Andira & Axello. ( Dijodohkan )

Andira & Axello. ( Dijodohkan )
10. Pertemuan tak disengaja.


__ADS_3

Jam pulang sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dan kini Dira tengah berada diparkiran sekolah bersama Nayla dan juga Melody. Seperti yang mereka sepakati tadi saat di kantin. Jika pulang sekolah mereka memutuskan untuk ke mall.


"Jadikan?" Tanya Nayla sambil merangkul pundak Dira. Tapi Belum sempat Dira menjawab pertanyaan dari Nayla, Melody malah mendahuluinya. Takut-takut kalau Dira akan berubah pikiran.


"Jadilah... Ok kita let's go!" Ucap Melody semangat 45 menjawab pertanyaan dari Nayla.


Dira yang melihat tingkah keduanya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Akhirnya ketiganya pun memasuki mobil masing-masing dan meninggalkan area parkir sekolah.


"Guys, kita makan dulu atau shopping dulu?" Tanya Melody kepada Dira dan Nayla. Kini keduanya sudah sampai di pusat perbelanjaan.


"Makan dulu, deh. Gue laper?" jawab Nayla.


"Lo gimana, Dir?" Tanya Melody.


"Ngikut aja gue." Jawab Dira singkat.


"Makan apa dong kita?" Tanya Melody.


"Apa aja, asal jangan makan orang sama makan ati?" jawaban Dira dan Nayla kompak sambil tertawa.


Mendengar jawaban absurd dari Dira dan Nayla membuat Melody memutar matanya jengah.


"Udah ah, yuk! Ngambeknya di skip." Ajak Dira yang melihat kekesalan pada wajah Melody.


Mereka pun akhirnya berhenti di salah satu food court yang menjual makanan siap saji.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka pun bergegas untuk pergi ke outlet yang menyediakan berbagai macam keperluan ciwi-ciwi seusianya. Mulai dari baju, aksesories dan juga skincare.


Tanpa pikir panjang ketiganya pun langsung memasuki outlet dan hunting barang-barang yang mereka inginkan.


"Guys... Lucu, deh." Celetuk Dira sambil melihat-lihat anting di depannya.


"Apaan, Dir?" Tanya Nayla ingin tahu.


"Lihat deh, Nay, Mel!" Ucap Dira Sambil menunjukan anting yang lucu menurutnya.


"Eh... iya... Bagus loh antingnya." Jawab Melody sependapat dengan apa yang dikatakan Dira tadi.


"Kita beli ini yuk, pas nih ada 3 pasang. Bisa kembaran kita." Ucap Nayla semangat.


"Ok". Jawab Dira dan Melody kompak.


Selesai memilih aksesories kini mereka memilih untuk sekedar berkeliling di mall tersebut.

__ADS_1


"Eh... guys, Bentar, deh." Ucap Melody tiba-tiba menghentikan jalannya.


"Kenapa, Mel?" Tanya Nayla yang juga ikut menghentikan langkahnya.


"Gue mau ke toilet bentar." Jawab Melody sambil berjalan meninggalkan keduanya.


"Tungguin, Mel! gue juga mau ke toilet?" ucap Dira sambil berjalan mengikuti Melody.


"Yaaah... kok gue ditinggal, sih!" Protes Nayla pada Dira yang pergi begitu saja meninggalkannya.


"Kalau mau ikut, ayo!" Ajak Dira pada Nayla yang sudah tertinggal beberapa meter darinya. Dan,


Brukk...


Tiba-tiba Dira yang tidak terlalu memperhatikan jalannya pun tidak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang berjalan di depannya.


Memang tadi posisi Dira sedang berjalan mundur, karena sedang mengikuti Melody sambil bicara dengan Nayla.


"Maaf, Tante. Dira nggak sengaja. Tadi Dira gak lihat jalan." Ucap Dira meminta maaf sambil membantu wanita itu mengambil belanjaannya yang tercecer di lantai.


"Tidak apa-apa, nak. Tante tadi juga kurang hati-hati kok." Jawab wanita itu ramah. Karena memang wanita itu tadi sedang menelpon seseorang.


"Ini, Tante," Ucap Dira sopan sambil memberikan beberapa Paper bag tadi kepada wanita itu.


"Kalau begitu, Dira permisi Tante." Pamit Dira dan hendak meninggalkan wanita paruh baya yang sedang menatap wajahnya itu.


"Tunggu!" Ucap wanita yang di tabrak Dira tadi.


"Iya, Tante, ada apa ya?" Jawab Dira sambil berbalik menghadap ke arah wanita itu.


"Tante boleh tahu nama kamu, nak?" Tanya wanita paruh baya itu ramah.


