Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 62. Aksi Rendy


__ADS_3

Setelah mendapat informasi yang di butuhkan dari pembicaraan Gilang dan Reyhan, Rendy lalu pamit undur diri. "Pah, Rendy pulang dulu. Mama pasti sudah menunggu di kafe." ujar Rendy sambil menghampiri Gilang.


"Baiklah, biar papa antar." ucap Gilang yang bangkit dari tempat duduknya.


"Papa tidak perlu melakukannya, aku bisa naik taksi." tolak Rendy yang membuat langkah Gilang berhenti.


Reyhan pun tersenyum melihat sikap anak Gilang yang begitu mandiri. "Sudahlah, Lan. Biarkan saja Rendy pulang naik taksi, dia sudah terbiasa seperti itu. Benar bukan?" ucap Reyhan sambil menatap Rendy dengan lekat-lekat.


"Iya, Uncle Reyhan." jawab Rendy yang mengajukan telapat tangannya dan melakukan tos dengan Reyhan.


"Kalau begitu, Rendy pergi dulu. Papa bekerja dengan giat yah dan Uncle Reyhan tolong bantu pekerjaan papa." kata Rendy sebelum meninggalkan ruangan Gilang.


Reyhan tertawa terbahak-bahak mendengar nasehat anak kecil membuat Gilang menatapnya dengan bingung.


"Kau kenapa, seperti orang gila saja?" ucap Gilang yang kembali duduk di kursi presdirnya.


"Tingkah anakmu benar-benar lucu. Masa dia memberiku perintah untuk membantu pekerjaanmu?" jawab Reyhan seolah bercanda.


"Lalu?" ucap Gilang yang tidak tertarik. Gilang fokus kembali ke komputernya yang berapa kali dia periksa.


"Lan, aku merasa ada yang di sembunyikan dari Rendy. Masa anak itu bisa selamat dari bom waktu itu. Lalu, dia bisa dengan mudah mengetahui lokasi Kanaya dengan cepat. Apa dia bukan anak kecil biasa?" tanya Reyhan yang tiba-tiba penasaran dengan Rendy.


"Kalau tentang lokasi bukannya sekarang teknologi semakin canggih? Kita sudah bisa melacak seseorang asalkan dia menggunakan ponselnya. Seperti ini." ujar Gilang memperlihatkan lokasi Rendy yang masih berada di perusahaannya.


"Kau memata-matai anakmu sendiri?"


"Tidak, aku hanya ingin mengetahui keberadaannya saja. Bisa saja kan, Kanaya membawanya pergi lagi. Aku sekarang mulai waspada." bisik Gilang sambil meletakkan ponselnya kembali di atas meja dan sesekali melirik layar ponselnya dimana Rendy mulai bergerak.


"Dia pasti menuju kafe Kanaya. Arahnya ke sana." ucap Reyhan yang mengintip. Gilang dengan cepat menutup layar ponsel, tidak suka sepupunya melihatnya.

__ADS_1


"Jaga matamu, aku bisa mengcongkelnya." ancam Gilang yang hanya bisa membuat Reyhan kembali duduk dengan tenang sambil memeriksa laporan.


Di dalam taksi, Rendy menarik ponselnya dan mematikan lokasinya. Dia juga mematikan total ponselnya agar tidak mengganggu.


"Pak, tolong belok kanan di depan. Aku mau ke rumah temanku dulu." titah Rendy sambil menepuk kursi pengemudi.


"Baik, Nak." jawab sopir taksi yang tidak keberatan.


Rendy lalu berhenti tidak jauh setelah belokan yang di maksudnya. Dia turun lalu menarik uang dari saku celananya. "Terima kasih banyak, pak." jawab Rendy yang tersenyum senang lalu berjalan masuk ke dalam pagar rumah seseorang berusaha meyakinkan sopir taksi jika dirinya telah sampai di rumahnya.


Sopir taksi lalu pergi setelah memastikannya. Dan Rendy pun keluar kembali sambil berjalan mencari tujuannya yang sebenarnya.


"Mama bilang, senior sangat suka bermain game dan sering menghabiskan waktu seharian di warnet. Aku harus memeriksanya, mungkin ada informasi mengenai senior mama di sana." ujar Rendy yang masuk ke dalam warnet yang tidak jauh dari tempatnya turun dari taksi.


Setelah membayar, Rendy lalu berjalan memeriksa setiap kursi yang di duduki semua orang. Dia ingin mencari keberadaan senior Kanaya di warnet. "Tidak." ucap Rendy yang kembali ke tempat kasier.


"Iya, benar. Dulu dia sangat sering datang ke sini, tetapi sekarang sudah jarang-jarang. Mungkin hanya datang di waktu hari minggu saja."


"Lalu, apa dia menulis nama dan alamatnya di buku itu, seperti yang aku lakukan?" tanya Rendy sekali lagi sambil menunjuk buku tebal yang dia isi terlebih dulu sebelum di perbolehkan memakai komputer yang ada.


