
Malam ini terasa hampa untuk Gilang, dirinya tidak tahu harus mencari dimana lagi. Dia sudah berkeliling enam kali bolak balik ke tempat orang yang dia cari di sebuah kosan lama itu, tetapi tidak menemukan apapun di sana.
"Apa aku mencarinya lagi di sana? Mungkin ke tujuh kalinya aku bisa menemukan orangnya." ucap Gilang berharap walau dia tahu itu sia-sia.
Mobil pun mulai melaju, di kemudikan Gilang sendiri. Berputar ke tempat dimana perempuan yang di carinya tinggal di sana enam tahun lalu. Ketika Gilang sampai, keadaan sama dia dapatkan. Pintu rumah itu belum terbuka. Dia sudah duga akan jadi seperti ini. Akhirnya, dia pun mengemudikan mobilnya melaju dengan cepat di temani rintihan hujan yang turun membuat genangan air berada di mana-mana.
Gilang tidak peduli dengan apapun, dia tetap melaju dengan cepat walau hujan semakin deras. Tiba-tiba, seseorang berlari dan menghadang mobilnya hingga dia terpaksa merem mendadak.
"Apa dia sudah gila?" ucap Gilang dengan wajah memerah. Dia bisa saja menabraknya jika tidak cepat menginjak rem.
Gilang keluar dari mobilnya menemui orang itu yang memakai jaket cokelat, berdiri di depan mobilnya. "Hei, kau mau bunuh diri? Kenapa tiba-tiba datang dan menghadang mobilku? Aku bisa menabrakmu!" teriak Gilang dengan wajah kesal.
Perempuan itu lalu mendongakkan kepalanya membuat Gilang sadar dia sedang bicara dengan siapa. "Siapa yang kau katakan gila?" teriak Kanaya membalas.
Kanaya lalu menghampiri Gilang dengan tergesa-gesa. "Lihat pakaianku, gara-gara mobilmu menyerempet genangan air jadi aku basah kuyup sekarang." ucap Kanaya tidak mau kalah.
Kanaya baru keluar dari toko roti, berniat membelikannya untuk Rendy. Tetapi tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan cepat hingga mengenai genangan air dan Kanaya yang berada di pinggir pun tersiram. Kanaya melepas payungnya dan mengejar Gilang. Dia mengambil jalan pintas untuk menghadang mobil Gilang.
"Kau lagi, kau lagi. Kenapa dimana-mana ada kamu. Apa tidak ada tempat lain untukmu?" ucap Gilang masih emosi.
"Apa? Lihat siapa yang bicara. Kau yang salah di sini."
__ADS_1
"Aku harus pergi, masih banyak yang harus aku urus. Tidak ada waktu bermain-main denganmu." kata Gilang yang tidak mau memperpanjang masalahnya dengan Kanaya karena dirinya sedang banyak pikiran menghantui dirinya hari ini. Mulai dari perempuan yang dia cari hingga harus mengurus Friska juga.
"Kau pikir aku ada waktu bertemu denganmu? Kau sungguh salah jika berpikir seperti itu." ucap Kanaya membela diri.
Gilang tidak menanggapi dan malah masuk ke dalam mobilnya, kemudian kembali melajukannya pergi dari tempat dimana ada Kanaya. Sebelumnya, Gilang melirik Kanaya sekilas sebelum pergi.
"Uhhh, dasar laki-laki jahannam. Sudah sombong nan pelit, sekarang tidak mau di salahkan walau dia salah. Meminta maaf saja tidak. Aku mau kau lenyap dari dunia ini secepatnya!" teriak Kanaya ketika dirinya merasa di abaikan Gilang. Kanaya lalu berjalan pulang sambil menghentakkan kakinya karena kesal.
Di rumah, Rendy telah bersiap menyajikan makanan untuk mamanya. Sesuai janji Kanaya, dia mengajak Rendy makan besar hari ini untuk merayakan ulang tahunnya. Kanaya pun berniat membeli roti kesukaan Rendy agar anaknya senang. Tetapi pulang dengan tangan kosong dan basah kuyup.
"Rendy, kita tunda makan besarnya. Bagaimana kalau besok saja?" ucap Kanaya dengan suara lemah lembut.
