Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
S2: Gadis Yang Berbeda


__ADS_3

Rendy pulang tengah malam, dia sampai mengendap-endap masuk ke dalam rumah, agar ibunya tidak bangun memarahinya. Apalagi, tubuh Rendy terasa lelah mengurus pengkhianat di perusahaannya.


"Habisa darimana? Pulang larut sekali, bukannya kantor sudah tutup?" tiba-tiba suara Gilang mengangetkan Rendy. Lampu yang tadinya mati, kembali hidup dan menampilkan wajah Gilang yang menyeramkan.


"Ha ha ha, papa! Aku pikir siapa." ujar Rendy yang memaksakan tawanya agar situasinya tidak tenang.


"Katakan padaku, apa yang kau lakukan diluar sana? Kenapa pulang terlambat? Kau tidak tahu, ibumu tidak membiarkan aku tidur dan menyuruhku terus menunggumu. Dari dulu, kau itu memang saingan papa!" ujar Gilang yang memasang wajah kesal.


"Papa! Jangan dimasukan ke hati perkataan mama. Dia itu suka sekali membuat kita berantem." ucap Rendy menahan Gilang agar tidak marah.


"Siapa yang marah? Aku hanya kesal. Sudah, kamu cepat masuk ke kamar sebelum ibumu bangun dan membuka mulut cerewetnya." ucap Gilang yang berjalan menaiki tangga. Rendy menghela nafas dengan tenang. Kali ini, dia berhasil lolos dari mama dan papanya. Barusaja Rendy tiba di kamarnya, ponselnya berdering.


Aku sudah lakukan apa yang kau suruhkan. Tetapi, semua itu tidak seru. Aku ingin sekali membunuh mereka.

__ADS_1


Pesan dari Alex membuat senyum Rendy bersinar. Dari dulu, Alex suka sekali membuat masalah hingga membuat dirinya kerepotan mengurusnya. Apalagi, jika ditanya alasannya berantem, Alex selalu mengatakan semua itu untuk diri Rendy.


"Anak ini selalu saja menyebalkan. Sebaiknya aku lihat pekerjaannya besok pagi, apa membuahkan hasil?" ucap Rendy sambil membuang tubuhnya di atas kasur yang berukuran king.


Keesokan harinya..


Rendy lebih pagi menemui anak buah Alex. Dia disambut foto-foto yang memperlihatkan bukti jika pekerjaan mereka berjalan lancar. Rendy memeriksa satu per satu foto itu dan tersenyum senang.


"Bagus, pekerjaan kalian sudah beres. Minta uang tambahan pada Alex!" perintah Rendy yang pulang setelah menemui mereka. Rendy memutar mobilnya ke tempat kerjanya dan menyembunyikannya di gudang kosong dekat perusahaan. Dia memilih berjalan kaki agar identitasnya tetap terjaga.


"Ada apa?" tanya Rendy yang dipenuhi keringat dingin.


"Kau kan, orangnya?" tunjuk gadis sambil menatap tajam ke arah Rendy.

__ADS_1


"Apa? Aku apa?" ucap Rendy berpura-pura menyembunyikannya. Dia menunggu, anak di depannya melanjutkan perkataannya.


"Iya, Kau. Kau tukang pembuat kopi kan? Buatkan satu untukku. Aku mau minum kopi pahit tanpa ada gula. Biar aku tahu, di dunia ini kehidupanku sangat keras." Ucap Gadis yang meninggalkan Rendy dan berjalan ke ruang ob. Rendy terpaksa berjalan mengikutinya dengan rasa penasaran. Ada sesuatu yang menjanggal di hatinya. Setelah membuat kehebohan pada kakek Gadis yang mengirim mayat orang lain agar bisa memberi mereka ancaman dan peringatan.


"Kau banyak pikiran?" tanya Rendy memulai pembicaraan.


"Ayahku, dia benar-benar bodoh. Bagaimana bisa, menangis histeris di depan mayat orang lain. Apa dia pikir, aku anak yang lemah dan mudah di bunuh? Aku tidak seperti dirimu, benarkan?" ucap Gadis mulai bercerita tanpa sadar.


"Benar bodoh. Aku yang memberi mereka perintah agar tidak membunuhmu. Aku hanya memberi peringatan pada ayahmu agar tahu diri." guman Rendy menjawab pertanyaannya.


"Hei! Namaku Gadis, kau bisa memanggil diriku karena sudah tahu namaku kan? Jika bertemu lagi, jangan lupa panggil namaku!" teriak Gadis penuh semangat. Mata Rendy tidak berkedip, dia kagum melihat perubahan wajah Gadis yang bisa berubah dalam sekejap.


"Kau tidak apa? Tadi, wajahmu tampak sedih. Apa sekarang baik-baik saja?" tanya Rendy dengan suara perlahan.

__ADS_1


"Iya, aku memang orang seperti itu. Sampai jumpa lagi!" ucap Gadis berlalu pergi sambil melambaikan tangannya.


"Dia memang Gadis berbeda dari perkiraanku. Aku jadi penasaran, apa bisa aku manfaatkan dia untuk mendekati ayahnya?" ucap Rendy yang tersenyum sinis, mendapat ide cemerlang.


__ADS_2