Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 39. Kejutan


__ADS_3

"Kanaya, kau akan di temani Mizuki. Aku sudah menghubunginya agar dia datang ke sini. Nanti, kau tidak perlu merasa takut sendirian." ucap Gilang sambil menekan sandi apartemennya.


Ting..


Pintu apartemen Gilang terbuka. Kanaya dengan wajah super sedih berjalan masuk dengan langkah kaki perlahan. Gilang mengikutinya di belakang dan tiba-tiba muncul seorang anak kecil dari balik sofa.


"Kejutan!" ucap Rendy yang keluar dari tempat persembunyiannya.


"Rendy?" sahut Kanaya yang langsung memeluk Rendy dengan erat.


"Kenapa mama dan papa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir satu jam di sini. Terpaksa, aku mengambil snack di kulkas. Maaf, pah." kata Rendy dengan santai tanpa merasa beban bersalah sama sekali setelah membuat Kanaya hampir kehilangan jantungnya.


Wajah sedih Kanaya hilang setelah memeluk Rendy. Dia lalu tersenyum-senyum dan menatap Rendy dengan tajam. "Kau santai sekali di sini, menikmati makananmu." sindir Kanaya dengan suara yang tidak biasa. Rendy paham perubahan suara Kanaya, dengan cepat Rendy berlari ke belakang Gilang bersembunyi.


"Hei, Rendy! Ke sini kamu, dasar anak nakal." teriak Kanaya sambil menunjuk-nunjuk.


"Mama tidak boleh terlalu marah, nanti wajah mama keriputan dan terlihat tua." jawab Rendy.


"Kau pikir aku peduli? Kau yang membuatku terlihat tua saat ini. Jadi, ke sini dan tanggung jawab!" teriak Kanaya menggema di apartemen Gilang. Gilang hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Kanaya dan Rendy. Mereka seperti tom dan jerry ketika bertengkar, jerry selalu menghindari tom. Seperti Rendy yang tidak mau melawan Kanaya.


"Rendy, kau sudah makan? Perutmu pasti laper dari tadi. Maaf, aku akan buatkan nasi goreng untukmu." ucap Gilang sambil membungkuk menyetarakan tingginya dengan Rendy.


"Iyap, aku memang laper saat ini." kata Rendy sambil memegang perutnya, menyakinkan Gilang.


"Dia sudah makan banyak snack, sudah paati tidak laper lagi." sahut Kanaya sambil melipat kedua tangannya dan mengalihkan padangannya dengan wajah cemberut.


"Kau juga, Kanaya., sebaiknya duduk saja. Kau pasti lelah berjalan tadi. Aku akan buatkan jus untuk melepas rasa lelahmu." pintah Gilang yang berjalan menuju dapur kecil di apartemennya.

__ADS_1


Kanaya tersenyum mendengar perkataan Gilang. Dia mengambil tempat duduk lebih dulu daripada Rendy. "Mama pasti mau juga kan? Kalau begitu, seharusnya mama tidak memarahaiku." ucap Rendy sambil menatap wajah Kanaya.


"Kenapa memangnya? Aku tidak mungkin menolak karena ini gratis." jawab Kanaya.


"Jadi, kalau papa mengajak mama menikah dengan gratis, mama juga mau?" kata Rendy yang semakin serius. Kanaya menutup mulut Rendy takut Gilang mendengarnya.


"Husst, diam. Jangan banyak bicara, ini rumah orang. Kau di sini sebagai tamu." jelas Kanaya mengingatkan.


"Aku pemilik rumah ini. Aku bisa masuk dengan mudah, mungkin mama tidak akan bisa masuk kalau tidak ada papa. Benarkan?" goda Rendy.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu? Bukannya tadi kita berdiri menunggu di luar karena tidak ada yang tahu kata sandi apartemen presdir sombong itu?" tanya Kanaya yang memasang wajah kepo-nya. Dia ingin tahu bagaimana cara Rendy membuka pintu.


"Aku bisa melakukannya karena aku pintar. Mungkin mama tidak pintar, makanya tidak bisa melakulannya."


"Aku tidak bodoh!" teriak Kanaya ngotot karena tahu maksud anaknya.


