
Ketika berhasil menemukan presdir Gilang dari kamera cctv yang Rendy bobol dari gedung ini, Rendy jadi tahu untuk apa papa nya datang ke gedung ini. "Jadi seperti itu, aku tidak akan biarkan itu terjadi. Mama tidak akan punya kesempatan lagi untuk mendapatkan papa." ucap Rendy dengan suara perlahan. Rendy lalu bergegas keluar dari sana, tetapi sebelum itu dia menempatkan alat perekam suara pada salah satu karyawan yang ada di gedung itu.
"Semuanya sudah beres, tinggal pulang menemui mama lalu merencanakannya." kata Rendy yang bergegas pulang.
Di kafe, dua gadis cantik sibuk membersihkan lantai yang menyimpang banyak debu dan kotoran. Terlihat Riani yang sudah lelah, dia sampai tidak bisa memegang sapu. Berbeda dengan Kanaya yang terlihat bersemangat membersihkan debu-debu yang ada di atas meja. Tiba-tiba Rendy datang membuat mereka terkejut.
"Mama, aku pulang!" sapa Rendy sambil menaikkan salah satu tangannya.
Kanaya dan Riani menoleh, mereka berdua terkejut melihat Rendy yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka. "Naya, apa anakmu pulang sendirian?" tanya Riani yang merasa bingung.
"Tentu saja dia pulang sendirian. Kau tidak lihat aku masih ada di sini bekerja sangat keras hingga lupa menjemputnya." jawab Kanaya.
"Ma, apa aku bisa membantu?" tawar Rendy yang semakin membuat Riani terkejut. Sama sekali tidak bisa di mengerti. Anak sekarang, lebih suka bermain daripada membantu kedua orang tuanya, tetapi berbeda dengan Rendy yang menawarkan diri langsung.
"Iya, kau lap cermin saja. Hati-hati, jangan sampai tanganmu terluka." ujar Kanaya memberi pekerjaan kepada Rendy.
"Siap, Bos." ucap Rendy yang melepas tasnya lalu melap cermin sesuai perkataan Kanaya. Riani semakin takjub melihat tingkah Rendy yang tidak biasa.
"Naya, kau beri anakmu makanan apa sampai menurut seperti itu?" tanya Riani.
"Nasi, kadang ikan kadang ayam, sayuran, yang jelas makanan yang sering aku makan." jawab Kanaya dengan enteng.
"Lalu, kenapa Rendy begiru baik denganmu. Kau pasti sangat beruntung, tidak mengalami tekanan tinggi mengurus Rendy." ucap Riani yang merasa iri padahal dia juga belum punya anak.
"Kau sudah seperti punya anak saja sampai tahu kalau anak-anak sering membuat kita tekanan tinggi."
"Iya, aku melihat ibuku seperti itu. Terus marah-marah dan stres ketika berhadapan dengan adik kecilku." jelas Riani yang melepas sapunya.
__ADS_1
"Benarkah? Aku juga sering mengalami hal seperti itu. Tetapi, terkadang diriku merasa menyesal sudah memarahi Rendy." ucap Kanaya dengan tersenyum mengingat tingkah kocaknya ketika Rendy masih kecil.
"Hei, tidak ada waktu untuk bercerita. Cepat kita selesaikan lalu pulang!" kata Kanaya yang baru sadar.
Tepat pukul enam, pekerjaan Kanaya sudah selesai. Dia lalu berjalan pulang bersama Rendy karena Riani pulang lebih dulu membawa motornya. "Terpaksa kita pulang jalan kaki magrib begini." kata Kanaya sambil menghela nafas kasar.
"Salah mama sendiri karena tidak membeli motor. Coba kalau kita punya motor, mama pasti tidak akan capek bolak balik." ucap Rendy yang mendengarkan keluh Kanaya.
"Kau jadi salahkan mamamu? Aku tidak salah, perekonomian kita sedang tidak baik dan aku belum mendapat pekerjaan yang layak." ucap Kanaya mengelus dadanya.
"Mama tenang saja, aku janji akan memenuhi kebutuhan mama." kata Rendy penuh semangat.
"Tidak perlu, kau masih anak-anak. Nanti kamu mengadu kepada nenek dan aku yang mendapat getahnya. Aku juga bisa di cap sebagai ibu yang tidak peduli dengan anaknya, alis ibu durhaka."
