
Awalnya, Rama merasa ragu jika Rendy bersedia memberikan data perusahaan Gilang. Tetapi melihat sebuah Flash Disk di depan matanya membuat Rama penasaran. Dia pun mengambil Flash Disk itu dan memasang di komputernya.
"Silakan masuk dan registrasi atas nama anda sendiri."
Rama mengetik namanya dan memasukan data-data yang di minta. Tiba-tiba, terlihat sebuah kata copy di komputernya dan tidak mau berhenti. Rama berusaha keluar tetapi tidak bisa. Dia menjadi panik, takut data perusahaannya yang bermasalah.
"Friska! Friska! Bawa Rendy ke sini sekarang!" titah Rama yang naik pitam.
Friska segera menuruti perkataan Rama dan menarik Rendy bersama Alex ke ruangan Rama. Senyum Rendy mekar melihat Flash Disknya terpasang di komputer Rama.
"Katanya, Om tidak mau percaya padaku. Sekarang terbukti kan?" ucap Rendy dengan tersenyum sinis.
"Cakep anak kecil, kau membuat masalah padaku lagi. Cepat perbaiki komputerku segera!" ucap Rama dengan suara tinggi. Alex sampai kaget dan takut. Dia sampai memeluk Rendy.
"Kalau Rendy tidak mau, paman mau apa?" ucap Rendy menolak. Friska menjadi tersenyum, pasalnya Rama berhasil dilawan oleh anak kecil seperti Rendy.
"Kau cari mati?" kata Rama dengan suara di tekan ingin membuat Rendy takut dan menurut.
"Paman juga cari mati?" kata Rendy meniru Rama.
"Cari mati, Paman?" sahut Alex bermain-main. Kepala Rama jadi pusing, mereka berdua bukan anak kecil sembarang. Berhadapan langsung sudah membuat emosinya mencapai ubun-ubun.
"Kau cari mati, Rama?" sahut Friska ikut-ikutan.
"Kau lelah bekerja denganku? Jangan sampai aku menendangmu keluar dari rumah, adik tersayang." balas Rama menatap tajam Friska.
"Maaf, aku hanya asal bicara saja." tunduk Friska yang tidak bisa membela diri.
"Lain kali jaga mulutmu." tegur Rama yang kembali menatap duo si kecil.
__ADS_1
"Friska, suruh anak buahmu membawa anak ini ke tempat lain. Rumah kosong yang jelas rumahnya terlihat angker. Biar mereka sekalian di bawa hantu." ujar Rama menatap Rendy dan Alex bergantian.
"Iya, paman. Aku sampai takut, terlebih kalau hantunya seperti paman. Bagaimana, Rendy?" ucap Alex yang bergetar padahal hanya pura-pura saja. Setelah itu, mereka pun tertawa terbahak-bahak. Rama memijat pelipisnya, dia benar-benar marah. Emosinya sampai tercampur satu dan ingin segera melampiaskannya.
"Friska, cepat bawa mereka sebelum aku benar-benar membunuhnya." teriak Rama menujuk Rendy dan Alex.
Friska memanggil satpam untuk membantunya memindahkan Rendy dan Alex ke mobilnya di tempat parkir. Mereka lalu pergi ke tempat yang di maksud Rama.
"Pak, Friska mulai bergerak membawa Rendy. Sepertinya hanya dia yang membawa Rendy seorang diri. Biar aku cegah dia di tengah perjalanan sebelum sampai ke tempat tujuannya." ucap mata-mata Gilang.
"Tidak perlu, aku yang akan mengambil anakku sendiri. Kau terus ikuti dan beritahu aku terus di mana lokasi mereka." ucap Gilang yang menutup sambungan teleponnya, segera pergi ke lokasi Friska.
Di dalam mobil, Alex dan Rendy masih di ikat. Friska mengemudi mobilnya seorang diri. Kedua bocah itu pun berniat membuat Friska kesal. "Lex, ngomon-ngomon kita mau di bawa jalan-jalan ke mana sama tante cantik ini?" tanya Rendy sambil menoleh ke arah Alex.
