih, aku itu anak ibu, sementara dia hanya cucu. Ibu harus ingat itu!" teriak Kanaya memberi protes.


"Ibumu sangat bail dengan Rendy. Pantas Rendy begitu sangat menyayanginya." sahut Ramadhan berpura-pura memuji. Padahal, dia terus mengumpat di dalam hatinya.


'Pantas Rendy berkuasa di sinia, rupanya dia berhasil membuat ibu Kanaya membela dirinya.' umpat Ramadhan di dalam hati.


"Iya, begitulah senior. Senior silakan duduk dulu, biar aku buatkan teh hangat. Pasti capek kan?" tanya Kanaya dengan menampilkan senyum manisnya yang membuat Ramadhan menari-nari.

__ADS_1


"Terima kasih, Kanaya." ucap Ramadhan yang duduk di kursi ruang tamu.


Ketika Kanaya masuk ke dapur, Rendy mengambil alih mengurus Ramadhan. "Ini saatnya dia tahu siapa lawannya yang sebenarnya." kata Rendy dengan suara perlahan.


Rendy berjalan menghampiri Ramadhan sambil membawakan teh hangat buatannya sendiri yang di ganti dari gula dengan garam.


"Paman, ini teh hangat buatan aku. Silakan di minum, di jamin rasanya paman tidak akan menyesal mencobanya." kata Rendy dengan ramah.


"Kau mau mengerjai diriku lagi anak kecil? Tidak akan, kau tidak akan berhasil." ucap Ramadhan yang tahu tingkah laku Rendy. Dirinya bisa menebak jika Rendy ingin membuatnya tidak betah berada di rumahnya.


"Wah, tebakan paman memang benar. Paman berhasil mendapat nilai plus dariku." kata Rendy sambil mengajukan jari jempolnya lalu memutarnya balik.


"Cemen, paman. Paman tidak bisa menghindari pekerjaanku. Paman tidak punya pilihan selain meminum teh buatan Rendy." kata Rendy dengan menekan perkataannya.


"Kalau aku tidak mau, kau mau memaksa? Tidak akan." kata Ramadhan sambil menjulurkan lidahnya keluar. Dia tidak mau bersikap baik lagi di hadapan Rendy.


"Baiklah, aku berhitung sampai tiga. Jika paman tidak meminumnya, aku bakal memaksa." ucap Rendy mengancam.


Ramadhan terlihat bingung sekaligus takut, entah apa yang dilakukan Rendy padanya kali ini. Tetapi, dia juga tidak mau meminum teh buatan Rendy, Ramadhan sudah bisa menebak ada bahan yang tidak membuat teh-nya enak di dalam.


"Mama.. Cepat ke sini.. Senior mama mau meminum tehku!" teriak Rendy memanggil Kanaya sambil mencari alasan.


"Apa?" Ramadhan dibuat terkejut. Saat dirinya ingin memberi Rendy pelajaran, Kanaya lebih dulu sampai di hadapan mereka berdua.


"Senior mau meminum teh buatan Rendy?" ucap Kanaya dengan mata berbinar-binar.


"Itu.." Ramadhan berusaha mencari alasan.


"Ma, aku pernah buatkan mama teh. Bagaimana rasanya?" tanya Rendy sambil menoleh ke arah mama-nya.


"Enak sekali." jawab Kanaya sambil mengangguk perlahan.


"Nah, paman ini tidak mau meminum tehku mengira jika te buatan Rendy tidak enak. Padahalkan, Rendy selalu membuatkan mama teh dan rasanya enak." ucap Rendy dengan wajah sedihnya alias berpura-pura sedih agar hati Kanaya tergerak membelanya.

__ADS_1


'Anak ini, pintar sekali mencari alasan.' guman Ramadhan sambil menatap Rendy dengan tajam.


"Senior tidak mau meminum teh-nya karena takut Rendy memberi bahan aneh? Kalau begitu, biar aku coba terlebih dulu untuk membuktikan pada senior." kata Kanaya yang menarik cangkir dari hadapan Ramadhan.


"Baiklah, tolong buktikan." ucap Ramadhan dengan senang hati. Dia yakin, rencana Rendy bakal gagal kali ini. Rendy pun hanya melihat Kanaya meminumnya tanpa mencegahnya. Dia yakin hal seperti ini pasti akan terjadi karena lawannya pasti lebih cerdik dari Rendy.


"Bagaimana, Kanaya?" tanya Ramadhan menunggu komentar jahat dari Kanaya.


"Enak sekali, seperti biasa." ucap Kanaya memberi pujian.


Ramadhan semakin heran, dia tidak mengerti apa yang dipikirkan Rendy. 'Paman pasti mulai bingung. Ya sudah, sekarang rencana selanjutnya.' guman Rendy yang berlari masuk ke dalam dapur lalu membawa dua cangkir teh yang sudah dibuatnya tadi untuk berjaga-jaga. Salah satu cangkir itulah yang di simpan garam bukan gula.


"Nah, ini untuk paman dan ini untukku." ucap Rendy menyodorkan teh pada Ramadhan.


"Tidak, kita tukar saja. Tehku untuk Rendy dan teh Rendy untukku. Bagaimana?" ajak Ramadhan. Kedua alis Rendy berkerut, sementara Kanaya hanya bingung melihat tingkah dua orang dihadapannya.


"Paman yakin?" ucap Rendy yang dijawab anggukan oleh Ramadhan. Rendy pun menukarnya hingga membuat Ramadhan semakin bingung.


'Bagaimana bisa dia semudah itu mau menukarnya?' guman Ramadhan.


Ketika mereka berdua ingin meminumnya, Ramadhan dengan cepat mengambil kembali teh yang diberikan Rendy tadi karena merasa ragu. Dia pun mengembalikan teh Rendy yang hampir dia minum.


"Silakan di nikmati." ucap Ramadhan meneguk tehnya dan malah dia yang mendapat teh rasa garam.


"Enak kan paman. Aku menyimpang dua sendok gula pada teh paman." kata Rendy dengan senyum mengejek. Ramadhan hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata.


"Bukannya terlalu berlebihan jika dua sendok?" tanya Kanaya.


"Tidak, satu sendok untukku dan satu sendok untuk teh paman. Jadi dua," ucap Rendy memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V.


'Bohong, jelas dia memberi dua sendok garam pada tehku. Rasanya sangat asing sekali, seharusnya tadi aku langsung meminum teh Rendy. Malah aku mengembalikannya dan mendapat teh asing ini. Sungguh keterlaluan anak ini.' umpat Ramadhan.


"Jujur, kalau minum teh itu tidak baik mengumpat jelek. Harus memuji karena paman sudah mendapatkan teh di sini. Itukan mau paman sampai singgah di rumahku?" kata Rendy yang berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2