"Bagaimana dengan makanan ini, Ma. Nanti kita mubasir." ucap Rendy dengan wajah polos nan imutnya. Kanaya sekilas merasa kasihan dengan anaknya yang telah bersusah payah membuat nasi goreng, ikan bakar, bahkan jus untuk merayakan ulang tahun dirinya. Air mata Kanaya pun jatuh, dia tidak bisa membawa roti yang paling di sukai Rendy.
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak bisa membuat kue ulang tahun untuk mama." ucap Rendy dengan senyum senangnya.
"Sayang sekali, andai nenek berada di sini, dia pasti yang menyiapkan semuanya. Nanti kalau kau ulang tahun, aku bakal membelikanmu roti kesukaanmu dan kue ulang tahun!" ujar Kanaya kembali bersemangat.
"Iya, Ma."
Mereka berdua lalu menikmati makan besarnya walau hanya sangat sederhana sekali. Tetapi, Rendy terlihat senang dan menikmatinya dengan bahagia. Begitupun dengan Kanaya, kehadiran Rendy di dunia ini mampu membuat hidupnya lebih berharga.
__ADS_1
Keesokan Harinya..
Rendy masuk diam-diam di apartemen Gilang hanya berbekal laptopnya. Dia meretas sistem keamanan yang menggunakan kata sandi ketika membuka pintu apartemen Gilang. Dengan begitu, Rendy boleh menekan sembarang tombol dan pintu pun terbuka. Rendy melihat-lihat isi apartemen Gilang, berjalan sebentar menikmati suasana apartemen Gilang tanpa sadar jika Gilang berada di dalam apartemennya sedang mandi.
"Wah, ini mainan robot. Kenapa papa juga mengoleksinya, dia bukan anak kecil sepertiku. Aku saja tidak punya." ujar Rendy yang merasa iri.
Lama Rendy melihat-lihat, pintu kamar mandi pun terbuka. Dengan cepat Rendy menyelipkan tubuhnya di bawah meja agar tidak ketahuan. Terlihat kaki Gilang melangkah masuk ke dalam kamar. Rendy pun sadar jika Gilang tidak masuk ke kantornya pagi ini. "Aku pikir dia sudah pergi bekerja." ucap Rendy dengan suara perlahan.
Rendy bergegas keluar kemudian menyimpang sebuah flashdisk di atas meja sebelum pergi. Dia ingin mengembalikan data perusahaan Gilang yang sempat di curinya beserta catatan mengenai Kanaya.
'Aku harap kau bisa tahu siapa diriku dan mama yang sebenarnya, pa. Aku yakin setelah kau melihatnya, kau pasti akan mencariku dan mama.' guman Rendy sambil menutup pintu apartemen Gilang.
Rendy lalu kembali ke kafe Kanaya sambil berjalan kaki. Jarak kafe dan apartemen Gilang cukup dekat hingga Rendy tidak perlu repot-repot menaiki taksi.
Sementara itu di apartemen Gilang, Mizuki datang. Dia masuk dengan cepat karena pintu rumah Gilang tidak di kunci. Mizuki menemukan Flashdisk yang di simpan Rendy, dia pun mengambilnya mengira jika itu flashdisk kerja Gilang. "Dia selalu menyimpang barang penting di sembarang tempat. Kalau hilang bagaimana? Aku juga yang akan repot mencari." ucap Mizuki.
Gilang keluar dari kamar dan terkejut melihat Mizuki tengah berdiri di ruang tamu menunggu. "Ya ampun, Mizuki. Kau datang pagi sekali." ucap Gilang seketika.
"Apa maksudmu ini masih pagi, ha? Lihat jam di dinding, sudah menunjuk angka berapa?" kesal Mizuki.
"Baru jam sepuluh." jawab Gilang dengan santai.
__ADS_1
"Jam sepuluh kau pikir masih pagi? Gilang, kita ada kerja sama dengan klien jam sepuluh. Kita sudah terlambat sekarang." ujar Mizuki yang panik.
"Tenang, dia bisa menunggu. Kemarin kan aku sudah beritahu jika jam sepuluh kemungkinan aku akan datang terlambat." Ucap Gilang dengan enteng. Ya, kalau sudah berkuasa, bebas datang kapan saja.