"Nama saya Dira, Tante." Jawab Dira sopan.


"Dira? Andira betul? Anaknya Pras kan?" Tanya lagi wanita itu memastikan.


"I-iya, Tante. Kok Tante bisa tahu nama Dira dan papa Dira?" Tanya balik Dira penuh kebingungan. Wanita paruh baya itu tersenyum sambil mendekat kearah Dira.


"Jangan panggil Tante, panggil Bunda aja ya, sayang!" Ucap wanita paruh baya itu sambil mengusap lembut puncak kepala Dira dengan sayang.


"Bunda?" Ulang Dira bingung. Bingung? Tentu saja. Seumur hidup, Dira merasa baru pertama kali bertemu dengan ibu ini. Tapi tiba-tiba wanita ini meminta untuk memangilnya Bunda.


"Kamu pasti bingung kan, nak?" Tanya wanita itu sambil tersenyum. Melihat wajah Dira, jelas sangat terlihat ekspresi kebingungan yang Dira perlihatkan saat ini.


"...Jangan bingung begitu dong, sayang! Bunda ngerti kenapa kamu bingung..." Ucap wanita itu dan membisikkan sesuatu pada Dira,

__ADS_1


"...Bunda ini calon mertua kamu, nak. Kamu nanti akan menikah dengan anak Bunda." Lanjut wanita itu.


Wanita itu memelankan suaranya karena sadar Dira tak sendiri. Dan berharap teman Dira tidak ikut mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.


Deg,


Mendengar kata yang terlontar dari wanita didepannya ini, seketika membuat jantung Dira berdegup kencang. Apa tadi? Calon mertua? Menikah?


Oh... ayolah! sungguh Dira benar-benar belum siap untuk itu semua. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi keputusan dari kedua belah pihak. Tanpa terkecuali Dira yang ikut menyetujui keputusan Papanya itu.


"Sayang..." Panggil wanita itu yang tak lain adalah Bunda Resty. Dira tak menjawab, dia masih asyik bergelut dengan pikirannya sendiri, tentang perjodohan yang di atur Papanya.


"Dira..." Panggil Bunda Resty lagi. Masih belum ada jawaban dari Dira membuat tangan halus dari Bunda Resty memegang dahi Dira. Takut kalau Dira dalam keadaan tidak sehat hari ini.


"Kamu kenapa, sayang? Kamu sakit?" Ucap Bunda Resty khawatir.


Merasakan tangan lembut yang menyentuh dahinya, seketika membuat Dira tersadar dari lamunannya. Dira menatap wajah wanita paruh baya didepannya itu. Dira tersenyum canggung dan menggelengkan kepalanya.


"Dira baik-baik aja kok, Tante." Ucap Dira lirih.


"Kok Tante, sayang?" Tanya Bunda Resty sambil tersenyum. "Panggil Bunda, dong!" pinta wanita itu.


"Iya, Bunda." Jawab Dira pasrah sambil tersenyum paksa.


Mendengar jawaban dari Dira membuat senyum dari Bunda Resty mengembang. Ia tahu betul, Dira pasti belum siap untuk menikah.


Apa lagi di usianya yang masih sangat belia, dimana anak di usianya masih ingin untuk bebas bermain dengan teman sebayanya.


Tapi bunda Resty tahu, kelak suatu hari nanti Dira akan mengerti alasan orang tuanya menjodohkan dirinya.


"Ya sudah, Bunda pulang dulu ya, sayang. Bunda buru-buru." Ucap Bunda Resty sambil mencium kening Dira. "Jamu hati-hati, ya!" sambungnya.


Dira kembali terdiam karena perlakuan calon mertuanya itu. Bunda Resty berjalan meninggalkan Dira yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri sampai pada akhirnya sebuah pertanyaan menyadarkan Dira dari lamunannya.


"Dir? Lo kenapa?" Tanya Nayla yang kini sudah berada tepat di samping Dira. Tadi saat Dira berinteraksi dengan Bunda Resty, Nayla tidak melihat karena sedang menerima telepon dari Verrel.


"Gue gak apa-apa kok, gue ke toilet bentar ya?" Jawab Dira dan langsung melanjutkan langkahnya menuju toilet.


"Lah, dari tadi Lo belum ke toilet, Dir?" Tanya Nayla.


"Belum, Nay." Jawab Dira sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah, cepetan ya, Dir! Gue tunggu sini. Jangan lupa, susulin si Melody. Dari tadi juga belum keluar dia!" Ucap Nayla panjang lebar.


Tak menjawab, Dira hanya mengacungkan jempolnya dan berlari menuju toilet.

__ADS_1


__ADS_2