
Gilang langsung pulang setelah bicara dengan pemilik kafe Wins. Setelah lelah seharian mencari petunjuk, semuanya menjadi jelas ketika Gilang mendengar semua perkataan pak Bait.
"Malam ini, kau bisa bersenang-senang presdir Clady group. Besok hari, kau tidak punya waktu tersenyum lagi. Aku akan pastikan itu." ucap Gilang yang bisa bernafas lega.
Ketika Gilang sampai di rumah sakit, Reyhan berlari menghampirinya ketika melihat Gilang berjalan di lorong rumah sakit. "Ada apa, apa terjadi sesuatu pada Rendy?" ucap Gilang yang menjadi panik.
"Bukan, ini kabar bahagia. Rendy sudah sadarkan diri." teriak Reyhan yang lebih bersemangat dari Gilang.
"Benarkah?" tanya Gilang yang seolah tidak percaya. Tanpa menunggu jawaban dari Reyhan, Gilang langsung berlari menuju kamar Rendy.
"Ya ampun, dia benar-benar tidak sopan sekali. Seharusnya dengarkan dulu jawabaku sebelum pergi." ucap Reyhan yang kesal.
Pintu belum terbuka, suara Gilang sudah menggema di dalam kamar Rendy. Membuat Kanaya memutar bola matanya karena malas.
"Papa akhirnya datang." ucap Rendy dengan suara perlahan.
"Rendy! Rendy! Anakku, kau sudah sadar?" tanya Reyhan yang tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya.
"Dia sudah sadar, buktinya bisa mendengar teriakanmu." sahut Kanaya yang menatap Gilang seperti tidak suka.
"Wajar jika dia sangat senang, dia kan ayahnya Rendy. Perasaan seorang ayah kepada putranya jauh lebih besar dari siapapun." ucap nenek Rani yang duduk di samping Kanaya.
"Perasaan seorang ibu mungkin bisa mengalahkannya." sahut Kanaya.
"Iya, nenek tahu. Tetapi, bukan kha lebih baik jika kau dan Gilang menikah biar Rendy bisa mendapat kasih sayang seorang ayah juga?" ucap nenek Rani sambil melirik Rendy dan di sambut kedipan mata oleh Rendy.
"Aku tidak berpikir seperti itu, Nek. Buktinya, Rendy baik-baik saja tanpa kasih sayang seorang ayah." jawab Kanaya yang menjadi ketus.
"Sudahlah, Nek. Jangan terus memaksa Kanaya, dia berhak memilih hidupnya." ucap Gilang sambil menatap wajah nenek Rani.
"Nenek juga ini melihat kau menikah dan hidup bahagia, itu saja." ucap nenek Rani yang terdengar kecewa.
Malam semakin larut, hanya Gilang dan Kanaya yang menjaga Rendy malam ini. Setelah Kanaya tertidur pulas di dekat Rendy, Rendy lalu bangun dan bicara dengan Gilang.
"Papa, apa sudah tahu siapa orang yang hampir mencelakaiku?" tanya Rendy yang mendadak kepikiran dengan teman Kanaya.
__ADS_1
"Kamu pasti kepikiran. Sudah, tenang saja. Besok orang itu akan segera di tangkap." ucap Gilang dengan tersenyum sambil mengusap perlahan rambut Rendy.
"Dia, temamnya mama, Pah. Namanya Ramadhan. Aku belum mencari infromasi tentang dirinya." ucap Rendy dengan wajah menunduk, kecewa dengan diri sendiri.
"Tidak mudah mendapat informasi tentang orang itu, dia selama ini menyembunyikan identitasnya karena mengurus sebuah perusahaan Clady Group." jelas Gilang.
"Apa? Clady group?" Rendy seolah terkejut. Dia tidak menyangka selama ini senior yang di maksud Kanaya adalah orang yang dia incar.
"Papa tahu dari mana?" tanya Rendy dengan tatapan tajam, ingin menelusuri lebih dalam lagi.
"Dia berhasil keluar dari tempat persembunyiannya dengan menyamar sebagai Rama. Foto Kanaya perlihatkan padaku begitu jelas dan mirip dengan orang itu. Jadi aku sudah menduga jika dia adalah pelakunya. Karena itulah, aku mengajaknya kerja sama dan bertemu dengannya." ucap Gilang dengan wajah serius.
"Bukan kha akan sedikit aneh jika dia langsung muncul begitu saja setelah membuat masalah denganku? Aku rasa dia sudah tahu jika aku adalah anak papa. Seharusnya dia merasa takut bertemu papa." ucap Rendy sambil berpikir dengan keras di otaknya.
"Sebaiknya kamu tidur dan tidak perlu memikirkannya. Aku yang akan mengambil alih mulai dari sekarang. Kau dan Kanaya tidak akan terluka lagi." kata Gilang yang berusaha tersenyum semanis mungkin agar Rendy bisa tenang.
Keesokan Harinya...
Rendy sudah di nyatakan pulih dan sudah bisa kembali ke rumahnya. Tiga mobil menjemput penerus Bintang Group. Bahkan ketika mobil yang di tumpangi Rendy melaju, tidak ada mobil yang berani lewat. Rendy pulang dengan aman dan tenang.
"Nenek juga akan merasa senang jika Rendy tinggal di sini." sahut nenek Rani dengan wajah bahagianya.
"Kak Kanaya setuju kan?" tanya Mizuki yang menatap Kanaya seperti tidak suka.
