
Di rumah sakit, Kanaya dan Gilang terlihat sangat khawatir. Mereka sudah menunggu sangat lama di depan pintu UGD, tetapi dokter belum keluar juga.
"Apa Rendy terluka cukup parah sampai dokter belum keluar juga?" tanya Kanaya yang gelisah.
"Tenang, dokter sedang berusaha menyelamatkan Rendy." ujar Gilang berusaha menenangkan Kanaya meski dirinya ikut cemas.
Ting..
Pintu UGD tiba-tiba terbuka dan keluar dokter dari dalam sana. Sang dokter menatap wajah Kanaya bersamaan dengan Gilang, lalu menunduk sambil menghela nafas kasar.
"Maaf, pak, bu, kami sudah berusaha sebaik mungkin tetap anak bapak dan ibu tidak bisa kami selamatkan." ucapnya dengan rasa bersalah.
"Apa? Anakku meninggal? Rendy meninggal? Itu tidak mungkin." ucap Kanaya yang terkejut sekaligus merasa sedih.
"Maaf, bu. Ini mungkin berat bagi anda, kami mengerti itu. Ibu sebaiknya menangis agar bisa bernafas lega." ucap sang dokter sebelum pergi.
Mayat seseorang pun di bawah keluar. Tangan Kanaya bergetar seolah tidak ingin menyentuhnya. Air matanya turun tanpa suara. Rasa sakit, sesak, semuanya bercampur di dada. Begitupun dengan Gilang, dirinya seolah terkejut.
"Rendy.." panggil Kanaya dengan suara perlahan
Tiba-tiba datang salah seorang ibu-ibu dan memeluk mayat anak itu. Kanaya dan Gilang saling berpandang, merasa heran.
"Anakku... Maafkan ibu... Anakku, maafkan ibu.." ucapnya sambil menangis histeris.
"Maaf, bu, permisi. Ini anakku, bukan anak ibu." tegur Kanaya dengan sekuat hati.
"Apa maksudmu, hiks hiks hiks ini anakku. Anakku kesayanganku." ucapnya semakin memeluk dengan erat.
Gilang yang sempat berlutut di lantai seketika bangkit. Dia dengan cepat membuka penutup wajah anak itu dan melihat siapa sebenarnya anak itu.
"Bukan Rendy." ucap Gilang sambil mundur perlahan.
"Benarkah?" Kanaya buru-buru melihatnya sampai matanya membulat.
__ADS_1
Kanaya tiba-tiba menangis di depan mayat itu sambil duduk di samping ibu yang menangis. "Kenapa ibu ikutan menangis, ini anakku. Anakku yang meninggal." ucap sang ibu korban, sekilas melirik Kanaya.
"Aku juga sedih, bu. Bukan anakku yang meninggal." jawab Kanaya semakin keras suara menangisnya.
"Apa maksudmu? Seharusnya kau senang ini bukan Rendy. Cepat bangun dan kita cari Rendy!" perintah Gilang sambil menarik tangan Kanaya menjauh dari sana.
Mereka berdua lalu keluar dari rumah sakit. Tidak berselang lama, ponsel Gilang pun berdering. Gilang dengan cepat melihat isi pesan yang dikirim dari Reyhan.
[Nenek sudah baik-baik saja. Dia segera menuju apartemenmu bersama Rendy, nanti kita berkumpul di sana. Kebetulan yang menyelamatkan Nenek adalah Rendy.]
Gilang tersenyum puas setelah membaca pesan Reyhan. Dia dengan cepat menarik tangan Kanaya naik ke dalam mobil. Kanaya tidak memberontak dan menurut saja, tidak seperti biasanya. Dia hanya diam mengamati keadaan di luar jendela mobil.
"Rendy dan Nenek Rani selamat. Mereka segera sampai ke apartemen." ucap Gilang menberitahu.
"Apa? Nenek Rani bersama Rendy?" tanya Kanaya yang menoleh ke arah gilang.
"Iya, Rendy yang menyelamatkan nenek Rani." ujar Gilang dengan tersenyum bangga dengan anaknya. Sementara Kanaya memasang wajah tidak suka. Dia berpikir terus di dalam perjalanan, bagaimana cara menghukum anaknya itu.
Sesampai Kanaya dan Gilang di apartemen, Reyhan dan Mizuki juga baru datang. Mereka berempat lalu masuk bersamaan dan duduk menunggu Rendy yang akan datang bersama nenek Rani.
"Jangan terlalu keras dengan anak kecil." sahut Gilang mengingatkan.
"Kau tidak perlu ikut campur. Ini masalah keluargaku dan Rendy." jawab Kanaya sambil menatap tajam ke arah Gilang.
"Aku papanya jadi harus ikut campur," balas Gilang. Seketika emosi Kanaya naik, dia lalu bangkit membuat Reyhan dan Mizuki terkejut.