Gilang merasa terhibur mendengar perdebatan Kanaya dan Rendy. Gilang bahkan sampai tersenyum ketika membuat nasi goreng. Dia lalu keluar dan menyajikan nasi goreng buatannya, tetapi mata Gilang semakin membulat melihat Rendy yang berada di atas meja, berbaring dengan tangan yang berusaha mendorong Kanaya. Sementara Kanaya, terus saja mendorong tubuh Rendy untuk tetap menempel di atas meja.


"Perasaan tadi kalian sudah berhenti berdebat, kenapa sekarang malah semakin memanas?" tanya Gilang yang masih berdiri mematung.


"Rendy terus saja mencari masalah denganku." jawab Kanaya tanpa menoleh menatap Gilang.


"Tidak, aku tidak memancing kemarahan mama. Mama sendiri yang selalu sensi, apa yang aku katakan memang benar." pancing Rendy sambil tersenyum-senyum.


"Kau sudah berani melawanku?"


"Sudah berani. Sebaiknya mama harus mengaku kalah dariku. Aku lebih pintar, bisa di andalkan dan selalu membuat kejutan yang luar biasa." kata Rendy yang tidak mau mengalah.

__ADS_1


Melihat ibu dan anak yang tidak ingin mengalah, terpaksa Gilang ikut campur melerai mereka. Gilang menarik tangan Kanaya sehingga Rendy terbebas. "Terima kasih, pah. Kau sudah membelaku daripada membela mama. Apa papa juga tahu jika mama memang salah yah?" ucap Rendy ingin membuat Gilang dan Kanaya berdebat.


"Jadi kau juga menuduhku jika aku yang memulai semua ini?" tunjuk Kanaya sambil menatap Gilang dengan wajah serius.


Gilang hanya bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Dirinya tidak ada maksud ingin berdebat dengan Kanaya. "Bu.. Bukan seperti itu. Rendy kan anak kecil....." Gilang berusaha menjelaskan, tetapi Kanaya semakin sensi dan malah memperpanjang perdebatannya.


"Karena Rendy anak kecil, kau ingin membelanya? Asal kau tahu, dia itu memang anak kecil tetapi pikirannya sudah sangat dewasa. Kalau dia salah, kau tidak boleh membelanya!" teriak Kanaya memberitahu Gilang.


Rendy yang melihat ada kesempatan baik, dia pun pergi mengambil nasi gorengan buatan Gilang dan memakannya sambil duduk menonton tivi dengan santai. "Mereka terus saja berdebat dan aku akan makan dengan tenang." kata Rendy sambil menyuap dirinya dengan nasi gorengan buatan Gilang.


Tiba-tiba, ponsel Gilang yang sengaja di letakkan di sofa, berdering membuat fokus Rendy teralihkan. Rendy pun melihat nama yang tertera di ponsel Gilang itu. "Nenek?" Rendy dengan cepat berlari mengambilnya sambil mengangkat panggilan dari nenek Gilang.


"Halo, Nek. Aku ini cicit nenek, namaku Rendy. Kapan-kapan kita bertemu yah, Nek?" ucap Rendy dengan wajah antusias.


"Siapa ini? Rendy?" ucap nenek Gilang yang terkejut dari seberang telepon.


"Iya, Nek. Aku Rendy, cicit nenek. Aku seharusnya memanggil nenek dengan sebutan Oma saja. Kalau papa memanggil nenek, maka aku harus memanggil Oma." ucap Rendy berpikir sembari bicara membuat nenek Rani tertawa mendengarnya.


"Kau lucu sekali. Pasti wajahmu cukup imut dan menggemaskan. Oma tidak sabar bertemu denganmu." ucap nenek Rani dengan wajah senang.


"Aku ada di apartemen papa, Oma bisa datang ke sini dan bertemu denganku. Kebetulan, aku sendirian karena papa dan mama sibuk membuat adik untukku." kata Rendy memancing nenek Rani.


"Apa? Sibuk membuat adik?"


"Iya, Oma. Aku tidak mau mengganggu mereka. Jadi aku menonton tivi sambil makan nasi goreng saja daripada nanti kelaperan." ucap Rendy dengan jelas.


"Oma segera ke sana dan menegur mereka. Sungguh sangat keterlaluan Gilang, mereka melakukannya di sore hari dan cicit Oma malah mengetahuinya." jelas Nenek Rani sebelum mengakhiri pembicaraannya. Saat itu juga, kanaya baru keluar dari dapur sambil membawa nasi goreng dan jus yang sudah di buatkan Gilang. Rendy hanya tersenyum-senyum melihat Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2