"Tentu saja. Ini adalah jaminan jika pelanggan membuat rusak barang kami. Kami langsung tahu dimana tempat tinggalnya dan nomor ponselnya untuk menghubunginya untuk ganti rugi." jelas sang kasier.


Rendy pun tersenyum, mempunyai ide cemerlang. "Boleh berikan alamatnya padaku beserta nomor ponselnya? Dia adalah sahabat papaku dan aku saat ini sedang mencari papaku. Mungkin temannya ini tahu dimana papaku saat ini." mohon Rendy yang memgeluarkan wajah gemasnya untuk menghipnotis sang kasier.


"Baiklah, anak menggemaskan. Ayo kita lakukan dan cari papamu." jawab sang kasier yang benar-benar terbujuk.


Rendy langsung pergi setelah mendapat alamat lengkap Ramadhan beserta nomor ponselnya. "Alamat ini tidak terlihat lokasi tempat tinggal khusus untuk orang kaya. Apa dia memberikan alamat palsu?" tanya Rendy yang memeriksa alamat yang diberikan sang kasier lewat maps jam tangannya.


Di tempat lain, Rama tertawa terbahak-bahak seorang diri di dalam ruang kerjanya. Dia begitu senang hari ini berhasil mengelabui Gilang. "Aku pikir, Gilang begitu cerdas. Tetapi melihatnya tertipu mentah-mentah membuat aku begitu senang sekali. Gilang benar-benar ceroboh dalam bertindak." ucapnya sambil tersenyum memikirkan nasib Gilang.

__ADS_1


Sebuah deringan telepon membuat Rama terkejut. Dia dengan cepat mengambil gang teleponnya dan menjawab panggilan telepon.


"Siapa?" tanya Rama yang mengontrol suaranya.


"Ini aku, kak, Ramadhan." jawab seseorang dari seberang telepon.


"Lalu?" ucap Rama dengan suara dingin sambil mengeritkan kedua alisnya.


"Aku mau minta uang. Kakak harus membayarku karena berhasil mengelabui Gilang. Gilang pasti saat ini di buat pusing dengan tingkah diriku, jadi aku berhak mendapat imbalan." ujar Ramadhan dari seberang telepon dengan suara memohon.


"Ramadhan, apa kau pikir diriku berhasil menjebak Gilang karenamu? Jangan salah, aku sendiri yang melakukannya karena bekerja sama dengannya. Kau tidak akan mendapat sepeser pun uang dariku. Jangan mencoba memerasku adik kecil." ujar Rama yang menutup sambungan teleponnya secara sepihak membuat adiknya yang menghubunginya dari seberang telepon menjadi kesal.


"Iya, dia mungkin membantu sedikit. Tetapi itu tidak seberapa. Ini untungnya karena ayah begitu cerdas hanya mengatakan jika punya dua anak saja. Walau Friska bukan anak kandung, tetapi dia bisa membantu dengan keberadaannya." ujar Rama yang semakin senang.


Telepon Rama kembali berdering, Rama pun mengangkatnya. "Kak, jika kau tidak memberiku, aku benar-benar akan memberitahu Gilang jika kau dan aku berbeda walau punya wajah yang sama. Gilang pasti akan tahu jika kita kembar. Lalu, bagaimana hasilnya nanti?" ancam Ramadhan dari seberang telepon dengan berteriak.


"Kau ada dimana sekarang?" tanya Rama yang kembali ke wajah dinginnya.


"Aku di depan warnet. Aku butuh uang untuk bermain game. Aku bosan saat ini." jawab Ramadhan seketika.


"Aku sudah memberimu banyak uang dan kau hanya menggunakannya untuk hal yang tidak penting seperti membayar para preman demi wanita pujaan hatimu. Aku tidak akan memberi uang lagi padamu." titah Rama dengan jelas.


"Lalu, bagaimana dengan ancamanku. Kakak tidak merasa terbebani?" tanya Ramadhan yang terus menyerang Rama.


"Tidak, karena jika mulutmu bicara satu kata pun kau akan habis. Perhatikan sekelilingmu, ada orangku yang selalu mengawasimu dengan membawa pistol. Satu kali tembakan maka kau bakal mati." ujar Rama dengan tegas dan penuh penekanan.


Nyali Ramadhan pun menciut. Dia memeriksa orang-orang di sekelilingnya yang berlalu lalang dan benar saja. Terdapat seseorang yang menatapnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket tebalnya membuat Ramadhan yakin jika terdapat pistol yang di sembunyikan di sana.


"Brengsek kamu, kak. Kau tidak ingin membayarku walau itu uang ayah. Aku juga punya hak." ucap Ramadhan dengan suara perlahan sambil masuk berjalan pergi dimana Rendy juga berjalan tepat di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2