"Mungkin ke pantai atau tidak ke mal hamburkan uang seperti apa yang sering dilakukan tante cantik ini." ujar Alex sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Rendy.
"Jangan mimpi." sahut Friska yang mendengarkan pembicaraan kedua anak nakal yang duduk di kursi belakangnya.
"Kau mau merasakannya? Tunggu saja, sebentar lagi kita bakal sampai di sana." kata Friska yang tersenyum sinis. Setelah sampai di tempat itu, dia akan menyuruh anak buahnya untuk memukul Rendy dan Alex karena sudah membuatnya kesal berapi-api.
"Oke, kita tunggu. Sepertinya menarik." kata Alex dengan penuh percaya diri.
Tidak berselang lama, mobil Friska berhenti mendadak ketika di cegah beberapa orang di tengah jalan. Friska lalu turun memberikan mereka uang, mengira jika orang yang berbaris itu hanya preman biasanya yang sering memalak uang di tengah jalan.
"Sekarang kalian minggir, aku ada urusan dan harus cepat sampai." kata Friska yang kembali ke dalam mobilnya.
Para orang yang berbaris tersenyum. Salah satunya menghampiri mobil Friska mengetuk jendela mobil.
"Mbak, ambil saja uangnya kembali. Kami bukan sembarang orang yang selalu anda bayar semau anda." ucapnya menyulurkan uang Friska kembali. Dia lalu menatap Rendy dan Alex yang terikat di kemudi belakang. Perasaan Friska menjadi tidak tenang, terlebih orang itu tersenyum ke arah Rendy.
__ADS_1
"Kau kenal dia?" bisik Alex tetapi masih bisa di dengar Friska.
"Tunggu dulu, aku scaning dulu di otakku." kata Rendy yang berpikir.
"Oh, aku belum pernah bertemu dengannya. Mungkin ini pertama kalinya." ucap Rendy kembali sambil menoleh menatap Alex.
Sebuah mobil hitam dengan DD XXX menghampiri orang tersebut. Friska merasa tidak asing dengan mobil itu. Dirinya seolah pernah melihatnya. Terlebih ketika pemiliknya turun, mata Friska membulat. Begitupun dengan Alex. Dia tahu siapa yang datang ingin membantunya.
"Papa Rendy datang." kata Alex.
"Papaku adalah pelindungku. Orang tua sudah semestinya melindungi anaknya. Begitu pepata yang sering aku baca. Itulah alasan kenapa aku merasa santai ketika di culik." jelas Rendy dengan penuh percaya diri.
Tubuh Friska bergetar melihat Gilang. Terlebih tatapan Gilang yang sangat tajam sampai menusuk di ulu hatinya. Friska tidak berani menutup pintu mobilnya walau Gilang mengetuknya.
"Tidak bisa begini, Gilang pasti sedang marah. Aku bisa tamat." guman Friska yang menjadi takut.
"Kenapa tante cantik terdiam? Takut apa tidak berani?" sahut Rendy.
"Sudah jelas dia takut, kakinya sampai bergetar. Entah siapa yang akan masuk ke alam mimpi, kita atau dia?" tanya Alex.
Friska menghubungi Rama, mencoba meminta bantuan. Tidak mendapat respon dari Rama, Friska memutar otaknya. Dia segera pindah tempat duduk dan menyandra Rendy.
Ketika pintu mobil di buka, Friska dan Rendy turun. Gilang perlahan mundur melihat tangan Friska memegang pisau.
"Hei, gadis aneh. Kenapa kau malah menyandra seorang anak? Belum punya anak, belum tahu rasanya punya anak?" teriak orang yang menyodorkan uang Friska kembali tadi.
"Jangan menghalangi jalanku atau kepala anak ini yang akan tersisa. Aku benar-benar serius." kata Friska mengancam.
"Bagaiman ini, pak Gilang? Sepertinya di mau kabur membawa Rendy."
__ADS_1
"Wah, tante cantik memang jahat. Kenapa tidak menyandraku juga? Aku juga mau di sandra." titah Alex masih di dalam mobil, belum bisa bebas karena tali masih melilit di tubuhnya.