"Tidak ada ibu yang durhaka dengan anaknya, hanya anak yang durhaka terhadap ibunya. Seorang anak tidak akan ada tanpa seorang ibu, jadi kehidupan anak bergantung kepada ibunya." ujar Rendy memberi ceramah malam-malam di tengah perjalanan. Kanaya seperti di sambar petir saja, anaknya seolah tahu banyak darinya.
"Kita sudah sampai. Kau masuk dulu dan aku beli gorengan agar kita bisa makan cemilan sebelum tidur nyenyak." ujar Kanaya yang berlari ke seberang jalan menemui penjual gorengan. Sementara Rendy menurut, dia masuk ke kosan dan duduk dengan tenang.
"Oke, tetapi harus mengantri. Kasihan pelanggan yang sudah dari tadi menunggu."
"Baik, Mas." ucap Kanaya yang berdiri paling belakang.
Tinggal tiga baris di depan Kanaya, dia semakin tidak sabar mendapat gorengan sesuai pesanannya. Ketika gilirannya, kantong kresek yang sudah dimasukkan gorengan di dalamnya, di tarik paksa oleh pembeli lain. Dan yang membuat Kanaya naik pitam, pembeli itu adalah presdir yang menghinanya waktu di kafe.
"Kau lagi!" tunjuk Kanaya memasang wajah kesal.
Gilang tidak peduli dengan perkataan Kanaya, dia tetap mengambil gorengan milik Kanaya sambil mengeluarkan uang seratus ribu. "Mas, aku ambil ini saja. Terima kasih banyak, kembalian uangku ambil saja." kata Gilang dengan ramah sambil berjalan menghampiri mobilnya yang tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Sombong sekali, itu barangku dan dia malah mengambilnya dengan seenaknya. Mas, berikan aku gorengan sepuluh ribu." titah Kanaya sambil menyilang kedua tangannya. Terpaksa dia harus menunggu lebih lama lagi.
"Maaf, Mbak. Gorengannya sudah habis, tersisa tadi yang terakhir." jelas pak penjual gorengan.
"Apa?" Kanaya dibuat terkejut. Kalau dia tahu gorengannya sudah habis, dia tidak akan biarkan presdir sombong itu mengambil darinya.
Kanaya menoleh dan masih melihat mobil presdir sombong terparkir di tepi jalan, belum pergi. "Masih ada kesempatan merebutnya kembali." ucap Kanaya yang bersiap menghampiri Gilang.
Dia lalu berjalan dan mengetuk pintu mobil Gilang dengan sangat keras. Gilang sedang menelpon di dalam mobil merasa di ganggu oleh Kanaya.
"Kau sudah tidak waras? kenapa datang mengetuk pintu mobilku, bagaiman jika sampai lecet?" tegur Gilang.
"Alhamdulillah kalau begitu." ucap Kanaya dengan enteng.
"Kau mau masuk penjara?" tanya Gilang yang keluar dari mobilnya.
"Tentu saja, tidak. Aku datang ingin mengambil kembali gorenganku yang kau rebut paksa tadi." ucap Kanaya sambil mengulurkan tangannya meminta.
"Apa? Tidak salah dengar aku?"
"Apa mau aku ambil kotoran telingamu agar kau bisa mendengarnya dengan jelas?" kata Kanaya semakin menantang.
Gilang diam seketika sambil menatap Kanaya lekat-lekat. Sesuatu sepertinya terjadi di dalam hatinya. 'Unik juga orang ini.' umpat Gilang.
"Hei, cepat berikan gorenganku!" teriak Kanaya terus meminta miliknya.
"Maaf, aku tidak bisa. Tunanganku meminta dibelikan dan aku tidak mau menolaknya." kata Gilang bersihkeras mempertahankan, dia sangat yakin Kanaya akan mengalah dengan sendirinya. Gilang tidak tahu, seperti apa Kanaya yang sebenarnya.
__ADS_1
Kanaya beraksi, dia memasuki mobil Gilang dan mengambil secara paksa gorengan yang terletak di dekat kursi setir. Dengan tersenyum puas, Kanaya memperlihatkannya kepada Gilang, kemudian berlari menjauh sebelum gorengannya di rebut kembali oleh Gilang.
"Hei, anak nakal. Kembalikan gorenganku!" teriak Gilang berusaha menghentikan Kanaya, tetapi Kanaya tidak mau berhenti dan tetap berlari ke kosannya.