
Rendy berlari masuk dimana Oma-nya di sekap. Dia yang pernah kabur ketika bersama Kanaya, kini berubah menjadi pemberani melihat Oma-nya di tarik paksa dan diikat di kursi kayu.
Rendy awalnya tidak mengira jika Oma-nya yang di bawah di dalam mobil dengan mulut di perban. Rendy pun berlari mengejar mobil itu sampai membuang ponselnya karena buru-buru. Rendy terpaksa meminjam sepeda anak yang berada di seberang jalan untuk mengejar mobil yang membawa Oma-nya.
"Kalian cukup berani menyakiti Omaku!" teriak Rendy sambil berjalan masuk ke sebuah gudang dimana anak geng motor yang pernah menyerangnya berada di sana menjaga Omanya.
"Wah, anak itu akhirnya datang. Kita dapat bonus double dari bos ini." tunjuk salah satu anak geng motor yang merasa senang ketika melihat Rendy seorang diri.
Nenek Rani terus memberontak melihat Rendy ada di hadapannya. Dia seolah memberi kode agar Rendy pergi dari sana. Takut jika cicit kesayangnya sampai di lukai.
"Oma, tenang saja. Rendy bakal membantu Oma keluar dari sini." ucap Rendy dengan penuh percaya diri.
"Iya, sikapnya yang kemarin masih melekat. Mungkin nanti dia bakal lari lagi seperti kemarin-kemarin. Cepat tutup pintunya sebelum dia kabur!" perintah pemimpin anak geng motor itu.
"Paman penculik tidak perlu khawatir. Aku tidak akan kabur seperti kemarin. Hari ini, Rendy sang pahlawan telah kembali dan bersiap menyelamatkan Oma." jelas Rendy yang membuat semua orang tertawa mendengarnya.
"Hufft, anak kecil itu ingin menakuti kita lagi. Apa benar dia adalah pahlawan?" ejek mereka.
"Iya, dia pahlawan. Pahlawan kesiangan. Ha ha ha." jawab satunya sambil tertawa.
Mereka semua kompak tertawa puas semakin mengejek Rendy. Rendy memasang wajah serius sambil berjalan perlahan mendekati Oma-nya.
"Hei! Cepat tangkap anak kecil itu. Jangan lupa ikat juga tubuhnya dan kita akan mendapat bonus dari bos." perintah pemimpinnya.
Salah satu anggota lalu mendekati Rendy ingin menangkap Rendy. Tubuh Rendy yang begitu kecil, mudah untuk menghindar. Rendy berlari menaiki tangga yang berada di gudang itu, anak geng motor ikut-ikutan. Mereka tidak sadar jika Rendy punya rencana.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Paman." ucap Rendy sambil melambaikan tangannya sebelum menendang tangga yang terbuat dari kayu itu hingga jatuh ke lantai.
Melihat salah satu anggotanya tidak berhasil, pemimpin memerintahkan kepada semua orang untuk menangkap Rendy segera mungkin. "Cepat tangkap anak itu. Masa anak kecil saja kalian tidak bisa menangkapnya?" ujar pemimpin mereka yang merasa kesal.
Rendy berjalan dengan sangat hati-hati melihat balok yang dia tempati cukup kecil. Ketika para anak buah penculik naik, balok kayu itu terlihat ingin patah, tidak kuat menahan beban berlebihan. Rendy berlari dengan cepat sambil menjaga keseimbangan tubuhnya dan berhasil sampai di tepi. Pemimpin geng motor itu ikut naik melihat anak buahnya berjatuhan.
"Masa kalian kalah dari anak kecil? Cepat kejar dia, kalau perlu lari ke ujung juga!" teriak pemimpin mereka yang masih berada di tangga.
Mendengar perintah pemimpinnya, anak geng motor yang tinggal lima orang di atas, berlari mengejar Rendy di ujung. Membuat balok kayu patah dan tangga yang di naiki pemimpinnya ikut terjatuh.