"Aku setuju, ini semua demi keselamatan Rendy. Tetapi, apa kami tidak merepotkan kalian?" tanya Kanaya dengan suara hati-hati. Kanaya ingin hidup berdua dengan Rendy saja, tanpa ada orang lain yang masuk ke dalam hidupnya. Dia masih belum terbiasa dengan nenek Rani, Mizuki, Reyhan, Alvin, dan Gilang yang mendadak muncul dalam hidupnya.
"Kanaya, kau bahkan tidak membuat kami repot. Kami yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena mau tinggal di rumah nenek." jelas nenek Rani sambil memegang tangan Kanaya. Perlahan Kanaya merasakan kehangatan dari seorang nenek. Tatapan katanya begitu sendu, genggaman nenek Rani begitu keras sama seperti genggaman nenek Kanaya dulu.
"Oma, ayo kita masuk. Kaki Rendy sudah capek berdiri." sahut Rendy membuat semua orang bergegas berjalan masuk.
"Ma, aku rasa mama sudah tidak bisa lagi memarahi aku." bisik Rendy sambil tersenyum-senyum ke arah Kanaya.
"Jadi karena itu, kau senang berada di sini?" tanya Kanaya dengan menatap tajam ke arah anaknya.
"Iyap. Mama pasti sangat gelisah karena tidak bisa memarahiku. Setiap hari, mama selalu marah tanpa henti walau itu hanya perkara biasa saja. Sabar yah, Ma. Kita tidak tinggal lama di sini, setelah papa memberantas semua penjahat yang ingin melukai kita, baru deh kita pindah ke rumah ternyaman mama." jelas Rendy.
__ADS_1
"Kau pasti cukup senang jika tinggal di sini." sindir Kanaya.
"Tidak, Rendy lebih suka bersama mama. Berdua dengan mama, menghabiskan waktu sepanjang hari. Tetapi, tempat tinggal kita sudah di ketahui banyak orang dan sudah tidak aman. Jadi untuk sementara, kita harus mencari tempat yang aman dan rumah nenek Rani adalah tempat yang paling aman." ucap Rendy lagi sambil menyakinkan Kanaya.
Kanaya tidak mengerti dengan semua masalah yang terjadi, tetapi dia juga takut jika nyawa anaknya di pertaruhkan. Entah dari mana asal masalah ini yang membuat keluarganya sampai terancam.
Ketika semua orang di rumah nenek Rani menyambut kepulangan Rendy, tiba-tiba Gilang mendapat telepon dari perusahaannya.
"Iya, ini aku Gilang Wijaya." ucap Gilang sambil berjalan menjauh sedikit dari keluarganya.
"Begini, pak Gilang. Sedang ada masalah di kantor polisi, pak Rama yang merupakan presdir tidak terbukti melakukan kejahatan yang pak Gilang tuduhkan. Malah, pak Rama menuntuk pak Gilang balik atas kasus pencemaran nama baik."
"Apa?" teriak Gilang yang membuat semua keluarganya menoleh menatapnya.
"Kau serius? Bukannya semua bukti sudah terkumpul dan saksi juga sudah ada?" tanya Gilang yang terheran-heran.
"Sebaiknya pak Gilang segera ke kantor polisi sekarang, keadaan di sini makin kacau, pak."
"Baik, aku segera ke sana." ucap Gilang yang menutup sambungan teleponnya.
Reyhan dan Alvin lalu bangkit ketika melihat wajah Gilang panik. "Ada apa, Lan? Masalah di perusahaan lagi?" tanya Reyhan.
"Maaf sekali, Rendy. Papa harus pergi ke kantor polisi, banyak masalah yang harus papa urus. Tidak apa-apa kan jika Rendy menikmati acara sambutan ini bersama yang lain tanpa papa?" mohon Gilang kepada Rendy.
"Baiklah, cepat pulang yah, pah." ucap Rendy yang mengerti. Rendy lalu memberi Gilang kecupan sebelum Gilang pergi.
"Nek, aku pergi juga. Gilang pasti membutuhkanku!" teriak Reyhan yang berlari menyusul Gilang.
"Aku ikut, jangan tinggalkan aku." teriak Alvin yang ikut-ikutan. Tinggal Mizuki, nenek Rani, Kanaya dan Rendy. Keadaan menjadi hening setelah sempat ramai sebentar.
"Nenek ke dapur dulu menyuruh ART menyiapkan makan untuk Rendy." ucap nenek Rani yang berjalan perlahan ke dapur.
"Kak Kanaya dan Rendy duduk dulu. Aku harus pergi menelpon seseorang dulu." ucap Mizuki yang ikut meninggalkan Rendy dan Kanaya di ruang tamu.
"Iya, keadaan mulai sepi lagi. Aku tidak yakin jika kita tinggal di sini selalu ramai. Terlebih, Mizuki selalu memanggilku kak. Apa wajahku tampak tua akhir ini? Perasaan aku selalu menggunakan pencuci muka deh." ucap Kanaya sambil memeriksa wajahnya dengan kamera ponselnya. Rendy tersenyum melihatnya.
__ADS_1
'Apa ada masalah yah di kantor polisi, papa terlihat buru-buru sekali. Apa ini menyangkut pak Azal atau senior mama? Bukannya kemarin papa sudah bilang jika senior mama itu bakal di tangkap?' guman Rendy sambil menatap tajam ke arah wajah Kanaya. Rendy menjadi penasaran dan ingin segera mencari tahu jawabannya.