"Katakan satu kali lagi, aku bekap mulutmu dengan kaca ini." tunjuk Kanaya mengancam. Gilang hanya bisa meneguk ludahnya, dia rupanya takut dengan ancaman Kanaya.
Ting..
Bel apartemen pun berbunyi. Kanaya dengan cepat berlari membuka pintu sambil menarik sapu yang tidak jauh dari pintu untuk memukul kepala Rendy. "Tamat riwayatmu kali ini." ucap Kanaya yang bersemangat sekali.
Justru Gilang merasa aneh, Rendy tahu berapa kata sandi apartemennya, lalu kenapa Rendy tidak langsung masuk dan malah menekan bel?
__ADS_1
Ceklek..
Pintu terbuka dan bayangan seseorang yang membuka pintu mulai terlihat. Kanaya mengambil ancang-ancang untuk memukul. Tetapi suara yang tidak mirip Rendy terdengar membuat Kanaya mengurungkan niatnya.
"Apa kalian semua ada di sini?" teriak nenek Rani. Kanaya dengan cepat menjatuhkan sapunya dan menyabut nenek Rani dengan senyum ramah.
"Nenek sudah datang? Rendy dimana, Nek?" tanya Kanaya yang mencari keberadaan Rendy yang tidak mengekor di belakang nenek Rani.
"Dia singgah di kafe Wins sebentar dan menyuruhku pulang lebih awal." jawab nenek Rani.
"Untuk apa Rendy ke sana, Nek?" tanya Gilang, tetapi belum sempat nenek Rani menjawab, Kanaya sudah berlari keluar dari apartemen.
"Dia pasti pergi mencari Rendy dan tidak akan menemukannya." ucap Nenek Rani yang tersenyum manis.
"Jangan macam-macam, Ma. Mama belum melihat bagaimana si Kanaya itu marah-marah. Aku dan dia hanya selisih satu tahun tetapi Kanaya jauh lebih menyeramkan kalau lagi marah." sahut Mizuki memperingatkan.
"Aku tahu, tetapi aku tidak akan biarkan cicitku di lukai. Makanya aku menyuruh Rendy membiarkan diriku datang ke sini lebih dulu. Nanti dia bakal menyusul setelah aku pastikan Kanaya sudah pergi dari gedung ini." ucap nenek Rani membuat semua orang berekspresi datar.
"Rendy, cepat naik lewat tangga. Mama-mu sudah pergi." bisik nenek Rani sambil mengangkat ponselnya, mengirim pesan suara kepada cucunya.
"Nenek benar-benar tidak tahu apapun tentang Kanaya. Aku saja yang melihatnya tadi sampai merinding. Bahkan dia menatap Gilang dengan tajam seolah punya dendam pribadi dengan Gilang." ujar Reyhan.
Nenek Rani tidak peduli, dia menghiraukan perkataan Mizuki dan Reyhan dan malah bergegas masuk ke apartemen Gilang. Tidak berselang lama, Rendy pun datang. Dia lalu meletakkan tasnya di tempat biasanya dan menarik selimut lalu berbaring.
"Aku harus tidur sebelum mendengarkan ocehan mama. Butuh energi banyak untuk bertahan." ucap Rendy yang memejamkan matanya.
Di luar kamar, Gilang sibuk mengetik. Dia baru saja mendapat surel jika anak perusahaannya sedang kacau. Secepatnya, Gilang harus pergi ke luar kota dan memperbaikinya. Tetapi, dia tidak mau meninggalkan Rendy dan Kanaya hanya berdua saja, takut jika ada orang yang ingin mencelakai keluarganya lagi.
"Bagaimana ini? Kalau aku tidak datang, masalah anak perusahaanku tidak akan selesai. Tetapi kalau pergi, Kanaya dan Rendy harus bagaimana?" ucap Gilang sambil berpikir keras.
Sementara di tempat lain, ada orang yang rupanya tahu masalah anak perusahaan Gilang di luar kota. Dia pun tersenyum-senyum karena mendapat kesempatan mengambil Rendy dari Gilang.
"Gilang akan pergi, dia tidak punya pilihan. Dan aku akan mengambil kesempatan ini untuk mendekati Rendy. Selamat Gilang tidak ada, aku puas memanfaatkan anaknya. Perusahan besar harus butuh anak genius seperti Rendy yang otak dan tingkah berpikirnya melebihi Gilang." ucapnya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Dirinya meraih gang telepon dan menghubungi seseorang. "Adik tersayang, kau akan dapatkan milikmu kembali. Cepat kembali ke rumah dan aku akan membantumu mengambilnya." ucapnya sebelum meletakkan kembali gang teleponnya.
"Dua orang sekaligus, Rendy dan Kanaya. Mereka harus bersiap menghadapi masalah terbesar dalam hidupnya. Siapa suruh berani melawan diriku, aku tidak akan tinggal diam." ucapnya lagi dengan wajah memerah dan mata melotot.