"Ha ha ha, kasihan sekali." ucap Rendy yang turun dengan perlahan, mengambil kesempatan membuka tali yang melilit di tubuh nenek Rani.
"Oma, baik-baik saja kan?" tanya Rendy yang di sambut dengan anggukan oleh nenek Rani.
"Kena kau anak kecil!" ujarnya yang merasa senang menangkap Rendy.
"Lepaskan aku!" ucap Rendy memberontak.
Pemimpin mereka lalu bangkit dengan tersenyum puas. "Bagus, dia berhasil kita tangkap. Cepat ikat di kursi itu juga dan kita kirim fotonya kepada bos." jelas pemimpin geng motor memberi arahan.
"Bos bakal senang dan memberi kita bonus." timpah yang lain, ikut merasa senang.
Rendy lalu duduk di kursi sambil kedua tangan dan kaki di ikat dengan tali. Setelah memotret Rendy, penculik itu pun keluar meninggalkan Rendy dan nenek Rani yang sudah mereka tangkap.
"Oma, baik-baik saja?" tanya Rendy yang menoleh ke arah nenek Rani yang masih di perban mulutnya.
__ADS_1
"Hemm.." ucap nenek Rani sambil mengangguk.
"Tenang, Oma. Kita bisa keluar kok dari sini secepatnya. Tunggu sebentar yah," ucap Rendy yang berusaha melepas ikatan tali di kedua tangannya, tetapi tidak berhasil. Rendy pun memutar tangannya agar bisa menekan tombol di jam tangannya dan tidak lama muncul alat seperti pisau yang tajam.
Dengan cepat pisah itu memotong tali yang melilit di tangan Rendy hingga Rendy bisa lepas. Rendy buru-buru melepas tali di kedua kakinya dan membantu Omanya kembali.
Setelah semuanya selesai, Rendy mencari cara agar dia dan nenek Rani bisa keluar tanpa ketahuan.
"Kalau kita lewat depan, kita bisa tertangkap kembali. Kita harus cari jalan lain selain pintu depan." ujar Rendy yang mondar mandir.
Tidak ada yang bisa dilakukan, karena gudang ini tidak punya jendela. tempatnya begitu tertutup hingga tidak ada cela yang bisa Rendy gunakan untuk kabur.
"Apa kita tidak bisa keluar?" bisik nenek Rani.
"Tentu saja bisa, Oma. Tetapi Rendy belum menemukannya." jawab Rendy sambil menatap sekeliling.
Mata Rendy lalu melihat ke atas dimana ide cemerlangnya muncul. Rendy pun berbisik kepada nenek Rani agar mengikutinya. Melihat Rendy mengangkat tangga yang digunakannya tadi, nenek Rani sempat ragu. Tetapi dia tidak ingin membuat Rendy kecewa. Dia pun menurut tanpa protes walau merasa takut.
"Hati-hati, Oma. Jangan melihat ke bawah." kata Rendy yang naik ke tangga lebih dulu. Sementara nenek Rani naik setelah Rendy dengan kaki bergetar. Mereka berdua berniat keluar dari atap.
Setelah menaiki tangga, kini Rendy harus memanjat balok kayu agar bisa sampai ke atap gudang. Kebetulan atap gudang ini hanya menggunakan daun anyam saja bukan seng atau lainnya. Rendy bisa dengan mudah membuka atap dengan memotong sedikit daun itu agar bisa mendorongnya keluar. Atap pun terbuka seketika.
Rendy cepat naik sambil menarik tangan Nenek Rani. Setelah mereka sampai di atap, Rendy berusaha mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk mendarat dan mencari tempat yang dekat dengan daratan.
"Oma, Rendy turun lebih dulu. Oma nanti melompat setelah Rendy memberi kode." ucap Rendy yang kemudian melompat dan mendarat dengan sempurna. Rendy laku mencari alat yang bisa digunakan omanya melihat nenek Rani sudah lansia sehingga tulang-tulangnya tidak bisa digunakan untuk melompat.
__ADS_1